Kita harus melawan invasi produk China. Kedatangan produk China memang luar biasa. Dibukanya kerjasama AC-FTA ibarat air dam yang selama ini dibuka cukup terkendali. Tetapi, tahun ini bendungan itu akan mengalir sangat deras bagai tanggul bendungan yang jebol karena daya dorong air yang luar biasa besar. Bahkan, mungkin serbuan produk China ini seperti tsunami yang melumatkan apa saja yang dilalui.
Bagaimana cara melawan tsunami produk China. Meniru gaya India pada era Mohandas Karamchard Gandhi yang lebih dikenal dengan nama Mahatma Gandhi (1869-1948). Apa yang dilakukan oleh Gandhi. Ajaran Swadeshi. Yaitu membuat sendiri dan pakailah produk buatan sendiri. Pendek kata kita mencintai produksi dalam negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
Akhir-akhir ini pemerintah sangat kurang dalam hal promosi produk dalam negeri. Selama ini kita banyak larut dalam pemikiran motif ekonomi murni yang mempertimbangkan faktor harga sebagai variable tunggal. Semua diukur dari harga sehingga faktor kualitas nyaris terlupakan.
Hampir semua jenis produk di Indonesia dirambah oleh produk China. Kalau kurang yakin coba datanglah ke pasar Glodok, Pasar Turi, ITC, Pasar Kapasan, Pasar Wonokromo, Jembatan Merah Plasa, bahkan ke pasar tradisional mana pun. Kalau anda melihat produk murah yang dijual di sana hampir semuanya buatan China.
Peralatan rumah tangga, mainan anak, garmen, elektronik, sepatu, sandal, aksesoris mobil, dan seterusnya. Semua jenis produk yang dijual berlebel China. Semua produk ini dibandrol murah. Bagaimana dengan produk high tech. Sama saja. Komputer, ponsel, elektronik juga sama. Semua berasal dari China. Lalu mau apa kita.
Inilah yang harus kita lakukan. 'Berdikari', berdiri di atas kaki sendiri. Inilah gaya Swadeshi Indonesia. Inilah slogan yang pernah populer tahun 60-an oleh Presiden Soekarno. Pada masa revolusi tahun 60-an, Ir Soekarno, Presiden RI Pertama adalah pencetus ide Berdikari.
Soekarno adalah pelopor terdepan dari penindasan Kolonialisme oleh Dunia Barat. Soekarno menentang keras bentuk kesewenwng-wenangan Dunia Barat yang mengintervensi negara berkembang. Bahasa kasarnya Barat adalah Imperialis dan Kolonialis yang harus diperangi.
Apa relevansinya dengan kondisi saat ini. Kalau dikatakan sama persis tentu tidak benar. Tetapi, kalau dampak yang ditimbulkan dari AC-FTA sama dengan Kolonialisme mungkin ada benarnya. Benarkah?
Memang diakui bahwa produk China harganya sangat murah. Bahkan, saking murahnya bisa dikatakan hanya bayar ongkos bahan dan transport saja. Memang sih kualitasnya rata-rata di bawah standar. Tetapi, untuk produk tertentu tidak terlalu buruk. Misalnya elektronik dan ponsel. Siapa yang berani menjual ponsel harga di bawahΒ satu juta dengan teknologi dual card selain varian dari China. Siapa yang berani menjual mainan anak seharga lima ribuan selain China.
Saatnya Cinta Produk Indonesia
Siapa yang bisa jual ponsel di bawah sejuta dengan teknologi dual card plus, TV, dan bluetooth selain varian dari China. Tidak ada. kalau anda ingin mendapatkan fasilitas seperti di atas buatan Jepang atau Eropa anda harus menyiapkan kocek minimal dua kali atau bahkan tiga kalinya. Inilah yang menjadi faktor klasik mayoritas pelaku ekonomi kita yaitu harga murah.
Apakah bisa kita mengubah mind set bahwa mencintai produksi dalam negeri seperti perlawanan bangsa Indonesia terhadap Kolonialisme. Bisakah pemerintah bersatu dengan rakyat dan menggelorakan "kami melawan invasi produk China. Kami bersatu berdikari untuk kebesaran nama Indonesia". Memang tidak mustahil. Tetapi, sulitnya pasti kelihatan di depan mata. Seolah kita akan mendirikan bangunan di atas lautan es.
Seperti orang menghibur diri dari kegelisahan dan ketakutan. Apakah paradigma ini impian nyata. Sekali lagi paradigma ini memang masih samar. Sementara musuh kita bagai badai yang siap menerjang setiap saat.
Usaha nyata apa yang diperlukan. Promosi cinta produksi dalam negeri. Ada sebuah iklan di TV yang dangat lekat di benak saya oleh CEO Maspion Group, Alim Markus dan artis gaek Titik Puspa. Dengan lantang mereka mengatakan "Cintailah produk-produk Indonesia".
Bagi saya iklan ini beda dan sangat kreatif. Alim Markus ingin membuat kesan kuat bahwa Maspion dan produk turunannya adalah buatan Indonesia. Buatan Bangsa sendiri yang patut kita cintai dan pakai. Kalau bukan kita siapa lagi.
Saatnya kita mencintai produk dalam negeri. Saatnya kita peduli dengan saudara-saudara kita yang bekerja di perusahaan-perusahaan dalam negeri karena multiplier effect yang jelas dan nyata untuk anak cucu bangsa. Mari kita cintai produksi Indonesia. Sekarang.
Jaiman,
Penulis adalah Alumni MM Unair, saat ini bekerja di PLTU Paiton.
(msh/msh)











































