Demo Pilihan Demokrasi Primitif

Demo Pilihan Demokrasi Primitif

- detikNews
Senin, 08 Mar 2010 18:12 WIB
Demo Pilihan Demokrasi Primitif
Jakarta - Saya berharap tidak ada yang marah dengan judul tulisan ini. Kalau pun ada yang tidak setuju silahkan yakinkan saya untuk mengubah judul tulisan tersebut. 
 
Salah satu alasan mengapa demo saya sebut demokrasi primitif karena itu adalah kumpulan orang yang mudah terperangkap dalam amuk-massa. Mungkin tidak oleh pengusung demo. Tetapi, orang lain yang menumpangi. 
 
Dalam kondisi seperti itu histeria dan amuk-massa sangat rentan menjalari gerakan demo. Apalagi jika demo itu tidak resisten terhadap trigger agitasi yang ditanamkan pihak tertentu. 
 
Dalam hal ini tidak ada demo yang steril terhadap infiltrasi. Sehingga, jika terjadi agitasi pengusung demo tetap tidak bisa lepas tangan. 
 
Sejauh ini Indonesia bukanlah tempat ideal untuk demo damai. Dari semua demo yang tercatat dalam sejarah indonesia sebagian besar berujung rusuh. Beberapa di antaranya malah merusak fasilitas publik, swasta, dan bahkan memberi dampak negatif pada pergerakan roda ekonomi. Tidak sedikit sentra-sentra ekonomi menjadi ambruk akibat amuk-massa yang tidak terkontrol.
 
Pada masa digital-age seperti sekarang banyak cara untuk mengekspresikan kebebasan berpendapat secara lebih cerdas, aman, dan efektif. Publik bisa menggunakan facebook, twitter, milis, talks-show, atau social-media lainnya dan memanfaatkan mainstream media yang ada. 
 
Instrumen-instrumen teknologi digital ini terbukti bisa menggerakkan publik lebih efisien dalam mendorong penyelesaian kasus-kasus seperti Prita vs Rumah Sakit Omni, Cicak vs Buaya, atau kekisruhan deligitimasi KPK. 
 
Dilihat dari sisi psikologi massa kapitalisasi histeria publik --baik karena adanya sense of crowdness dan perasaan adanya target bersama yang harus dicapai secara instant, sangat mungkin menimbulkan public disorder. 
 
Harus dicatat bahwa sifat crowdness massa yang sangat cair membuat demo tidak mau teratur (won't behave) serta menjadikan demo tidak mudah menerima limits. Seperti ungkapan banyak psikolog, there is no wisdom to the mob. 
 
Protes dalam keramaian di jalan-jalan, gedung-gedung, atau pun public-sphere lainnya bisa berkembang menjadi fasisme. Di satu sisi, kecenderungan itu dapat menjadi refleksi collective conscience of democracy. Tetapi, di sisi lain, psikologi massa seperti itu memiliki karakter rebellion yang selalu "menghendaki darah". 
 
Dalam bahasa psikiater Wilhelm Reich, "crowds want blood, not memos". Itu kenapa saya menyebut demo adalah pilihan primitif dalam berdemokrasi.
 
Muhammad Takdir
Hutweidengasse 46/1/16 Wina Austria
muh_takdir@yahoo.co.id
+43 676 974 7523
 
Penulis adalah analis politik internasional. 


(msh/msh)


Berita Terkait