Ujian Akhir yang Selalu Fenomenal

Ujian Akhir yang Selalu Fenomenal

- detikNews
Senin, 29 Mar 2010 07:23 WIB
Ujian Akhir yang Selalu Fenomenal
Jakarta - Kebijakan pemberlakuan Ujian Akhir Nasional (UAN) oleh pemerintah Indonesia sebagaiΒ  alat hasil belajar siswa ternyata terus menjadi hal yang bersifat kontroversial. Kebijakan pemberlakuan ujian akhir sejak dulu hingga saat ini cenderung mengundang masalah antara pro dan kontra.

Saya yakin pemerintah pasti memiliki segudang alasan kenapa mempertahankan UAN. Di sisi lain saya juga melihat jika pemerintah bertepuk sebelah tangan dengan kebijakannya yang terbukti dari respon masyarakat yang cenderung kontra. Nah, pertanyaan sederhananya adalah mengapa kebijakan ujian akhir seperti UAN itu selalu kontroversial.

Isu yang paling menarik untuk kebijakan terkini ini adalah dijadikannya UAN sebagai alat untuk mengeksekusi nasib siswa dengan predikat lulus dan tidak lulus. Menurut saya inilah biang keladinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Permasalahan nasib siswa sehingga aneka tindakan pun pasti akan dilakukan supaya bisa lulus. Di sisi lain hal ini bisa jadi disebabkan oleh paradigma berfikir yang menggangap ujian itu harus selalu lulus dan apabila gagal itu akhir dari segalanya. Hal ini memang kontra dengan teori evaluasi pembelajaran. Jika dalam suatu ujian predikat lulus atau tidak lulus itu hal biasa. Sudah seyogyanya hasil ujian itu menggambarkan kemampuan siswa. Ketakutan akan kegagalan inilah yang menjadi sumber permasalahan.

Lihat saja siswa yang akan menghadapi UAN. Bagaimana mereka menghabiskan waktu sehari-hari. Yang paling sering kita jumpai adalah mereka akan menghabiskan waktu untuk mengikuti bimbingan belajar baik di luar atau pun yang diselenggarakan oleh pihak sekolah yang kebanyakan berisi trik-trik lulus UAN. Bukan bagaimana belajar dengan sebenarnya.

Sungguh ironis perjalanan pendidikan di tanah air tercinta ini. Mengapa ini semua terjadi? Mengapa para guru dan sekolah tidak percaya dengan kemampuan mendidik anak-anaknya sehingga mereka harus memberikan pendidikan ekstra seperti bimbingan belajar. Adakah sesuatu yang salah di sana. Mengapa pembelajaran yang berlangsung semenjak anak belum menempuh UAN seolah tidak berdaya untuk menghadapi UAN ini. Kalau kita cermati akan muncul banyak pertanyaan dengan dasar mengapa dan mengapa.

UAN sudah sekian lama diberlakukan tetapi permasalahan yang sama terus terjadi dan terjadi. Seperti isu soal bocor, isu salah soal, budaya mencontek, reaksi siswa-siswa yang gagal, dan lain-lain.

Yang perlu digaris bawahi adalah mengapa siswa, orang tua, juga sekolah terkadang sampai melakukan tindakan yang menyimpang. Bisa jadi ini adalah reaksi nyata dari masyarakat yang harus diperhatikan oleh pemerintah.

Belum lagi aneka kegiatan yang diselenggarakan sekolah dan orang tua sebagai ikhtiar supaya siswanya lulus pun beraneka ragam baik yang bersifat rasional maupun tidak rasional yang menambah aura UAN terkesan semakin menakutkan.

Contoh menarik lainnya adalah soal-soal UAN pun harus dijaga polisi. Sungguh ironis. Apakah memang mental lembaga pendidikan sudah rusak. Apakah sekolah tidak bisa lagi dipercaya. Apakah guru sudah tidak bisa dipercaya lagi kejujurannya. Kalau lembaga pendidikan dan personelnya sudah tidak bisa dipercaya bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi dengan mutu pendidikan kita.

Pendidikan di negeri ini sudah tidak lagi murni. Pendidikan sudah tidak benar-benar mendidik. Kemampuan siswa hanya terepresentasi dari angka-angka semu yang diperoleh siswa. Kebijakan pemerintah yang diharapkan mendidik pun tidak bisa berfungsi sebagai media yang mendidik justru menimbulkan perilaku yang bertentangan dengan tujuan pendidikan.

Lihat kecurangan-kecurangan yang timbul akibat UAN yang ironisnya terjadi di lembaga pendidikan yang seharusnya mendidik dan dilakukan oleh stake holder pendidikan itu sendiri. Memang sudah saatnya untuk memikirkan kembali esensi dasar dari tujuan pendidikan dan menghindarkan munculnya korban-korban yang justru bertentangan dengan filosofi dasar tujuan pendidikan.

Salam pendidikan.

Nanang Bagus Subekti
PhD Student (Flinders University-Adelaide South Australia)
nanang_bs@yahoo.com



(msh/msh)


Berita Terkait