Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono Aman Dikawal PBNU

Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono Aman Dikawal PBNU

- detikNews
Rabu, 31 Mar 2010 18:25 WIB
Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono Aman Dikawal PBNU
Jakarta - Dengan terpilihnya Said Aqil maka "bandul" Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diprediksi akan lebih condong kepada kekuasaan dan cenderung mendukung Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dapat dipastikan Pemerintah SBY aman dengan terpilihnya Said Aqil. 
 
Jika Slamet Effendi Yusuf yang terpilih, selaku politisi Golkar yang terpilih memimpin NU, maka posisi Pemerintah SBY dipastikan akan terganggu dan kurang nyaman. Karena, bagaimana pun sosok Slamet Effendi Yusuf lebih dikenal sebagai sosok politisi ketimbang sosok ulama. 
 
Pimpinan PBNU sangat penting dan strategis. Maka terjadi "tarik ulur" dalam pemilihan Ketua Umum PBNU adalah hal yang wajar. Tarik ulur tersebut mengakibatkan pemilihan Ketua Umum PBNU sempat tertunda. Penundaan itu memuat kesan ada kepentingan penguasa di dalamnya yang melakukan intervensi dalam muktamar NU tersebut.
 
Sebelum Muktamar Makasar Said Aqil memang sempat bertemu dengan SBY di Cikeas. Namun, menurutnya pertemuannya dengan SBY tidak terkait dengan dukung-mendukung dalam Muktamar NU. Hanya untuk berdiskusi soal politik kebangsaan dan peran strategis NU ke depan pasca muktamar di Makassar. 
 
Said mengaku kenal SBY sudah sangat lama. Sejak SBY masih aktif di Mabes TNI. Said Aqil adalah tokoh yang paling diinginkan Presiden SBY untuk menjadi Ketua Umum PBNU. "Presiden mengharapkan saya menjadi Ketua Umum PBNU, tapi kalau intervensi tidak, karena Presiden tidak boleh intervensi," tegas Said Aqil.
 
Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok juga menegaskan dukungannya, "ya, itu suatu pilihan terbaik, dipilih secara demokratis, beretika, bagus". Ahmad Mubarok yang juga merupakan Guru besar Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, mengakui bahwa sebelum perhelatan Muktamar NU di Makassar digelar, dirinya mempertemukan Said Aqil Siraj dan Salahuddin Wahid dengan Presiden SBY di Cikeas Bogor. 
 
"Saya yang meminta Pak SBY untuk menemui Pak Said dan Gus Sholah. Karena kemungkinan besar hanya dua orang itu yang akan menang," katanya beralasan.
 
Ahmad Mubarok membantah bahwa pertemuan tersebut untuk mengkooptasi NU. Menurutnya, dari dulu politik NU itu adalah sejalan dengan kebijakan pemerintah. Jadi, pertemuan tersebut hanya untuk mengintensifkan komunikasi. "Itu agar komunikasi jadi lebih bagus. Tidak mengkritik pemerintah seperti Hasyim Muzadi," bebernya.
 
Said Aqil dan SBY sepakat bahwa NU bergandengan tangan dengan pemerintah dalam meningkatkan pendidikan dan ekonomi rakyat. Apalagi mayoritas rakyat Indonesia yang butuh peningkatan pendidikan dan kesejahteraan ekonomi itu adalah warga Nahdliyin.
 
Ketua Umum PBNU terpilih Said Aqil Siraj sudah mengatakan bahwa tidak akan tergoda dengan politik praktis. Namun, pernyataanyanya ini haruslah dibuktikan. Demikian dikatakan AS Hikam Bekas Menteri Riset dan Teknologi era pemerintahan Abdurrahman Wahid. 
 
Menurut AS Hikam setidaknya ada dua hal yang harus segera dibuktikan Said Aqil dalam waktu dekat. Bahwa dia tidak terlibat politik. 
 
Pertama, Said Aqil harus membentuk kabinet dari kalangan orang yang tidak terlibat dengan politik. Menurutnya ini bukan perkara mudah karena biasanya sering ada pengurus-pengurus titipan. Kedua, susunan progam tidak ada yang berbau politik praktis. Harus konsen pada dakwah, pendidikan, ekonomi, dan gerakan anti kekerasan.  
 
Kalau dua hal tersebut dilakukan barulah orang tidak bisa menduga-duga lagi bahwa Said Aqil punya hubungan dengan Presiden SBY. Sejauh ini pernyataan Said Aqil yang tidak tergoda politik praktis baru sebatas retorika semata. "Kita sudah belajar dari Gus Hayim (Hasym Muzadi) yang juga bilang begitu. Tapi, sama saja. Berpolitik juga," tandas AS Hikam.
 
Andrian
Pancoran Jakarta Selatan 
asus09@gmail.com
08968400365
 


(msh/msh)


Berita Terkait