Refleksi Pansus Bank Century

Refleksi Pansus Bank Century

- detikNews
Kamis, 11 Mar 2010 08:36 WIB
Refleksi Pansus Bank Century
Jakarta - John Nash adalah peraih Nobel ekonomi tahun 1994 berkat keahliannya dalam bidang game theory (teori permainan). Ia menjadi familiar karena autobiografinya menjadi film layar lebar yang memperoleh penghargaan Oscar, Beuatiful Mind.

John Nash telah memberikan pembuktian secara matematis dalam bentuk aksioma dan kombinasi peluang keterjadian. Hal ini banyak menjadi referensi berbagai kasus dunia. Apa sebenarnya yang menarik dari teori permainan ini.

Ada ilustrasi tentang hal ini (Dixit, Game of Strategy, 2009). Ada dua orang tersangka diinterogasi secara terpisah dan diminta mengaku. Salah satu dari mereka A, diberitahu, "jika tersangka lain, B, tidak mengaku maka anda akan beruntung dengan memberikan pengakuan. Tetapi jika B mengaku, maka Anda juga harus mengaku; jika tidak, pengadilan akan sangat memberatkan Anda. Jadi Anda seharusnya mengaku, tidak peduli apa yang dilakukan orang lain". B diminta untuk mengaku, dengan menggunakan alasan serupa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dihadapkan pada pilihan ini baik A maupun B mengaku. Tetapi, sebenarnya akan lebih baik bagi keduanya bila tidak ada satu pun yang mengaku karena polisi tidak mempunyai bukti yang benar-benar meyakinkan terhadap mereka.

Lalu apa yang menarik dari ilustrasi itu. Kalau kita hubungkan ilustrasi itu dengan kejadian-kejadian paling hangat abad ini di Indonesia tentu kita bisa melihat ada korelasi yang linier. Kasus Bank Century adalah representasi model teori permainan yang paling tepat saat ini. Kenapa?

Ilustrasi di atas menggambarkan hal yang sama dengan kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh Pansus Century untuk membongkar siapa dalang dari kasus dana bail out yang salah sasaran ini.

Teka-teki siapa yang bertangggun jawab dan pada akhirnya siapa yang harus dijadikan tersangka menjadi fokus dari pansus. Hal ini ternyata tidak mudah karena harus menanyakan kepada semua pihak yang ada peluang keikutsertaan atau keterlibatannya.

Pola kerja Pansus sangat sesuai dengan pola teori permainan. Di mana, pansus berusaha mengorek informasi dari berbagai pihak yang diundang dalam rapat pansusnya sehingga pada akhirnya bisa menyusun, merangkai, merangkum, dan meyimpulkan informasi itu menjadi suatu fakta yang dapat dipercaya siapa dalang dari kasus ini. Selanjutnya siapa yang menjadi tersangka.

Lalu, kenapa hal ini menjadi tidak mudah. Karena, pansus harus mampu memilah, memilih, dan menghubungkan mana informasi yang benar dan relevan. Hal ini menjadi krusial karena pansus sendiri tentunya tidak mampu memastikan apakah semua orang yang diundang untuk dimintai keterangan akan berkata benar.

Pansus juga tidak bisa menjamin bahwa setiap orang itu akan bebas dari intervensi karena bisa saja mereka membuat suatu rangkaian informasi yang sama, kelihatan benar, dan jujur. Padahal mereka sedang menutupi suatu fakta yang mengerikan. Deal-deal-an inilah yang seharusnya diantisipasi oleh pansus.

Pertanyaan sekarang apakah mekanisme penayangan secara terbuka di media massa menjadi keuntungan bagi pihak-pihak tententu untuk menyamakan jawaban sekaligus mempersiapkan diri. Tentu saja begitu.

Ada beberapa kelemahan dari metode pansus yang ditayangkan secara terbuka itu di antaranya para pihak-pihak yang akan dipanggil bisa mengetahui pola pertanyaan yang akan disampaikan oleh pansus sehingga mereka bisa mempersiapkan diri dari hujaman pertanyaan yang menekan itu. Selanjutnya mereka juga bisa menyamakan jawaban dan berusaha untuk saling menguatkan.

Ini merupakan usaha untuk mengaburkan fakta yang ada. Hal ini menjadi logis karena, jika mereka mengaku, maka banyak pihak yang akan terbuka aibnya. Oleh karena "untuk kepentingan bersama" sebaiknya tidak mengaku dan selesai.

Namun, karena permintaan masyarakat yang besar akan transparasi informasi agar nantinya tidak terjadi deal-deal-an politik, maka masyarakat berhak untuk ikut mengamati dan memberi penilaian. Sekaligus secara tidak langsung, para pejabat yang dipanggil akan mengalami tekanan psikologis karena disaksikan oleh jutaan orang.

Analisis teori permainan memberikan semacam teknik dan petunjuk bagaimana mengungkap dalang dari semua kasus Century ini melalui alur logika dari informasi. Bagi pakar teori permainan tentu mampu mendesain teknik agar dari sekian banyak orang dengan sekian banyak informasi bisa menemukan dan menggai fakta.

Melalui pemahaman akan teori permainan ini pansus juga bisa membuat pertanyaan yang memecahkan skenario kebohongan. Ilustrasinya seperti seorang bapak yang bertanya pada dua orang anaknya yang terlambat pulang karena alasan ban mobil temannya pecah dan semalam harus mendorong mobil dan akhirnya telat. Padahal dua anak ini berpesta semalam dan ketiduran. Si ayah menanyakan, ban mobil mana yang pecah. Pertanyaan ini bisa mengungkap kebohongan mereka.

Meskipun teori permainan tidak memberi jawaban yang mutlak terhadap suatu kasus tapi dengan teori permainan kita bisa mencari celah dan mengecoh lawan dengan pertanyaan yang cerdas sehingga terungkaplah fakta di balik tabir kelam kasus Bank Century.

Arif Irvan
Mahasiswa S1, Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran 2007,
Mahasiswa Peneliti Akuntansi dan Ekonomi Syariah FE Universitas Padjadjaran,
http://arvan8.dagdigdug.com.



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads