Ketidaktegasan, ketidakberanian, dan kelambatan pengambilan keputusan yang tegas dan tepat dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam penanganan kasus kriminalisasi dua pemimpin KPK Bibit dan Chandra telah berujung pada pembentukan Pansus Bank Century yang menjadi bola liar yang siap menerkam presiden. Atau setidaknya orang dekat dan kepercayaan presiden.Β
Seandainya presiden bertindak tegas dari awal dalam kasus Bibit Chandra dengan 'mengintervensi' Kapolri dan Jaksa Agung untuk segera menghentikan kasus yang sejak awal memang secara kasat mata lemah dan penuh dengan dugaan rekayasa ini maka energi bangsa dan rakyat tidak perlu dihabiskan untuk menyaksikan 'sinetron' kasus Bank Century ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berita tentang wafatnya tokoh bangsa, tokoh demokrasi dan plurarisme Abdurrachman Wahid alias Gus Dur seakan tertutupi oleh hingar bingarnya drama Bank Century ini. Mahasiswa pun seakan tidak mau kalah dengan mengambil bagian dalam berbagai demonstrasi dan aksi dengan berbagai tuntutan.
Mulai dari penuntasan kasus ini hingga menuntut mundur, meneriaki 'maling', membakar foto Menkeu Sri Mulyani, Wapres Boediono hingga Presiden SBY sendiri. Tuntutan ini seakan mendapatkan konfirmasi kebenarannya oleh sekelompok kumpulan tokoh yang menyuarakan hal serupa.
Penulis hendak membandingkan situasi saat ini dengan saat Gus Dur jatuh. Atau bahkan dijatuhkan oleh aksi mahasiswa, massa, dan aksi politikus akibat kasus Buloggate dan Brunaigate.
Dahulu di media yang sama ini juga (detik.com) penulis pernah menulis dengan menggunakan istilah Gus Dur dengan perumpamaan sepak bola. Bahwa, mahasiswa yang seharusnya menjadi wasit dan penonton pertandingan sepak bola antara Gus Dur dengan teknik catenacio melawan DPR saat itu hendaknya bersifat obyektif. Bukannya ikut masuk ke lapangan dan ingin ikut mengambil alih permainan.Β
Hal ini terbukti bahwa pada akhirnya Gus Dur dijatuhkan oleh Sidang Istimewa MPR tanpa alasan dengan kekuatan hukum yang jelas. Hingga hari ini tidak pernah ada bukti keterlibatan Gus Dur dalam kasus Buloggate dan Brunaigate. Hal ini dicatat menjadi sejarah hitam bangsa Indonesia. 'Segelintir' mahasiswa memiliki kontribusi yang tidak sedikit di dalamnya.
Situasi saat ini pun tidak jauh berbeda dengan saat itu. Aksi mahasiswa cenderung dilakukan dengan mengangkat isu-isu yang politis dan populis saja. Tapi, lemah dalam hal substansi. Isu isu yang yang diangkat ini ditiupkan oleh politikus-politikus yang secara hakekat tidak menyentuh kepentingan rakyat sama sekali.
Penyelesaian masalah bangsa yang besar ini haruslah dilakukan menurut skala prioritas. Kasus Bank Century ini kalau dirunut mungkin menempati prioritas papan bawah. Masalah penegakan hukum, reformasi pimpinan polri, reformasi kejaksaan, reformasi kehakiman, pemberantasan korupsi, pemberantasan mafia hukum, pembukaan lapangan kerja, peningkatan pendidikan dan derajat hidup orang banyak haruslah mendapatkan tempat utama.Β
Seharusnya mahasiswa mampu mengangkat isu-isu sendiri yang lebih cerdas. Isu-isu yang lebih independen seperti menuntut mundur orang yang paling bertanggung jawab merekayasa kasus Bibit Chandra, menuntut reformasi institusi pemerintahan terutama DPR.
Mengutip pendapat salah satu peserta rapat dengar pendapat DPR dan KOMPAK, jika hal ini terjadi di luar negeri mungkin pejabat paling tinggi di institusi yang bertanggung jawab merekayasa kasus KPK ini pasti sudah mengundurkan diri. Atau bahkan bunuh diri.
Tapi, di Indonesia. Mengapa tidak ada anggota DPR yang bersuara terhadap hal ini. Bukankah hal ini jauh lebih penting. Sampai saat ini penyelesaian kasus Bibit Chandra masih sangat mengambang. Siapa yang bertanggung jawab.
Ingat pula Anggodo yang dengan leluasa menelepon pejabat negara untuk mengatur ini dan itu. Pelemahan KPK dengan RUU penyadapan dan lain-lain pun masih terus berlangsung. Selain itu masih banyak hal lagi yang perlu mendapat perhatian yang prioritasnya jauh di atas kasus Bank Century.
Bahkan, dalam hal Century ini juga terasa janggal. Bahwa sampai saat ini orang yang dianggap oleh Mantan Wapres Jusuf Kala sebagai perampok hanya dihukum lima tahun penjara. Jika di negara lain mungkin ia sudah dihukum ratusan tahun penjara. Tapi, kenapa tidak ada yang bersuara tentang hal ini. Mana yang lebih penting pansus Bank Century atau pansus kriminalisasi Bibit Chandra. Atau pansus mafia hukum.
Jangan sampai mahasiswa hanya terbawa arus mengurusi kasus Bank Century ini yang sedari awal seolah-olah hanya membidik Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani. Bahkan, kedua pejabat negara ini dari jauh-jauh hari sudah dicitrakan sebagai 'pencuri' walaupun tidak jelas apa yang mereka curi.
Bahkan, beberapa pihak mencurigai ini menyangkut rivalitas dan mungkin dendam pribadi pihak-pihak tertentu dan ketidaksabaran pihak-pihak tertentu yang mengincar kedua posisi penting di atas.
Ingat pemilu yang sangat demokratis di negara ini baru saja berakhir. Apa jadinya kalau presiden diturunkan di tengah jalan. Siapa yang merasakan dampak paling besarnya. Rakyat.
Jika ada pihak-pihak yang tidak puas dengan pemerintahan sekarang dan merasa lebih mampu daripada pemerintah yang sekarang bersiap-siaplah pada pemilu yang akan datang. Tunjukkan kemampuan anda dengan konsep dan karya nyata. Bukan dengan aksi dan retorika. Pemilu yang baru lewat ini sudah terbukti bahwa rakyat memilih pemimpin dengan aksi nyata bukan pemimpin dengan janji.
Dengan segala kekurangannya harus diakui dan bahkan dunia mengakui bahwa Menkeu Sri Mulyani adalah Menkeu yang paling berhasil dalam era reformasi Indonesia. Reformasi Departemen Keuangan, transparansi keuangan negara, reformasi pajak, pengelolaan keuangan negara, manajemen utang luar negeri, dan lain-lain merupakan bukti prestasi nyata Ibu Sri Mulyani.
Bahkan, Sri Mulyani jelas-jelas lebih berhasil mengelola keuangan negara daripada para mantan pejabat yang sekarang berteriak keras tentang kasus Century (data dan berbagai indikator perekonomian negara menunjukkan hal ini).
Menyangkut perdebatan substantif tentang apakah Bank Century adalah bank berdampak sistemik yang patut dibantu atau tidak jawabannya gampang sekali. Terbukti keputusan Menkeu dan jajarannya untuk mengucurkan dana bantuan ke Bank Century adalah sangat tepat.
Hal ini terlihat bahwa tidak terjadi rush dan keadaan ekonomi Indonesia termasuk stabil dan indeks-indeks perekonomian menunjukkan Indonesia sebagai salah satu yang terstabil di Asia. Bahkan di dunia. Memperdebatkan secara retrospektif mengenai hal ini adalah hal yang sia-sia karena hal itu sudah terjadi dan sudah terbukti bahwa keadaan bangsa Indonesia saat ini baik-baik saja karena keputusan itu.Β
Jika anda mempunyai sakit kepala yang kronis anda pergi ke lima dokter ahli ternama mungkin saja anda akan mendapatkan lima jenis obat dan terapi yang berbeda. Hal itu sah-sah saja. Tidak perlu diperdebatkan. Ada banyak jalan ke Roma. Yang penting adalah penyakit anda sembuh.
Di Eropa jika terdapat 50 pusat perawatan bibir sumbing maka akan terdapat 45 konsep perawatan pasien yang berbeda-beda. Masing-masing dengan argumen dan pendekatan sendiri. Yang penting adalah hasil akhir perawatan harus baik.
Secara prospektif ke depan haruslah dibuktikan apakah dana yang dikucurkan itu nantinya akan dapat 'ditebus' jika bank ini dijual kembali. Dan, harus juga dihitung berapa kerugian yang berhasil dihindarkan seandainya terjadi rush besar-besaran.
Aksi mahasiswa saat ini haruslah kembali kepada hati nurani, kejujuran, dan kecerdasan intelektual seperti pendahulu-pendahulunya. Sebutlah Soe hok Gie, Arif Budiman, hingga aktivis 98. Aksi mahasiswa janganlah terbawa isu yang seolah-olah populis tapi tidak jelas pangkal dan ujungnya dan tidak menyentuh kepentingan rakyat sama sekali.
Semua pejabat dan warga negara termasuk presiden, wapres, menkeu, polisi, jaksa, anggota DPR, dan bahkan mahasiswa yang anarkis harus dikontrol publik. Jangan sampai kasus Anggodo, rekayasa pelemahan KPK, tertangkapnya begitu banyak anggota DPR karena kasus korupsi, mafia kasus , mafia peradilan, kasus Prita, anarkisme dalam unjuk rasa dan lainnya terulang.
Jangan sampai pula kasus jatuhnya Gus Dur tanpa alasan yang mempunyai kekuatan hukum yang jelas terulang pada pejabat-pejabat Indonesia terbaik lainnya. Daripada turun ke jalan dan nantinya mendapatkan cemoohan rakyat dan bahkan antipati dari rakyat mendingan mahasiswa kembali ke kampus. Belajar yang baik agar cepat lulus. Gitu aja kok repot.
Drg Andi Setiawan BudihardjaΒ
Penulis adalah mantan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa FKG Universitas Trisakti tahun 2000.
(msh/msh)











































