facebook

facebook

- detikNews
Jumat, 02 Apr 2010 11:58 WIB
facebook
Jakarta - Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa Harvard yang dikenal usil menemukan sebuah metode untuk menjalin jaringan sosial antar temannya di Harvard College pada tahun 2004, yaitu facebook. Tanpa disangka sistem jejaring sosial dengan pemanfaatan teknologi ini berkembang secara pesat.

Bahkan, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama memanfaatkan kecerdasan teknologi ini untuk meraih simpati pendukungnya. Hasilnya pun luar biasa. Dia terpilih dan menang mutlak sebagai Presiden Negara Uwak Sam.

Fenomena ini telah menyatukan dan mengumpulkan dukungan dari sebagian besar teman-temannya yang sudah terpisah. Baik secara geografis dan perkumpulan sosialnya. Pertemanan yang sudah sekian lama terjalin tapi "terputus" karena perputaran waktu, geografis, keluarga, dan juga masalah ideologi ternyata bisa dipertemukan kembali melalui facebook.

Reuni pun tidak lagi dilakukan dengan memasang spanduk di pinggir jalan utama atau menampilkan slot iklan di media TV. Tapi, cukup dengan meng-update status dan mengundang rekan-rekan kita yang sudah lama tak bersua melalui facebook. Maka jalur pertemanan di dunia maya bisa dijalin kembali. Dalam hal ini, konsep Global Village-nya Marshall McLuhan ternyata berlaku mutlak.

Sungguh menarik memang. Seseorang bisa dengan sangat betahnya membina relasi dengan teman-temannya. Walaupun secara fisik tidak dalam kondisi yang berdekatan tetapi interaksi sosial tersebut begitu lancarnya dilakukan. Bahkan, melewati batas waktu dan tempat.

Seseorang yang sudah keranjingan facebook, tanpa mengenal waktu, bisa terus menerus update status-nya baik pagi, siang, maupun malam. Tentu hal ini tidak bisa dilakukan dalam kondisi normal ketika proses interaksi sosial baik yang dilakukan antar pribadi atau massal dibatasi dengan aktivitas pribadi sehari-hari yang membutuhkan konsentrasi tersendiri untuk mencapainya.

Tapi, melalui facebook, hal ini dapat dilakukan. Yang tak pernah bertemu dan berkenalan sebelumnya ternyata bisa menjadi sangat akrab dan seolah tak bisa dipisahkan. Karena, adanya persamaan persepsi, kebutuhan, hobi, dan level of communication yang sama. Communication is always intentional. Kalau ada tujuan dan kesamaan di atas maka proses pertemanan akan terus nyambung.

Tak hanya kawan. Ternyata lawan pun bisa di cari di facebook. Kasus penghinaan mengandung unsur sara yang dilakukan oleh penggemar sepak bola terhadap lawannya beberapa waktu lalu terbukti menyulut kemarahan di jejaring sosial ini. Tak hanya itu. Pertengkaran kecil yang terjadi di dunia maya ternyata bisa menyulut aksi penusukan terhadap lawan bicaranya di dunia nyata. walaupun hal ini terjadi di AS.

Gejala ini merupakan dampak negatif dari sebuah pertemanan semu. Share meaning yang terjadi hanya berdampak pada kekacauan mental semata. Seandainya dipahami secara sehat tentu indikasi kekerasan dunia maya seharusnya hanyalah menjadi aktualisasi semu juga. Kalau sampai terjadi hal-hal yang bersifat anarkis siapa lagi yang harus disalahkan. Pemerintah, orang tua, atau oknum yang melakukan kekerasan tersebut.

Hematnya, melakukan aktivitas pertemanan di situs jejaring sosial dibutuhkan kebijaksanaan tersendiri. Terutama untuk memahami setiap pesan-pesan yang mengalir dalam setiap kata. Toh, awalnya Mark Zuckerberg menemukan fasilitas ini kan hanya untuk melakukan pertemanan dan interaksi sosial. Bukan untuk ajang caci maki serta saling menyerang tanpa jelas juntrungannya.

facebook, bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Bisa merekatkan yang retak dan meretakkan yang rekat.

Heppi Nurfianto
Karyawan AIA Financial Lippo Karawaci


(msh/msh)


Berita Terkait