Kalau bisa dikatakan drama tanpa babak alias bebas jam tayang bisa muncul kapan saja. Namanya juga bebas tayang.
Adalah drama Century yang menyedot perhatian mata dan telinga bagi mayoritas masyarakat kita. Dari awal kita sepertinya dipaksa walaupun sudah menghindar karena diskusi atau bahasan itu ada di mana-mana. Ya, teringat lagu yang sedang naik daun dan diperdengarkan di mana-mana. Ketika masuk mal, pasar tradisional, di radio, di televisi lagu itu selalu terdengar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dimulai pada bulan November 2009 ketika polemik mengenai angket Century mulai diajukan melalui partisipasi partai dengan motornya PDIP. Rasanya seperti angin segar bagi masyarakat pada umumnya dan nasabah Century khususnya. Akhirnya secara visual kita dapat langsung mendengarkan dan memperhatikan apa yang sesungguhnya sedang terjadi.
Kejadian ini identik dengan anak yang berkumpul dalam ruang kelas dengan gaduhnya sehingga sang guru atau pun orang tua yang menunggu anaknya di luar kelas tak jelas mendengarkan apa yang dperbincangkan. Artinya substansi permasalahan dari Century pun kabur.
Masyarakat hanya jelas melihatnya sebagai argumentasi yang akhirnya melahirkan figur-figur seperti dalam sinetron. Hasilnya masyarakat menjadi berang karena terpancing dengan adanya personal yang berperan antagonis.
Simpati ketika ada yang vokal karena lantangnya menyuarakan kebenaran. Masyarakat sepertinya lupa kalau itu adalah bagian drama yang sesungguhnya sudah pernah dimainkan tetapi dengan judul yang berbeda.
Inilah apresiasi masyarakat yang tidak pernah bersikap apriori terhadap keadilan dan kebenaran. Harapan terus ditumbuhkan agar cita-cita luhur menuju masyarakat madani terwujudkan. Sungguh, hasil hari ini adalah untuk generasi berikutnya.
Kita tahu sepanjang perjalanan suatu drama seperti Century saja ada drama lain yang berjalan beriringan. Sebut saja terjadinya bargain atas hasil sukses yang dicapai oleh Pansus kepada yang memiliki kepentingan. Barter kasus yang sesungguhnya hal ini boleh disebut aktivitas tertua di dunia namun asyik dilakukan.
Untuk hal barter kita pernah mendengar jika uang bukan pilihan untuk memilki sesuatu maka bisa dilakukan pertukaran dengan media selain uang. Hingga pada akhirnya meskipun bukan akhir isu teroris mencuat dengan target penangkapan dan penembakan kepada teroris yang selama ini memang dicari.
Dengan terpaksa pandangan dan perhatian kembali bergeser beberapa derajat dari posisi pandangan sebelumnya. Betapa tidak. Terorisme bukan hanya menyita perhatian tetapi juga secara psikologi masyarakat kembali terusik.
Apakah di lingkungan kita sudah terbebas dari teroris. Isu terorisme memaksa kita memahami untuk melakukan apa yang semestinya harus dilakukan walau tanpa diminta. Di tengah masyarakat yang sudah menaikkan tingkat kewaspadaan terhadap teroris kembali kita mendapatkan lantunan lagu bak lagu tren yang mau tidak mau kita harus dengar.
Perang bintang terjadi. Yap, ini bukan perang bintang yang dahulu sempat dipropagandakan oleh negara adidaya baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet (saat ini Rusia). Ini terjadi di instansi yang paling kita harapkan dalam mencari keadilan dan kebenaran.
Isu markus (makelar kasus) tiba-tiba melesat dari internal Kepolisian Republik Indonesia. Bagai petir di siang bolong disertai angin kencang dikatakan oleh Komjen Susno Duadji markus berkeliaran di instansi yang kita harapkan ketika kita bermasalah.
Kembali angin segar untuk masyarakat yang merindukan kebenaran. Harapan yang benar tetap benar yang salah akan dihukum kembali tumbuh. Apalagi markus sudah sangat menggores hati sebagian besar masyarakat pencari keadilan. Belum usai drama yang sebelumnya sudah muncul drama baru dengan skenario yang lebih menarik.
Sebenarnya sekali lagi masyarakat kita bukan pelupa. Tetapi, lebih kepada apresiasi kebenaran. Kalaulah setiap drama ini selalu berhasil mempertunjukan pahlawan sebenarnya dengan alur cerita yang jelas karena disutradarai oleh sutradara yang bijak pastinya masyarakat kembali meminta tayangan ulang di waktu yang lain.
Sudah menjadi harapan bersama dalam permasalahan apa pun masyarakat memilki request yaitu happy ending dan sosok impian yang ditunggu-tunggu selama ini. Kalau seperti selama ini terus bukan tidak mungkin masyarakat semakin jelas bisa membedakan yang mana sungguhan dan pepesan kosong. Karena, semua drama yang pernah dimainkan tak pernah ada akhirnya.
Untuk yang umumnya hal ini adalah bentuk yang dinamakan sinetron. Kalau diistilahkan ke istilah yang modernnya adalah manajemen isu.
Iskandar Ramli, ST
Special Analyst
Media Inside
Jl. Cililin Raya No. 7
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
021-7244039, 083892727390
Iskandar@mediainside-corp.com
(msh/msh)











































