Atau pabila kita membuka lembaran sejarah cobalah kita ingat bagaimana bangsa ini bisa bersatu kalau tidak karena persatuan. Bung Tomo berkata dalam orasinya di Surabaya mengajak pemuda-pemudi dari semua kalangan di seantero tanah air Indonesia untuk mengusir penjajah sampai akhirnya negara ini bisa merdeka.
"Luar Biasa". Kata pertama yang terucap ketika melihat alam raya beserta isinya. Bentangan keindahan alam ini terbentang dari poros Bumi yang tiada berujung. Di dalamnya terdapat beragam makhluk hidup bukti keagungan Ilahi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesempurnaan alam ini rupanya tidak dibarengi oleh kerukunan oleh manusia sebagai penghuni planet ini. Bahkan, sesama manusia itu saling mencibir, saling menghasut,
saling menindas, dan saling membunuh satu dengan yang lainnya. "Homo Homini Lupus". Satu ungkapan yang diaktakan oleh Thomas Hobbes menggambarkan betapa serigalanya manusia terhadapa manusia lainnya karena kepentingan yang mereka ke depankan.
Hal ini pun bukanlah hal yang baru karena konon anak Adam pun sudah saling bunuh membunuh antara Hobil dan Kobil. Jangan kita jauh melihat masa lalu karena saat ini negeri tercinta ini masih ada yang namanya egoisentris yang melahirkan benih-benih
keretakan. Atau bisa sampai pada titik perpecahan dalam suatu kelompok ke daerah sampai meluas ke negara.
Perbedaan akan suku, ras, warna kulit, agama, dan golongan bukankah hal yang biasa dan sudah seyogyanya ada dalam kehidupan manusia. Tapi, perihnya perbedaan itulah yang acapkali dikedepankan sehingga menimbulkan perpecahan, dan yang lebih parahnya lagi peperangan yang menghasilkan kematian.
Manusia membangga-banggakan dari mana asal suku mereka, ras mereka, warna kulit mereka, juga merasa bahwa agama merekalah yang benar. Padahal bukankah akan terasa tidak indah apabila di dunia ini hanya ada satu ras, satu golongan, suku, warna kulit, dan agama. Karena, tidak ada satu paksaan dalam memeluk agama.
Indonesia sebagai negeri yang besar negeri yang terbentang dari Sabang sampai Merauke semestinya ini memberi pelajaran bertemakan "cinta tanah air". Bukankah hal tersebut sebagian dari iman itu kepercayaan yang sampai saat ini semestinya dipegang teguh. Terenyuh, ketika hanya karena satu perbedaan kepentingan negara ini harus terbelah. Aceh merdeka, Poso, Papua!
Apakah kita lupa betapa berat perjuangan untuk menyatukan pulau-pulau ini menjadi Indonesia satu. Apakah kita sudah lupa janji patih Gadjah Mada yang ingin mempersatukan Indonesia tercinta ini. Atau kita lebih kenal dengan Sumpah Palapanya.
Soekarno pun menyebutkan "entah kapal apa yang bisa memerdekan bangsa ini, entah dari mana kemerdekaan itu muncul tapi yang jelas yang mengantarkan kemerdekaan Indonesia itu adalah kapal persatuanlah adanya". Mari kita ingat-ingat kembali perjuangan pemuda-pemudi Sumatera, Borneo, Wong Jawa, Arek Surabaya, Jajaka Sunda, dan pemuda-pemudi seantero Indonesia ini.
Tulisan ini bukan berarti menyuruh mengubah yang Jawa jadi Sunda atau Sumatera jadi Borneo. Akan tetapi bagaimana tenggang rasa antar umat itu dijaga atas nama persatuan. Tulisan ini adalah satu rangkaian kata-kata biasa. Tapi, buatlah ini menjadi sesuatu yang luar biasa dengan berpedoman pada "BHINEKA TUNGGAL IKA" kebersatuan dalam perbedaan.
Jangan kau jauh mengubah dunia ini sebelum kau mengubah Bangsa ini. Jangan kau jauh mengubah bangsa ini sebelum kau bisa menjaga persatuan antar kelompok terdekatmu. Namun, tantangan awal adalah berawal dari diri sendiri. Salam Kehangatan.
Asep Nurhakim
Jl Tubagus Ismail No 62 A Bandung
asepn_32@yahoo.com
085624631259
(msh/msh)











































