Matinya Semangat Altruisme di Tingkat Elit

Matinya Semangat Altruisme di Tingkat Elit

- detikNews
Selasa, 02 Feb 2010 18:03 WIB
Matinya Semangat Altruisme di Tingkat Elit
Jakarta - Altruisme di Tengah Emosi

Darah tak lagi memerah
Namun hitam bersama tanah
Dan serakan tulang belulang
Mendung menutup kota
Pohon-pohon terus terpukau
Keadilan di tanah ini telah lama runtuh
Tercabik dalam bendera usang yang rapuh ...
[antologi embun bening]

Hari-hari ini emosi kolektif kita sebagai sebuah bangsa sedang bergemuruh. Betapa tidak. Potret gerakan sosial moral tumbuh bagai cendawan dimusim hujan pada setiap ruang dan strata sosial masyarakat.

Tumbuh dan menguatnya gerakan sosial moral bukan lagi hanya berada pada ruang-ruang organisasi gerakan mahasiswa, aktivis LSM, tapi sudah menyebar ke ruang-ruang keluarga, masyarakat kecil yang notabene sebagai tukang becak, sopir angkot, loper koran, pengamen, bahkan sampai ke bonek sekali pun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Emosi kolektif ini lahir karena dibenturkan dengan realitas sosial kebangsaan kita yang sangat memprihatinkan. Terutama dalam hal penegakkan supremasi hukum, pemberantasan korupsi, dan pembangunan ekonomi.

Di tengah keprihatinan itu muncullah semangat pengorbanan altruism yang lahir dari kesadaran kolektif masyarakat.

Masyarakat kita seolah diajak untuk terlibat secara emosi dan partisipasi. Coba lihat saja. Demonstrasi besar-besaran yang digelar pada 9 Desember 2009 untuk memperingati hari antikorupsi sedunia, dan demonstrasi pada 28 Januari 2010 sebagai momentum 5 tahun + 100 hari pemerintahan SBY.

Kedua gerakan sosial moral itu hadir bagai gelombang tsunami yang ingin menghempaskan segala keangkuhan rezim kekuasaan. Segala bentuk ketidakadilan. Pembodohan. Dan, otoritarianisme gaya baru yang dipertontonkan rezim penguasa.

Semangat pengorbanan altruism selalu hadir dalam berbagai bentuknya. Mengisi ruang-ruang kosong dalam jiwa seorang manusia. Kehadirannya adalah sebentuk kesadaran kolektivitas komunal dalam menjaga dan mencapai tujuan bersama.

Dia hadir sebagai antitesa permanen dari egoisme seorang manusia. Altruism lahir dari kekokohan konstruksi mental spiritual seseorang. Ada semangat berkorban bagi orang lain dan kemanusiaan. Ada semangat kepahlawanan dalam keterbatasan keterbatasan yang melingkupinya.Β 

Tercatat dalam sejarah bahwa keagungan Islam ini lahir dan ditulis oleh mereka yang notabene kaum fakir, budak, yatim piatu. Karena, mereka adalah kelompok manusia yang mudah dibangkitkan kesadarannya. Dan, sanggup memikul beban sejarah.

Lahirlah nama-nama besar sepanjang sejarah kemanusiaan, Muhammad SAW, Abu Bakar bin Abu Quhafah, Bilal Bin Rabbah, dan sebagainya. Begitulah semangat altruism mengajarkan kepada kita. Bahwa dia selalu singgah di kemah mereka-mereka yang notabene dilingkupi keterbatasan untuk menuliskan sejarahnya.

Dalam konteks keIndonesiaan kita semangat altruism akhir-akhir ini telah menemukan momentumnya. Walaupun kehadirannya bersamaan dengan akumulasi emosi kolektif masyarakat kita yang telah muak dengan segala ketidakberesan pengelolaan negara.

Semangat altruism masyarakat kita berada di tengah emosi yang disebabkan oleh matinya semangat altruism di tingkat elit penguasa. Belum pun kering bibir presiden, menteri dan pejabat Negara itu mengucapkan sumpah pengabdian, alih-alih bekerja malah kemudian mengganti mobil dinasnya dengan yang sangat mewah.

Belum pun usai membangun fondasi harapan yang kuat bagi bangunan peradaban Indonesia lima tahun ke depan di seratus hari masa kerjanya, sekarang sudah meminta kenaikan gaji. Amboi. Enaknya jadi elit penguasa.

Banyak fakta yang mengagumkan di tengah masyarakat kita yang bercerita tentang makna altruism sejati. Cerita tentang koin peduli Prita itu adalah sebentuk altruism luhur. Kesabaran seorang bocah 6 tahun bernama sinar merawat ibunya yang lumpuh itu juga sebentuk altruism luhur. Kesadaran seorang mahasiswa yang turun ke jalan menggelar parlemen jalanan, demi menyempurnakan kemerdekaan negerinya, itu juga altruism luhur.

Ketika modernisasi telah memenjara relasi interpersonal, empati dan mereduksi semangat altruism. Tapi, semangat altruism terus berjalan ke kemah orang-orang yang siap melanjutkan pendakian sejarah.

Ketika egoisme telah menafikan kepedulian dan mengalienasi semangat memberi, dalam banyak hal karakter altruism akan selalu menampakkan keluhurannya di berbagai ruang kehidupan dengan berbagai aktor sejarahnya. Dengan pengorbanan yang bersifat profan, tulus, dan penuh kemuliaan. Dan, biasanya altruisme singgah di kemah orang-orang yang dilingkupi keterbatasan.

Erwin Chairil A
Jl MT Haryono 9C/304 Malang
e.chairil@gmail.com
085755617136



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads