Di akhir Maret ini Julia Perez dengan keyakinan tinggi mencalonkan diri untuk menjadi Bupati Pacitan. Gayung pun bersambut. Tak tanggung-tanggung. Perempuan kelahiran Jakarta 29 tahun lalu yang lebih dikenal sebagai bintang panas ini disokong deretan partai politik macam Partai Amanat Nasional, PKPB, PKPI, PBB, Partai Patriot, Gerindra, serta Hanura untuk maju dalam pilkada tanah kelahiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode 2010-2015.
Fenomena Politician-Celebrity yang di pemilu 2009 lalu marak dibicarakan kini kembali menuai kontroversi. Jangankan para pemikir. Bahkan, para tukang ojek dan kuli bangunan di tengah obrolan mengenai mahalnya harga sembako tahu bahwa ada yang tidak beres dalam kehidupan berpolitik di Indonesia.
Ada banyak hal yang melatarbelakangi parpol yang mencalonkan artis sebagai jago mereka pada pemilihan umum. Pragmatis dan frustasi? Mungkin saja.
Simaklah politikus sekaliber Agung Laksono yang gagal masuk Senayan. Di satu sisi Eko "Patrio", Tere, dan Komar duduk nyaman menjadi wakil rakyat. Fenomena di atas tentu menjadikan parpol lebih memilih membuat keputusan tidak popular tetapi meraup suara karena sang calon populis ketimbang mempertahankan idealisme dengan calon yang baik tetapi tidak terkenal.
Agaknya Parpol sudah lupa mengenai jati diri mereka. Yaitu sebagai sarana untuk memperjuangkan rakyat, dan tidak hanya sekadar mencari kekuasaan dengan memanfaatkan "keluguan" masyarakat akar rumput yang begitu mudah terpedaya. Apalagi untuk memahami definisi mereka sesungguhnya, yang menurut Sigmund Neumann adalah untuk mengatur keinginan dan aspirasi golongan-golongan dalam masyarakat.
Bisa jadi banyaknya contoh sukses artis yang menjelma menjadi politikus hebat menjadi salah satu inspirasi bagi artis dan parpol Indonesia untuk nimbrung memperebutkan tampuk kekuasaan. Sebut saja Ronald Reagan dan Sarah Palin. Sebelum menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat Reagan adalah selebriti yang membintangi film-film ternama era 1930 dan 40-an semisal Knute Rockne, All American, dan Kings Row.
Jalan Reagan sebelum mengalahkan Jimmy Carter dan menjadi Presiden ke-40 di negeri Paman Sam tidaklah singkat. Reagan sempat menanggalkan predikat keartisannya dan berjuang membela negaranya sebagai tentara.
Sarah Palin lain lagi. Pasangan John McCain yang dikalahkan Barack Obama pada pemilihan umum yang lalu dari Partai Republik adalah pemenang kontes ratu kecantikan Alaska pada 1984. Latar belakang itu pula yang membuat dia diserang habis-habisan oleh publik Amerika yang meragukan tingkat intelektualitasnya.
Pun begitu, Palin adalah sosok yang berjuang dari awal menuju panggung politiknya. Sebagai jurnalis di KTUU-TV (sebuah stasiun televisi lokal di Alaska), sempat menjadi chair person di Alaska Oil and Gas Conservation Commission hingga akhirnya mencapai puncak karirnya saat menjadi perempuan pertama yang terpilih sebagai Gubernur di Alaska.
Bukannya meragukan kapasitas Julia Perez yang punya prestasi sebagai nominator 100 perempuan paling seksi versi majalah FHM dan Maxim Prancis. Serta ketika dia "mempromosikan" safe-sex dan keluarga berencana lewat kondom gratis yang menjadi gift di albumnya yang bertajuk Kamasutra.
Atau pun kapabilitas para artis lain yang kini atau nanti akan terjun ke kancah politik dan hendak memimpin negeri ini. Jangankan mencontoh perjuangan duo politician-celebrity Amerika di atas. Melihat track-record atau pun back ground politik artis-artis Indonesia tersebut pun sudah cukup membuat kita mengatakan "tidak".
Sekarang, apakah Julia Perez dan yang lainnya mengetahui kisah Reagan dan Palin di atas? Apalagi untuk mengetahui harapan dan aspirasi penduduk miskin di Pacitan yang menurut data Biro Pusat Statistik Jawa Timur mencapai 110.236 jiwa (2008) atau 19,97 persen dari total penduduk. Saya tidak begitu yakin.
Kardhika Cipta Binangkit
Alumni Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada
(msh/msh)











































