Dari 2 persen tersebut bidang telekomunikasi (mobile dan fixed telecom) menyumbang sekitar 24 persen emisi CO2. Apabila emisi CO2 dari bidang telekomunikasi ini terus dibiarkan dan tidak ada upaya untuk menekan emisi CO2 tersebut maka yang terjadi emisi tersebut akan bertambah besar dan tentu nilainya akan lebih dari 24 persen.
Untuk bidang ICT, negara–negara berkembang seperti Indonesia, India, Afrika Selatan, Mesir, dan Brazil mempunyai pertumbuhan emisi CO2 yang sama dengan negara Cina. Nilai pertumbuhan emisinya lebih cepat dibanding negara–negara maju seperti negara–negara Amerika, Eropa, Rusia, dan negara–negara industri lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, kemajuan teknologi informasi diprediksi akan mampu mengurangi potensi emisi CO2 global di sektor yang lain sebesar 7,8 gigaton pada tahun 2020 nanti. Nilai ini ekuivalen dengan 15 persen dari total emisi CO2 saat sekarang.
Dari total emisi CO2 dari sektor ICT di tahun 2020 sebesar 1,5 gigaton ternyata penyumbang terbanyak sebesar 57 persen adalah dari sektor Personal Computer (PC), peripheral komputer, serta printer. Emisi dari printer pada tahun 2002 adalah sebesar 11 persen dari total emisi CO2 bidang ICT. Kemudian turun pada tahun 2007 sebesar 8 persen dan akan kembali ke angka 11 persen pada tahun 2020.
Sementara emisi dari sub sektor telekomunikasi tercatat sebesar 28 persen dari total emisi ICT pada tahun 2002 kemudian naik menjadi 37 persen pada tahun 2007 dan akan turun kembali menjadi 25 persen dari total emisi ICT pada tahun 2020. Angka 25 persen di tahun 2020 ekuivalen dengan 349 Megaton emisi CO2.
Penyumbang terbesar dari sektor telekomunikasi berasal dari sub sektor telekomunikasi seluler (mobile telecommunication) baik itu mobile-phone maupun mobile-network. Pada tahun 2002 emisi CO2 dari subsektor telekomunikasi seluler telah mencapai 66 Megaton (43 persen dari total emisi sektor telekomunikasi). Sementara fixed narrowband mencapai 64 Megaton (42 persen).
Prediksi pada tahun 2020 sektor telekomunikasi seluler akan mencapai 179 Megaton (51 persen) sedangkan fixed narrowband mencapai 70 Megaton (20 persen). Sebagian besar energi yang digunakan di sub sektor telekomunikasi seluler (mobile telecommunication) berasal dari site–site base station (BTS) yang sangat banyak tersebar.
Kebutuhan energi dari sebuah site base station paling besar berasal dari power amplifier (22 persen). Konsumsi energi base station teknologi WCDMA lebih kecil dibandikan dengan base station teknologi GSM.
Andrian Sulistyono
andrikoe96@yahoo.com
089684003065
(msh/msh)











































