Negara anggota ASEAN termasuk Indonesia terus siaga akan berbagai kemungkinan yang terjadi atas implementasi perdagangan bebas antar anggota ASEAN dan satu anggota non-ASEAN, negara tirai bambu atau Cina. AFTA membentuk kawasan bebas perdagangan non tarif atau bea masuk maupun hilangnya hambatan non tarif bagi negara-negara anggota ASEAN.
Pada tahun 1992 AFTA sudah dibentuk oleh 6 negara yang menjadi anggota ASEAN (Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan Filipina). Keenam negara ini sepakat meresmikan AFTA dalam rentang 15 tahun dimulai dari Januari 1993 (diperkirakan dimulai 2008). Munculnya negara-negara lain dalam ASEAN menunjukkan negara-negara tersebut setuju dan ikut serta dalam kesepakatan AFTA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekhawatiran memang sudah tumbuh sejak awal kesepakatan ini dicanangkan dikarenakan tekanan dalam perdagangan dalam negeri semakin kuat dengan tingkat meningkatnya persaingan. Namun, bergabungnya Cina di tahun 2010 ini lebih dari ancaman bagi para pedagang, produsen, atau pengusaha lokal.
Munculnya Cina sebagai partisipan non anggota ASEAN untuk AFTA menjadi titik genting kewaspadaan masyarakat ASEAN. Tanpa AFTA pun para pelaku pasar sudah menghadapi banyak kompetitor yang kian maju inovasi dan kecerdasan dalam berbisnisnya. Ditambah dengan kehadiran Cina ketatnya persaingan tidak dapat diperkirakan.
Mendengar kebijakan AFTA - Cina saja banyak pihak yang sudah ketakutan. Pertentangan terkuat berasal dari para pengusaha kecil dan menengah sebagai pihak yang paling dirugikan dengan kesepakatan AFTA-Cina ini dikarenakan ukuran usaha mereka yang tergolong masih lemah membuat para pelaku pasar kecil dan menengah kurang siap menghadapi kompetisi di pasar bebas.
Pernah disampaikan oleh Menteri Perindustrian Mohammad S Hidayat bahwa beberapa sektor industri keberatan dengan tarif industri yang hilang menjadi 0 persen dari 5 persen. Hal ini menunjukkan kurangnya persiapan mereka untuk bersaing.
Kecemasan masyarakat memiliki landasan yang kuat. Pasar bebas yang akan dibanjiri oleh produk-produk Cina dalam pasar domestik Indonesia membuat produk-produk lokal harus bersaing dalam segi harga dan kualitas. Produk-produk Cina memiliki harga yang sangat murah untuk kualitas yang tinggi.
Ratusan industri kecil tekstil di Jawa Barat, misalnya, sedang mengalami sekarat dalam persaingan global yang diakibatkan serangan masuknya produk-produk luar negeri. Selain persaingan dalam harga jual kualitas dan desain dari produk hasil para pelaku industri kecil kalah.
Sejak akhir tahun 2009 cukup banyak industri yang memutuskan untuk menghentikan proses produksinya karena di pasar lokal pun produk mereka kurang laku. Sekarang beberapa pengusaha domestik masih bertahan karena mereka biasa memproduksi dengan tujuan ekspor dan cukup berani untuk bertarung di medan pasar bebas.
Melimpahnya produk Cina di pasar Indonesia sebelum AFTA - Cina 2010 ini diberlakukan bisa menjadi patokan betapa besarnya tambahan produk yang akan menjamur dari negeri bambu itu nanti. Cina terbukti masih mendominasi dibuktikan dengan jauh lebih banyaknya barang yang masuk ke Indonesia dibandingkan dengan ekspor Indonesia ke Cina.
Nilai ekspor Indonesia turun tetapi impor negara kita melunjak. Hal ini menjadi ancaman yang kuat bagi banyak kalangan masyarakat. Walaupun di satu sisi ancaman ini bisa menjadi challenge bagi entrepreneurs Indonesia untuk tetap berkarya, penuh inovasi, dan kreativitas dengan semangat bisnis yang tinggi.
Sebelum kembali pada kekhawatiran dan mempertimbangkan dampak negatif dari kebijakan perdagangan bebas ini sebaiknya kita bercermin terlebih dahulu. Cermin akan merefleksikan diri menunjukan kekuatan yang bisa dibanggakan dan kekurangan yang tidak perlu diumbar.
Negara ini perlu bercermin. Potensi yang ada di Indonesia tertutup oleh ketakutan akan bayang-bayang kelam Cina sebagai salah satu negara berkembang yang pertumbuhan ekonominya paling cepat (selain India). Sikap minder dan pesimistik akan kemampuan diri harus disingkirkan karena Indonesia memiliki keunggulan luar biasa yang bisa senantiasa kita tunjukkan sebagai misil dalam perdagangan bebas dengan negara-negara ASEAN, juga Cina.
Trading dalam pasar bebas akan mencapai titik keuntungan tertinggi apabila para pelaku trading memaksimalisasi potensi diri. Semestinya dengan pemberlakuan AFTA - Cina negara-negara anggotanya akan mengalami peningkatan drastis pada ekspor dan impor.
Perdagangan dengan basis sumber alam menjadi kekuatan Indonesia. Baik itu gas alam, batu bara, hingga sektor perkebunan aseperti karet dan kelapa sawit, yang suka disebut dengan rempah-rempah sejak sebelum kemerdekaan. Di luar komoditas itu pariwisata Indonesia memiliki nilai yang sangat tinggi dibanding negara-negara lain.
Keindahan dan kebudayaan negara kita sangat luar biasa menjadi faktor penyumbang devisa yang sangat besar. Terbukti, hal yang kita miliki dan tidak dimiliki orang lain harus dikelola dengan maksimal. Kekayaan alam yang melimpah yang tidak dimiliki Cina atau negara ASEAN lain. Bersyukurlah kita masyarakat Indonesia.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan dalam Rapat Kerja Gabungan VI DPR bahwa AFTA - Cina yang telah ditandatangani oleh pimpinan negara akan membuat penerimaan negara dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) impor naik hingga melebihi 100 triliun dikarenakan volume dan nilai impor yang terus meningkat. Sebanding dengan penurunan penerimaan bea masuk.
AFTA - Cina juga akan memiliki dampak positif dalam penerimaan laba Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Karena, BUMN akan memperoleh barang modal yang lebih murah dan dapat menjual produk ke Cina dengan tarif yang juga lebih rendah. Sumber daya alam negara ini terus menerus diimpor dalam kuantitas besar oleh Cina.
Di sisi lain Cina menguasai perdagangan barang-barang manufaktur yang pasokannya
dimanfaatkan oleh Indonesia. Bukan berarti masing-masing negara dibatasi apa saja yang harus diproduksi dan diperdagangkan. Namun, tiap negara memiliki batas kemampuan produksi dan trading atau perdagangan membuat negara mengonsumsi di luar batas kemampuan tersebut.
Inilah yang membuat comparative advantage penting dipertimbangkan dalam trading. Walaupun Indonesia memproduksi pula barang manufaktur, dari segi kualitas maupun
harga, bisa dibilang Cina tetap lebih unggul. Hal itu dikarenakan barang manufaktur merupakan comparative advantage negara Cina.
Comparative advantage Indonesia memang yang merupakan potensi dan kekayaan negeri kita. Sejak ditandatanganinya AFTA - Cina harus semakin disadari bahwa daya saing produk lokal Indonesia harus ditingkatkan agar lebih kompetitif dalam persaingan.
Pada dasarnya spesialisasi dan perdagangan memberi keuntungan yang akan lebih menyejahterakan masing-masing negara. Jika tiap negara mengikuti comparative advantage produksi akan jauh lebih efisien dan konsumsi masyarakat akan meningkat. AFTA-Cina sebagai bentuk dari pasar bebas sangat mendukung keadaan ini.
Seiring berjalannya waktu comparative advantage memang akan berputar. Namun, tiap negara harus menemukan apa yang menjadi potensi mereka. Dengan trading dipastikan seluruh pelaku pasar akan diharapkan meraih untung dan masyarakat akan lebih sejahtera dengan meningkatnya hasil produksi dari free trade.
Perdagangan internasional memang akan terus berlanjut dan menjadi suatu kebutuhan. Masyarakat Indonesia maupun internasional tidak perlu terus dalam suatu kegalauan karena dengan kemudahan komunikasi dan transportasi. Satu negara dipastikan saling tergantung dengan negara lain.
Sistem ekonomi dunia akan terus berkembang hingga suatu masa yang tidak kita ketahui. Strategi demi strategi harus disusun. Aliansi strategis dengan pengusaha asal Cina merupakan salah satu yang bisa mengatrol perkembangan ekonomi di Indonesia. Comparative advantage transfer dapat terjalin. Begitu juga transfer dalam hal teknologi. Status barang impor bisa berubah menjadi barang produksi nasional.
Segala hal bisa terjadi dengan ditetapkannya pasar bebas, dan segala sesuatu yang negara ini lakukan harus merupakan langkah yang membangun perekonomian negara.
Nikita Anindhya
Tanahmas VA No 44 Jakarta
kii.nikitaa@yahoo.com
0811106917
(msh/msh)











































