Introspeksi Kepemimpinan

Introspeksi Kepemimpinan

- detikNews
Rabu, 20 Jan 2010 18:22 WIB
Introspeksi Kepemimpinan
Jakarta - Seratus hari program Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebentar lagi usai. Namun, SBY sudah puas atas pencapaian yang telah dilakukan para menterinya yang tergabung dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II. Hal itu disampaikan dalam rapat paripurna kabinet di Istana Negara Kamis, 14 Januari 2010.

Evaluasi 100 hari kepemimpin ini hanyalah sekilas dari pergeseran yang terjadi di masyarakat dan lingkungan kita. Sehingga, kita semua jangan terpukau dengan pernyataan presiden yang menyatakan puas atas kinerja pemerintahannya 100 hari pertama.

Pemimpin yang bijak akan melakukan introspeksi diri secara berkelanjutan. Pemimpin ini tidak boleh terjebak dalam suatu skenario yang dimanfaatkan orang lain. Pemimpin harus tegas dalam bersikap. Pemimpin tidak boleh tunduk kepada pemilik modal yang menyimpan kepentingan tersembunyi. Dan, yang tidak kalah penting juga pemimpin harus menyelamatkan rakyatnya dari kegagalan daripada mengatrol popularitas pribadinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kini bangsa Indonesia yang berpenduduk 230 juta dipimpin oleh Presiden SBY untuk kedua kalinya. Ia masih terkesan kurang tegas dalam memimpin meskipun ini kali kedua SBY menjabat menjadi presiden. Kini ia terus diuji dengan berbagai macam tantangan. Yang palingΒ  menonjol ke permukaan dalam 100 hari kepemimpinannya adalah masalah Bank Century.

Dalam 100 hari kepemimpinannya apakah yang bisa dipelajari dan ditiru oleh masyarakat yang dari karakter dan gaya hidup para pemimpinnya? Apakah masyarakat mendapatkan inspirasi untuk mengatasi persoalan hidup yang semakin menekan karena mereka menyaksikan para pemimpinnya betul-betul peduli dengan penderitaan rakyatnya.

Atau yang terjadi justru sebaliknya, karena pemimpinnya kurang bisa berempati kepada masyarakat. Hanya memikirkan kecukupan fasilitas pribadi di tengah hancurnya berbagai macam fasilitas publik? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya dijawab oleh rakyat sendiri.

"Memimpin adalah menderita," begitu ucapan KH Agus Salim. Bagi mereka yang ingin dipuji dan hanya mengejar popularitas silakan menyingkir dari kepemimpinan nasional. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang siap menderita demi melayani seluruh rakyatnya. Bukan pemimpin yang kurang tegas. Terlambat dalam bertindak.

Ke depannya harapan kami semua para pemimpin yang memimpin negeri ini adalah pemimpin yang baik. Pemimpin pemimpin yang baik mengarahkan dan membersihkan masyarakat dari segala perilaku yang menyimpang. Pemimpin yang bisa menjadi teladan yang baik (role model) yang membawa kebaikan di segenap sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bukan pemimpin yang yang buruk. Pemimpin yang buruk hanya akan menambah keburukan pada masyarakatnya sendiri. Sebab, rakyatnya akan berfikir sederhana. Bila ada pemimpin yang berbuat menyimpang lalu dihukum dengan sanksi yang ringan.

Bahkan, di penjaranya pun tidak seperti penjara sebagaimana umumnya. Dipenjara dalam ruang tahanan menyerupai hotel berbintang. Mengapa rakyat tidak boleh berbuat yang sama? Sehingga, akan muncul contoh yang buruk dari para pemimpinnya yang akan membawa kerusakan di mana-mana.

Hidayatus Syufyan
Penulis adalah Mahasiswa Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung
http://hidayatus.wordpress.com




(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads