Mengindonesiakan Obama

Mengindonesiakan Obama

- detikNews
Sabtu, 20 Mar 2010 09:40 WIB
Mengindonesiakan Obama
Jakarta - Lalu Obama pun menjadi Presiden. Sebuah negeri adidaya yang kita kenal demikian berpengaruh dalam berbagai konstelasi politik ekonomi bahkan sosial dan Budaya. Setelah melalui inagurasinya untuk dilantik secara resmi maka lengkap sudah ia menjadi Presiden ke-44 Amerika Serikat.

Ini situasi yang menantang. Tentunya tidak saja bagi dunia. Bahkan, juga bagi Obama sendiri yang diwarisi problem ekonomi yang berdampak global. Dan, tentu Indonesia pula sedikit banyak terseret pada arus hilir setidaknya.

Sebagai negeri yang pernah "disinggahi" oleh Presiden ke-44 Amerika Serikat ini sepanjang sejarah fase kehidupannya Indonesia boleh berbangga. Sebab, di fase-fase menentukan perkembangan psikologisnya tersebut ia memberikan perhatiannya yang sangat besar. Boleh jadi ini tentu sedikit banyak akan berpengaruh pada perhatiannya bagi Indonesia

Tentang Mimpi dari Sang "Ayah"

Selain jika diturut mengikuti jejak sang ibu yang mengambil banyak studi tentang perkembangan Indonesia juga sampai satu titik --menurut Maya Soetoro (adik kandungnya satu ibu) ternyata Obama terakhir kali datang ke Indonesia adalah tahun 1991. Atau tatkala ia berumur 28 tahunan dan ia menyelesaikan sebuah buku Dream from My Father.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini menarik jika boleh berseloroh maka siapakah "Ayah" yang dimaksud. Ayah biologisnya atau ayah ideologisnya. Atau yang dimaksud sebagai "Ayah" di buku tersebut adalah simbol "mentor"-nya, pembimbingnya, atau arahan hidupnya. Tentu saja hal ini seutuhnya hanya diketahui oleh Obama sendiri.

Meski demikian lagi-lagi Indonesia boleh saja berbangga karena menurut Maya Soetoro sampai tahun itu pula dapat memahami masyarakat Indonesia secara lebih lengkap. Seperti yang ia ungkapkan sendiri pada adiknya tersebut. Di Indonesialah Obama Belajar seni memahami dan di bumi Nusantara ini pulalah ia belajar bernegosiasi dan berkawan dengan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Indonesia adalah tempat pertama ia mempelajari fleksibilitas. Lebih jauh lagi Indonesia adalah tempat pertama ia memahami kompleksitas dunia. Seperti yang dituturkan Maya Soetoro. Lalu apa artinya ini buat kita bangsa Indonesia.

Indonesia dengan keanekaragaman kekayaan dan yang dengan sedikitnya kekayaannya adalah keanekaragaman itu sendiri. Menurut pendapat saya mengajarkan antusiasme pada Obama bahwa dirinya adalah bagian dari keanekaragaman dan pemahaman keanekaragaman baik ke dalam diri Obama atau pun tentang pandangannya keluar memahami kompleksitas dunia tersebut.

Intinya Obama secara matang dapat mengelola dunia dengan multi perspektif. Dan, secara sangat kebetulan sekali di dalam diri Obama sendiri mengalir darah keanekaragaman tersebut. Ibu biologisnya An Dunham --wanita ras kulit putih sedangkan Ayah biologisnya adalah arsitek ekonomi dari Kenya. Tentu dengan ras negro.

Sedangkan ayah tiri yang menjadi pembimbingnya selama usia belasan dan dikenalnya hingga kemudian ia merampungkan buku tersebut adalah orang Indonesia. Berlatar suku Jawa namun mengenal dunia metropolitan karena bersekolah ke Amerika Serkat hingga akhirnya berjodoh dengan ibunya. Dan, membawa serta ia dalam pengasuhan.

Di Indonesia ia tinggal di Jakarta yang tentu saja pluralitasya tak bisa terabaikan untuk memperkaya nuansa pemikiran Obama. Dan, sesekali singgah ke tempat orang tua ayah tirinya di Yogya.

Mengindonesiakan Obama

Tidak seperti nama sebuah kota di Jepang sana yang memiliki kesamaan dengan nama Presiden Amerika Serikat ke-44 ini mengindonesiakan Obama lebih berarti kepada menginventarisasi segala sesuatu yang berhubungan dengan mantan "anak Menteng" tersebut. Dan, kemudian memposisikan serta memastikan kehadiran Obama menjadi bagian teramat penting dengan klaim yang pada akhirnya justru mampu "mendongkrak" Indonesia di mata dunia.

Inilah kali pertama Indonesia disebut demikian sebanyak-banyaknya berkait erat dengan Presiden Amerika Serikat yang fenomenal di Abad 21 ini. Seiring dengan popularitas Obama yang mendunia teramat sayang jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan. Menurut hemat saya inilah momentum emas. Golden moment yang rasanya keterlaluan jika harus hilang begitu saja.

Saya memiliki seorang sahabat bernama Stella Rissa. Seorang perancang muda berbakat yang talentanya membuat saya berdecak kagum. Dalam hitungan bulan saja ia sudah mulai mendunia bukan lagi sekedar menasional. Dan, terakhir saya kontak ia sedang berada di Bali untuk membangun pabriknya.

Belakangan saya tergelitik untuk mengajukan sebuah proposal pada dia untuk membuat merek STELLA RISSA-nya misalnya untuk captive jas, kemeja kaum Adam bernama STELLA "O" RISSA, sehingga dengan sedikit silabus redaksional dan alasan di sana-sini misalnya mungkin juga sedikit keluar dari pakem dunia fashion yang sudah mapan. Maka jadilah merek STELLA "O" RISSA.

Dibumbui dengan Aksen O di tengahnya mengikrarkan bahwa Stella Rissa harus mendunia dengan segala perbedaan dan keanekaragamannya tentu saja. Dan, modalitas keragaman adalah Indonesia sekali sehingga dengan mudah dunia mengasosiasikan dengan Indonesia.

Atau dalam konteks pendidikan Indonesia bisa menjadi Par of Excelency. Kita bisa saja membangun universitas bertaraf internasional dengan nama Obama misalnya dengan fokus pendidikan pada pembangunan sosial ekonomi yang membangun keberagaman dan teknologi yang menyelesaikan persoalan global kemanusiaan.

Untuk wisata mantan anak Menteng ini bisa didaulat menjadi nama sebuah kompleks wisata alam The Obama Jungle Park misalnya. Dan, ini bertaraf internasional sehingga pembukaannya dihadiri oleh Sasha and Malia, kedua puteri Obama, untuk mengingatkan mereka bahwa ayahnya pernah bermukim di Indonesia.

Dan, kepada dunia Internasional pesan yang kita sampaikan adalah jika puteri Presiden Amerika Serikat saja berlibur ke Indonesia, tentu saja dunia harus berlibur ke Indonesia. Bukan tidak mungkin Genting Island akan lewat begitu saja dan pariwisata akan mengalami booming. Inilah yang mesti kita lakukan agar Indonesia menjadi pilihan dunia untuk berlibur. Indonesia Exotica A place the world Can Rest.

Mengindonesiakan Obama tentu tidaklah semudah wacana dalam tulisan ini. Namun, setidaknya saya menghimbau untuk mengingatkan betapa kita berada dalam situasi yang sama menantangnya dengan tantangan Obama menggairahkan ekonomi Amerika. Bukan tidak mungkin bahkan sebuah progres adalah sama pastinya dengan kemajuan itu sendiri. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Memang tidak mudah namun teramat tidak pintar apabila kita tidak memanfaatkan. Indonesia adalah keberagaman dan Obama adalah aliran keberagaman baru dan ikon keberagaman baru dunia sehingga untuk saling melengkapi dan saling menghargai. Meski demikian tulisan ini terlepas dari apa pun kebijakan Obama nantinya. Namun, setidaknya Indonesia bisa mengambil keuntungan secara tunai dan meyakinkan bahwa kita Bisa. Ayo kita bisa. Yes we can!

Mohammad Hamdan
Senatormudabanten@yahoo.com
0818719069


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads