Memang Benar PNPM Mandiri Sebuah Community Development

Memang Benar PNPM Mandiri Sebuah Community Development

- detikNews
Jumat, 12 Feb 2010 07:38 WIB
Memang Benar PNPM Mandiri Sebuah Community Development
Jakarta - Mengutip dari apa yang disampaikan oleh Saudara Ridwansyah Yusuf Achmad pada Opini di Detik.com Tanggal 11 Februari 2010 dengan Judul PNPM Mandiri Sebuah Community Development tertulis:

"Sisi inilah yang belum tersentuh oleh PNPM Mandiri karena sejatinya pembangunan fisik hanya akan jadi rongsokan belaka jika tidak diimbangkan dengan pembangunan ekonomi-sosial. Selain itu, proses focus group discussion (FGD) pun perlu diperhatikan prosesnya dengan seksama. Harapan besar di dalam FGD tersebut benar-benar masyarakat menyumbangkan pemikirannya dan pemimpin masyarakat memutuskan program apa yang akan diajukan ke pemerintah dengan berdasar aspirasi dan diskusi masyarakat.

Di sinilah baru proses bottom up planning dan participatory planning dapat terjadi sehingga terwujudlah community development. Dimulai dari keresahan dan permasalahan, dilanjutkan dengan focus group discussion, lalu dimaktubkan dalam pengajuan sebuah proposal pembangunan berbasis kearifan lokal kepada pemerintah, dan pada akhirnya pemerintah mendanai dan memonitor proses pembangunan hingga tuntas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika hal ini bisa diwujudkan tentunya masyarakat tidak hanya akan terbantu secara pembangunan fisik. Akan tetapi pembangunan sosial dan budaya pun dapat terwujud."

Sebagai pelaku PNPM Mandiri yang selama tiga tahun bertugas di Papua Barat saya ingin menanyakan apakah dasar yang dibuat oleh Saudara Ridwansyah tersebut? Apakah Saudara Ridwansyah sudah benar-benar memahami proses dan tahapan yang ada di PNPM Mandiri sehingga bisa sampai pada kesimpulan demikian.

Sebagai informasi saja, bahwa (di Papua Barat) apa yang dimaksud Sdr Ridwansyah dengan Focus Group Discussion benar-benar dilakukan dengan seksama. Sampai ke tingkat dusun-dusun dan bahkan kelompok-kelompok dalam masyarakat. Masyarakat dibimbing untuk mengetahui apa sih sebenarnya permasalahan yang ada di lingkungan mereka.

Tentu saja mereka diajak untuk mengenali permasalahan tersebut tidak hanya dari segi fisik. Tapi, juga ekonomi-sosial, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Khusus untuk kondisi di Papua Barat, proses yang ada juga benar-benar disesuaikan dengan kondisi sosial budaya yang ada. Walhasil dengan kondisi yang ada proses proses bottom up planning dan participatory planning di Papua Barat (di sana dikenal dengan proses Perencanaan Bersama Masyarakat-PBM) dapat berlangsung sampai 3 bulan.

Selain pembangunan fisik, PNPM Mandiri di Papua Barat juga terdapat kegiatan ekonomi. Seperti simpan-pinjam untuk usaha kecil, pelatihan pertanian, jahit menjahit, dan kegiatan-kegiatan lain yang diharapkan dapat meningkatkan kesajahteraan ekonomi dan kapasitas masyarakat itu sendiri.

Bahkan, di kepulauan di Kabupaten Raja Ampat, masyarakat berhasil mengusulkan untuk mengadakan kapal sebagai sarana transportasi anak-anak di pulau-pulau menuju sekolah masing-masing. Biaya solarnya ditanggung bersama-sama oleh masyarakat. Apa tidak hebat.

Jadi, saya tidak tahu apakah kesimpulan yang saudara Ridwansyah ambil didasarkan sampel dari lokasi PNPM tertentu atau bagaimana. Tapi, apa yang ditulis oleh Saudara Ridwansyah nyata-nyata tidak terjadi di Papua Barat. Suatu lokasi di daerah Timur Indonesia yang benar-benar menerima manfaat dari PNPM Mandiri.

Faisal
Mantan Spesialis MIS PNPM Mandiri Perdesaan Provinsi Papua Barat 2006-2009.


 

Foto: Salah satu kegiatan PNPM di Papua.

(msh/msh)


Berita Terkait