Hanya Susno dan Dalang yang Tahu

Hanya Susno dan Dalang yang Tahu

- detikNews
Jumat, 26 Mar 2010 18:27 WIB
Hanya Susno dan Dalang yang Tahu
Jakarta - Di dalam cerita Ramayana setidaknya ada tiga jenis karakter Satriyo. Satriyo pertama adalah Sri Rama itu sendiri. Karena, dia itu oposisi bagi Rahwana. Jadi tak ada kejutan apa pun di dunia pewayangan kala dia melepaskan sebuah pukulan untuk Sang Rahwana.

Satriyo kedua adalah adik Rahwana yang awalnya sempat menduduki sebagai tangan kanan Rahwana yang tepercaya berbalik menentang kakaknya. Dia adalah Gunawan Wibisana. Seorang raksasa yang arif, bijak, dan memiliki wawasan kenegaraan yang luas. Karena kearifannya dia pernah berposisi sebagai penasihat Rahwana yang tepercaya.

Alasan penentangannya tentu saja selain menganggap kakaknya sudah kelewatan karena mencuri bini orang, juga Rahwana sudah berubah bebal dan budeg dalam mendengarkan nasihatnya. Dengan hati kesal dia menyeberang ke pihak musuh dan memberikan masukan dan strategi jitu kepada pihak musuh untuk mengalahkan Rahwana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Satriyo ketiga adalah satriyo Pinilih dan Pinunggul. Sangat langka. Bahkan, di dunia wayang sekali pun. Dia adalah Kumbakarna. Selama hidup dia sering berselisih dengan Sang Kakak karena keduanya memang berbeda sifat dan perilakunya. Juga seperti Wibisana, dia adalah adik Rahwana.

Perbedaannya dengan Wibisana, Kumbakarna tidak sempat melejit karir politiknya karena sejak pertama telah memposisikan berseberangan dengan kakaknya. Wibisana mungkin sampai pernah menjadi birokrat atas dengan karir politik yang hebat di Kerajaan Alengka yang agung dan digdaya. Walaupun dia juga sakti dan dikatakan memiliki kesaktian nomor dua setelah Rahwana, Kumbakarna memilih menyingkir dan rela dipinggirkan oleh kakaknya.

Mestinya, jika ada tawaran untuk menghantam balik Rahwana, Kumbakarnalah yang pertama melakukan. Namun, justru sebaliknya. Ketika Rahwana datang meminta bantuan untuk menyelamatkan negara Kumbakarna merasa terpanggil dengan alasan bukan untuk menyetujui tindakan kakaknya. Tetapi, semata-mata "Bela Negara".

Cancut Tali Wondo, berdiri di garda depan berhadapan dengan Rama dan pasukannya. Satriyo seperti ini ibarat kata pepatah adalah "Ora Melu Mangan Nangkane, Gelem Gopak Pulute". Tidak ikut merasakan enaknya tetapi rela ikut menanggung risikonya.

Pertemuan dan dialog yang terjadi antara dua kakak-beradik yang sebenarnya sepaham tetapi dalam dua kubu yang berseberangan. Kumbakarna dan Wibisana, saat meletusnya peperangan, menjadi sebuah adegan teatrikal yang sangat inspiratif serta mengharukan. Sayang itu harus berakhir dengan gugurnya Kumbakarna.

Mengikuti sebuah perbincangan dengan Jenderal (Purn) Polisi Chairuddin Ismail di sebuah TV nasional saya jadi mengandai-andai Susno berkarakter Satriyo yang nomor berapa di atas? Pak Chairuddin ini dalah mantan Kapolri yang diangkat oleh Gus Dur di tengah ontran-ontran pada tahun 2000 lalu.

Jika dia adalah tokoh yang juga tersingkir karena arus besar keberpihakan politik saat itu mestinya memaklumi tindakan Susno. Tetapi, menurutnya Susno cukup membawa keresahan dan mungkin juga kejengkelan di sisi internal Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Dan, dia menyebut, Susno tidak etis dan tidak baik walaupun mungkin benar.

Sebelum berakhir drama Cicak melawan Buaya di panggung politik kita digelar, seorang Susno berperan sebagai apa? Seorang pejuangkah yang memilih jalur-jalur internal untuk meningkatkan kehormatan polisi atau dia juga bagian dari pihak yang sekarang dia serang? Apakah dia adalah tokoh yang dikenal sebagai seorang idealis polisi yang sangat jarang tetapi bisa "beruntung" melejit karirnya hingga berbintang tiga dan menduduki Kabareskrim di Mabes Polri?

Kalau benar cerita kesatriaan Susno hanya berawal dan tertoreh saat dia di-kotak-kan oleh Polri dari kedudukannya karena desakan publik dan arus besar keberpihakan politik sangat pantas jika semuanya menjadi bertanya-tanya. Apakah benar ada deal-deal yang dikhianati kemudian Susno baru bertindak mengkhianati Kapolri. Dan, kita lihat sendiri hingga sekarang, Susno masih status Jenderal dan digaji sebagai Polisi tetapi melakukan tindakan di luar kendali untuk menyerang Polisi.

Tetapi, menjadi pejuang yang terlahir dari dalam juga bukan sesuatu yang muskil. Namun, peran dan lelaku Susno juga harus konsisten sedari awal. Karena, sejarah sering bercerita. Seorang ksatria yang berhasil melakukan perbaikan adalah mereka yang menjadi bagian dan melakukannya dari dalam itu sendiri.

Mungkin itu sebabnya Hijrah adalah sebuah titik penting dalam perjuangan Nabi SAW. Kala Nabi SAW masih menjadi bagian dari Quraisy, seberat apa pun perjuangannya, Tuhan masih menyuruhnya bersabar. Namun, di sisi lain, sebagaimana Al Quran memperingatkan, jika Quraisy berani mengusir dan melakukan ancaman pembunuhan, yang merupakan sebuah demarkasi di mana Muhammad sudah dianggap bukan lagi dari bagian Quraisy, akan berlaku Sunnatullah sebagaimana umat-umat sebelumnya.

Ketika benar ancaman itu terjadi berlakulah Sunnatullah itu. Muhammad harus hijrah. Menerima ketentuan bahwa dia memang sudah tidak dianggap sebagai bagian dari kaumnya. Tidak lama kemudian legitimasi dari Tuhan turun untuk menghantam balik dan memberikan pertolongan kekuatan yang sebenarnya.

Ketika saya cerita tentang cerita wayang di atas, teman saya di samping langsung menyeletuk. "Lha, itu kan cerita wayang, Mas! Itu versi sampeyan! Cerita apa pun, apalagi kok wayang bisa dibawa oleh mood dalangnya. Sampeyan menganggap Kumbakarna itu pahlawan, Karna itu pengkhianat Pandhawa, karena sampeyan dalang juga di situ! Dalang lain bisa punya angin dan motivasi lain yang membawa cerita itu bisa dihembuskan ke arah mana pun sesuai dengan maunya."

Sebenarnya di wayang dalang tidak punya cerita. Dia mungkin tahu cerita pakemnya. Tetapi, karena dia penguasa panggung, dia bebas membawa cerita itu ke arah mana sesuai dengan kepentingannya. Dalam hal ini dalang mungkin hanya media. Walaupun cerita bukan miliknya, dan alur cerita tidak diubahnya, tetapi dari sound track, sabetan wayang, dialog, dan lelucon yang dibangunnya pasti bisa mempengaruhi cara pandang penonton terhadap cerita yang dibawa.

Untuk Susno, dan disadari betul ketajaman dan kesaktiannya, media punya peran penting. Apakah penonton tahu persis cerita sebenarnya? Tidak juga. Wong nyatanya, dalam waktu singkat Susno adalah musuh publik yang dibangun media, tetapi tiba-tiba menjadi pahlawan. Jika anda lihat perbincangan di televisi itu, sudah jelas sang "dalang" meminta penonton untuk berpendapat. "Tidak penting motif Susno, Susno harus dibela".

Penonton yang cerdas, mungkin adalah penonton yang mampu berpikir dewasa dan berpikir cerdas atau bahasa singkatnya bisa menjadi dalang "turunan" berikutnya yang lebih objektif dalam bercerita. Karena Media juga punya kepentingan bisnis. Kalau tidak bisa menghadirkan cerita yang fantastis tentu tidak mampu mengundang penonton berbondong menikmati gelarannya.

Saptadi Nurfarid
Villa Mutiara Gading C09/04 RT 01/01
Seia Asih Tarumajaya Bekasi
saptadi@yahoo.com
08551000727



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads