Hal tersebut dapat terjadi karena dipicu oleh besarnya aliran dana dari investor asing yang mengalir ke pasar modal Asia. Para investor cenderung memperbesar alokasi investasi mereka ke negara yang pemulihan ekonominya paling pesat pasca krisis ekonomi global.
Di kalangan negara-negara berkembang negara yang pertumbuhan ekonominya paling pesat adalah China (yang pertumbuhan ekonominya diperkirakan mencapai 10% pada 2010), India (7,5%), Indonesia (5,5%), dan Korea Selatan (4,8%). Dihitung dalam Dolar AS, setelah menguat 123,4% pada 2009 (penguatan terpesat di Asia), dan pada tahun 2010 ini indeks harga saham gabungan (IHSG) Indonesia terus menguat. Bahkan, sudah sempat menembus level 2.900.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemulihan yang sedang terjadi pada perekonomian Indonesia dan keadaan di Bursa Saham Indonesia (BEI) yang turut mengalami kenaikan yang amat signifikan merupakan kabar baik bagi masyarakat Indonesia. Namun, kenaikan ini menimbulkan spekulasi bahwa perekonomian Indonesia sedang mengalami bubble. Hal tersebut wajar terjadi karena kenaikan IHSG selama 2009 sudah melebihi 85% ditambah potensi kenaikan selama 2010.
Sikap overconfidence dari para investor diprediksi akan mewarnai transaksi saham di BEI terutama pada saham blue chips. Meningkatnya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia pantas terjadi karena di tengah-tengah kontraksi perekonomian dunia pada tahun 2009 perekonomian Indonesia masih dapat tumbuh dengan laju 4,5 persen. Selain itu pertumbuhan ekonomi tahun ini pun diperkirakan masih akan yang tertinggi di Asia Tenggara.
Namun, ada banyak pihak juga yang mengatakan kenaikan IHSG ke level yang tinggi ini (dan penguatan rupiah yang amat signifikan) merupakan pertanda yang tidak baik. Oleh sebab itu mereka mengatakan perekonomian Indonesia sedang mengalami bubble. Bubble artinya gelembung. Jadi gelembung akan naik ke permukaan terus dan dia pasti akan meletus.
Jadi bubble ekonomi itu sendiri berarti keadaan perekonomian yang sedang di puncak dan sangat rawan anjlok. Melihat kondisi saat ini sangatlah wajar bila sebagian besar pengamat politik mengatakan bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini sangat riskan dan berkemungkinan untuk anjlok dan mengakibatkan capital outflow dana panas yang dimiliki asing.
Menurut data historikal angka IHSG sebelum resesi global mencapai 2.800. Sedangkan saat resesi global (akhir 2008 atau awal 2009) angka IHSG anjlok hingga mencapai 1.100. Dan, sekarang IHSG dapat mencapai angka 2.900 (lebih tinggi dari sebelum resesi global). Melihat trend seperti ini maka pantaslah jika kita berwaspada kalau-kalau gelembung itu pecah.
Sebenarnya kita dapat mempertahankan agar gelembung ini tidak cepat meletus. Asalkan kita tidak hanya dapat membangun sektor finansial saja melainkan sektor rill juga maka kondisi perekonomian Indonesia akan semakin membaik. Tetapi, jika perbaikan yang ada selama ini hanya terjadi di sektor finansial saja, sedangkan sektor riil kita tidak bergerak, maka kenaikan IHSG tidak akan berkesinambungan.
Jika kita amati lebih dalam perbaikan perekonomian global tak hanya terjadi di sektor finansial. Sektor riil di Amerika Serikat misalnya sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang cukup berkesinambungan. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan mulai membaiknya penjualan ritel di sana.
Pemulihan kondisi perekonomian dunia yang nyata tentu saja akan berpengaruh terhadap naiknya permintaan akan produk-produk Indonesia di luar negeri. Ini terlihat dari angka ekspor kita yang terus membaik dalam beberapa bulan terakhir.
Membaiknya kinerja ekspor itu tentunya merupakan berita yang baik bagi sektor industri mengingat sebagian besar ekspor berasal dari sektor ini. Namun, pertumbuhan dari sektor perdagangan di Indonesia masih relatif rendah. Sehingga, kemungkinan laju pertumbuhan perekonomian Indonesia yang dapat mencapai angka 4,5 persen menjadi tidak mungkin jika sektor-sektor yang lain tidak tumbuh.
Sekarang masalah yang kita miliki adalah bagaimana cara menaikkan laju perekonomian Indonesia pada semua sektor sehingga kita dapat mencapai angka pertumbuhan yang kita harapkan dan memperbaiki perekonomian Indonesia. Seperti dikemukakan terdahulu angka IHSG Indonesia menguat dikarenakan banyaknya aliran dana dari investor asing yang masuk ke Indonesia.
Hal tersebut merupakan hal yang baik sekaligus riskan untuk perekonomian kita. Mengapa demikian? Itu disebabkan karena uang yang masuk dari investor asing tersebut bukan untuk jangka panjang. Jadi bisa saja sewaktu-waktu ditarik lagi ke negeri asalnya. Jika hal itu terjadi maka harga saham akan kembali anjlok dan dapat menyebabkan ketidakstabilan angka IHSG.
Untuk menstabilkan angka IHSG semestinya ada keseimbangan antara investor asing dan investor lokal. Karena, biasanya dana dari investor lokal lebih tidak terlalu dinamis pergerakannya. Oleh sebab itu yang harus kita cari seharusnya adalah investasi jangka panjang agar tidak mudah di-rush pada saat yang tidak diinginkan.
Sedangkan untuk sektor rill harus sangat diupayakan dan didukung oleh pemerintah. Di antaranya dengan menjamin kepastian hukum serta menyediakan infrastruktur yang baik dan memadai (sektor jalan, pelabuhan, listrik, air, dan lain-lain). Dengan melakukan hal tersebut dapat memangkas ekonomi biaya tinggi sehingga dapat mengurangi cost yang sebetulnya tidak diperlukan.
Selain itu pemerintah juga diharapkan dapat menurunkan interest untuk kredit (apalagi jika kredit tersebut digunakan untuk membangun sebuah usaha). Karena, dengan menurunkan interest kredit akan menstimulus masyarakat agar mau membangun sebuah usaha. Namun, dalam perjalanan untuk menurunkan interest pemerintah tidak bisa sembarang menurunkan interest.
Hal tersebut dikarenakan bila besaran interest rate terlalu rendah akan terlalu banyak orang yang meminjam uang. Tetapi, sebenarnya mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengembalikan pinjaman tersebut (bad debt). Seperti kasus Subprime Mortage di Amerika yang terjadi pada tahun 2007.
Hal lain yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah memberlakukan peraturan fiskal atau perpajakan yang kondusif serta menyiapkan iklim ketenagakerjaan yang kondusif
(peraturan ketenagakerjaan yang jelas, menyiapkan SDM yang baik dan berkualitas, dan lain-lain).
Jika sektor rill dapat berrjalan dengan baik maka angka pengangguran pun akan berkurang karena tenaga kerja terserap untuk mengerjakan proyek atau bekerja di industri-industri yang ada. Sehingga, pada saatnya pendapatan negara akan meningkat karena hasil dari pajak dan dengan demikian maka pertumbuhan ekonomi di Indonesia pun akan terus membaik.
Audria Adelia Prameswari (19008047)
School of Business and Management
Institut Teknologi Bandung
audriaprameswari@live.com
Referensi:
www.finance.yahoo.com
http://www.madani-ri.com/2010/01/11/2010-penguatan-rupiah-ihsg/
http://financeindonesia.org/content.php?63-Review-dan-Prospek-Pasar-Modal-2010
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/19/04322672/Perekonomian.Indonesia.Sedang.Bubble
(msh/msh)











































