Air Harus Tetap Cukup dan Ada untuk Dunia yang Tua dan Sehat

Air Harus Tetap Cukup dan Ada untuk Dunia yang Tua dan Sehat

- detikNews
Jumat, 26 Mar 2010 07:51 WIB
Air Harus Tetap Cukup dan Ada untuk Dunia yang Tua dan Sehat
Jakarta - Tanggal 22 Maret setiap tahunnya diperingati oleh masyarakat dunia sebagai hari air. 'World Water Day'. Mengambil tema 'air bersih untuk dunia yang sehat'.

Pusat perayaan hari air sedunia tahun ini diselengarakan di Istanbul Turki yang gegap gempita dan semangatnya mungkin tak sampai ke negeri ini. Pesan yang disampaikan sebagai tema hari air sedunia ini sesungguhnya bermakna sangat dalam dengan konsekuensi besar.

Pesan yang berupa ajakan untuk sadar bahwa semakin hari dunia semakin terancam akan kekurangan air bersih. Pesan yang mengajak masyarakat dunia untuk berbuat secepat mungkin. Baik pemerintah dan masyarakat untuk tetap menjadikan air bersih sebagai hak yang harus tetap bisa diperoleh oleh setiap umat manusia dimuka bumi ini sebagai layaknya hak asasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam konteks keindonesiaan problem lingkungan adalah isu yang telah jamak dibicarakan orang. Air yang menurut jenisnya bisa dibagi menjadi air tawar (fresh water) dan air payau dan laut (brakish water/ sea water). Sementara air tawar sendiri dalam berbagai bentuk berupa gletser di puncak gunung/ kutub, air permukaan berupa sungai, danau, rawa (wetlands area), dan air bawah tanah. Kesemuanya ada dibentang alam yang berinteraksi dengan manusia.

Kegiatan rumah tangga, penebangan hutan, pertambangan, pembangunan, dan industri menyebabkan lingkungan berubah. Belum lagi hadirnya bahan polutan yang akhirnya mencemari air sehingga tidak lagi layak dikonsumsi. Kesemuanya menjadikan keseimbangan siklus air (hirology) terganggu dan akhirnya menjadikan kemampuan dunia untuk mensuplai air bersih bagi manusia semakin hari semakin berkurang.

Lalu kemudian common issues tentang degradasi lingkungan dan kelangkaan air bersih ini. Apakah telah membuat pemerintah dan masyarakat sadar. Kenyataannya belum. Sebagian besar kebijakan pemerintah mengenai isu-isu lingkungan dan air lebih berpihak kepada pemenuhan kebutuhan industri akan air. Bukan pada penyelamatan dan konservasi air itu sendiri.

Kebijakan pengelolaan masih egosektoral dan ego kewilayahan. Alih-alih ingin menerapkan one river one management untuk sungai-sungai besar seperti yang telah diaplikasikan di Eropa. Peraturan yang sudah baik seperti UU No 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (SDA) yang merupakan penerjemahan dari UUD 1945 pasal 33 ayat 3 bahwa air dikuasai negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat ternyata lemah dalam tataran aplikasi. Ini adalah problem struktural yang memerlukan dorongan politik untuk mendobraknya.

Peran civil society menjadi teramat vital dalam hal ini. Civil society dengan masyarakat luas, pers, dan mahasiswa di dalamnya yang memiliki kesadaran yang tinggi bahwa siapa pun bukan hanya manusia. Bahkan, seluruh makhluk hidup memiliki hak yang sama untuk mendapatkan air yang layak untuk hidup. Secara bahu-membahu menyadarkan diri dan lingkungannya agar tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan yang tidak mendukung konservasi air.

Sejalan dengan itu civil society juga bersama-sama mendorong pemerintah menelurkan kebijakan-kebijakan tentang konservasi air yang pro environment dan pro poor sekaligus mengawasi pelaksanaan kebijakan tersebut secara aktif. Kombinasi ketiga pendekatan inilah, lingkungan, sosial, dan politik tanpa dipisah-pisahkan niscaya akan mampu mewujudkan program konservasi air.

Di samping itu harus disadari bahwa ini adalah sebuah tantangan global. Masalah yang dihadapai hampir semua negara dan bangsa di dunia. Bahkan, dengan kompleksitas masalah yang semakin rumit. Isu-isu tentang global warming, energy crisis, food crisis, dan mungkin sebentar lagi clean water crisis. Semua masalah ini harus dihadapi dengan dada bidang oleh seluruh bangsa.

Ini bukan lagi isu lokal yang bisa dihadapi sendiri. Ini adalah isu global yang harus dihadapi secara bersama-sama.

Memang dunia kita sudah tua. Tetapi, bagaimana kita bersama-sama untuk merawat dunia ini tetap sehat di masa tuanya. Inilah pesan sesungguhnya yang ingin disampaikan melalui hari air sedunia. Bahwa air bersih harus tetap cukup dan ada untuk dunia yang sehat.

Triyono Basuki
Jl Kemuning Raya 11 RT 009 RW 006
Pejaten Timur Pasar Minggu Jakarta Selatan
mr_tyb@yahoo.com
08111751384

Penulis adalah Alumni Manajemen Sumber Daya Perairan, FPIK, IPB
Email: mr_tyb@yahoo.com.



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads