Mahasiswa adalah golongan yang paling terpelajar di antara golongan lain yang memiliki pandangan obyektif dan selalu menyuarakan kepentingan bersama. Tidak hanya kepentingan suatu kelompok tertentu. Kepentingan bersama itulah yang hendaknya dijadikan suatu tujuan akhir dan bukan kepentingan kelompok yang memprovokasi terjadinya arogansi demonstrasi.
Demonstrasi adalah salah satu bentuk aksi demokrasi dan definisi demokrasi sendiri adalah dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Hendaknya posisi demonstran di sini tidak merusak infrastruktur rakyat. Andai yang terjadi adalah hal yang berkebalikan dengan definisi demokrasi, seperti yang terjadi akhir-akhir ini, demonstrasi yang merusak fasilitas umum, yang membuat masyarakat gerah, tidak bisa dikatakan demonstrasi yang demokratis.
Rakyat pun memiliki kepentingan untuk mendapatkan kehidupan yang aman dan nyaman. Tidak ingin terganggu dengan arogansi mahasiswa yang berdemo mengatasnamakan kepentingan rakyat. Tetapi, malah merusak infrastruktur masyarakat.
Seluruh elemen mahasiswa hendaknya merefleksikan diri terhadap kasus yang terjadi di Makasar, dan memiliki keinginan serta kekuatan untuk mencerdaskan organisasi mahasiswa akan definisi demokrasi itu sendiri. Agar ketika demonstrasi berjalan tidak menimbulkan keresahan bagi masyarakat.
Secara tidak langsung mahasiswa membuat masyarakat untuk memiliki mosi tidak percaya terhadap kepedulian mahasiswa terhadap kondisi negara. Negara sedang dilanda kekacauan akibat kasus Century dan kasus korupsi-korupsi yang melanda. Tetapi, mahasiswa melakukan tindakan anarkis yang sangat kontradiksi dengan fungsi mahasiswa sebagai iron stock, agent of change, dan guardian of value.
Nur Muhammad Malikul Adil
Kampus Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganesha Nomor 10 Bandung
adil_mesin_itb07@yahoo.co.id
085295664843
Penulis adalah Mahasiswa ITB yang menjabat sebagai Senator ITB.
(msh/msh)











































