Kalau dahulu kita mendengar skandal BLBI dengan angka fantastis 144,5 triliun Rupiah begitu tercengangnya dan berakibat kepanikan luar biasa bagi siapa saja penikmatnya. Namun, begitu angka tersebut yang notabene bukan hitungan sedikit sangat-sangatlah cukup untuk menggerakkan semua mesin sulap yang ada di negeri ini.
Menyulap keadaan hingga menjadi redup dan seperti tidak terjadi apa-apa. Hasilnya? Sudah tentu tidak menjadi harapan yang diimpikan oleh masyarakat yang tidak letih-letihnya menanti eksekusi hayalan.
Secara acak banyak kejadian atau rentetan yang tak jelas setelah itu. Artinya bukan mengekor dari satu maha skandal atau korupsi yang pernah terjadi. Karena, korupsi sifatnya datang dari diri sendiri, kelompok, serta kesempatan. Dalam perkembangannya korupsi saat ini sepertinya harus berkelompok dan memiliki kekuatan sebagai antisipasi jika semua yang terjadi terbongkar.
Dibandingkan BLBI Gate nilai Rupiah Century yang menguap jauh lebih kecil walau tetap hitungannya adalah triliun yaitu 6,7 triliun. Bukan nilai nominal yang menjadi permasalahannya. Korupsi tidak mengenal nilai nominal tetap saja namanya korupsi sekalipun 1 sen atau satu Rupiah.
Alasan yang terjadi ketika diadakan Bail out yaitu menyelamatkan ekonomi dan perbankan saat itu. Pertanyaannya apakah pada awalnya masyarakat tidak boleh mengetahui langkah-langkah seperti itu? Masyarakat di sini terlepas dari parlemen apakah sudah mengetahui? Tetapi, informasi yang transparan diketahui secara luas karena jelas-jelas uang yang digunakan milik masyarakat bukan Parlemen.
Boleh kita katakan kalau parlemen adalah representasi dari konstituennya. Tetapi, yang terjadi selama ini parlemen tidak terlepas dari unsur kepentingan dan tawar menawar. Sejenak kita reda dengan kata Century terhitung satu bulan yaitu rentang Februari Maret. Lantang suara parlemen tidak seimbang dengan hasilnya.
Sudahlah. Mungkin sudah seharusnya kasus yang berjenis atau di-cluster ke dalam extra ordinary crime mendapatkan tempat yang layak di muka negeri. Kalau saja mau berbesar hati dan muncul sifat malu terpatri kepada penikmat "Uang Panas".
Belum tuntas rasanya menikmati kepedihan yang mendera masyarakat kita. Maka dari itu masyarakat bersiap dengan menyisihkan sebagian perasaan untuk disakiti. Century saja belum tuntas. Perkembangan terbaru muncul dari bintang yang sedang berkilau yaitu Komjen Susno Duadji. Bahwa ada Markus yang akhirnya berujung menjadi mafia pajak. Luka yang masih menganga di negeri ini karena hujaman yang kemarin saja belum sembuh apalagi diperdalam hingga menjadi infeksi.
Masyarakat sebenarnya mengetahui apa yang terjadi di kehidupan sehari-hari yang dilakukan pamongnya. Mulai dari buka pintu rumah, dalam perjalanan, hingga tiba di tempat beraktivitas. Letih, kata yang sering diucapkan mau tidak mau.
Mendengar penerimaan pajak yang saat ini sudah mencapai Rp 209 triliun saja hati masyarakat di tengah kondisi yang carut marut terutama berkaitan dengan pajak menjadi sangsi. Penerimaan itu sebagian besar dari PPN dan PPh Badan seperti dikatakan oleh Dirjen Pajak M Tjipatardjo. Institusi ini harus selalu mengingat pesan yang dikirim oleh masyarakat dalam hal pembenahan internal dan tata kelola pajak.
Untuk sebagian masyarakat apriori bukan lagi haram dikarenakan geramnya atas yang terjadi. Dengan penerimaan pajak sebesar itu saat ini ada pertanyaan lagi dari sebagian masyarakat yaitu: apakah penerimaan itu sudah potong pajak dari mafia pajak? Kalau sudah pertanyaan berikut, berapa biaya potong untuk mafia pajak?
Teringat satu kota di Italia rasanya mendengar kata mafia di mana satu kelompok bersatu berlomba-lomba dalam kejahatan. Sudah Pasti harus kuat dan memiliki benteng pertahanan yang susah ditembus. Andaikan tertembus ada jalan lain yaitu menjadi bagian kelompok yang mengalahkan dengan cara menyerahkan hasil kerja kelompok atau berbagi.
Asyik rasanya membahas Gayus yang sudah dianggap tembus pertahanannya, diketahui memiliki rekening 28 miliar. Berikutnya menyusul figur Bahasyim Assifie mantan Kepala Kantor Pemeriksaan Ditjen Pajak Jakarta ini diketahui memilki rekening sebesar Rp 70 miliar.
Sungguh Ironis rasanya membahas nominal yang telah dimilki oleh kedua orang ini. Jika membandingkan angka Century sebesar 6,7 triliun yang sudah menyebar di kantong-kantong rekening yang hampir duduk santai sambil menunggu cemas apakah sudah dianggap tuntas melalui jalur politik?
Iskandar Ramli ST
Special Analyst Media Inside
Jl Cililin Raya No 7 Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
021-7244039
0838-92727390
(msh/msh)











































