Resolusi Stabilitas Nasional 2010

Resolusi Stabilitas Nasional 2010

- detikNews
Jumat, 08 Jan 2010 18:09 WIB
Resolusi Stabilitas Nasional 2010
Jakarta - Para analis politik meyakini bahwa tahun 2010 masih akan menjadi tahun yang penuh gonjang-ganjing politik. Dan, para ekonom meyakini bahwa hal ini akan berpengaruh pada ekonomi. Situasi politik yang kurang stabil akan mendorong investor untuk angkat kaki dari Indonesia. Stabilitas tentu harus dijaga agar pembangunan bisa terlaksana dengan baik dan masyarakat dapat hidup secara tentram dan wajar.

Stabilitas tentu menjadi perhatian penting dari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kita bisa melihat dari sikap Beliau sangat sensitif terhadap aksi masa. Sangat responsif terhadap setiap komentar dan kritik. Demonstrasi, komentar, dan kritik sering kali dimaknai sebagai bagian dari konspirasi untuk menjatuhkan kekuasaannya.

SBY sering terlihat tidak percaya diri dalam membuat keputusan-keputusan penting yang berfihak pada rakyat. Meski dia dipilih oleh lebih dari 60% suara rakyat dan didukung oleh mayoritas partai politik di parlemen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adalah hal yang wajar jika seorang pemimpin menginginkan situasi yang stabil selama masa kepemimpinannya berlangsung. Namun, sayangnya selama ini banyak pemimpin yang lupa mengenai dasar-dasar stabilitas yang permanen.

Suharto membangun stabilitas dengan cara kekerasan. Semua lawan politiknya dibungkam bahkan dimusnahkan. Semua suara "sumbang" terhadap kebijakannya dituduh subversif dan akan berakhir di dalam penjara. Pers yang berusaha independen dibredel. Suharto memang mampu membangun stabilitas. Namun, stabilitas semu, yang pada waktunya dapat melahirkan goncangan yang sangat dahsyat. Dan, itulah yang terjadi pada reformasi 1998 yang telah melahirkan banyak kerusuhan dan korban.

Rosulullah Muhammad Saw, telah mengajarkan pada kita bagaimana membangun negara yang stabil. Beliau mengajarkan bahwa stabilitas sebuah negara bukan dibangun oleh senjata. Meskipun militer yang kuat diperlukan untuk menjaga negeri dari destabilisasi yang datang dari luar. Rosulullah mengatakan bahwa syarat dari tegaknya sebuah negara yang stabil ada empat.

Pertama, Ulama yang berdaya. Ulama yang ilmunya bukan jadi barang dagangan yang dijual dengan murah. Melainkan Ulama yang ilmunya menjadi panduan bertindak dalam menyelesaikan segala persoalan. Baik dari level individu, keluarga, masyarakat, maupun negara.

Ulama yang berdaya adalah ulama yang berani menyuarakan dan memperjuangkan kebenaran atas dasar kebenaran itu sendiri. Bukan kebenaran yang didasarkan atas pesanan. Ulama yang berdaya seperti inilah ulama yang mampu menjaga stabilitas sebuah negara. Fatwa-fatwanya menjadi solusi yang menentramkan.

Berikutnya stabilitas sebuah negara menurut Rosul dapat ditegakkan melalui keadilan para pemimpin. Siapa pun yang diperlakukan tidak adil akan menggeliat, menggugat, dan berteriak. Saat disidang oleh pengadilan Belanda, Soekarno mengatakan "cacing saja akan menggeliat jika diinjak". Apa lagi manusia yang memiliki rasa, martabat, dan harga diri. Tentu tidak akan rela diperlakukan tidak adil.

Keadilan seorang pemimpin akan memberikan rasa tentram di tengah masyarakat dan karenanya gejolak massa tidak akan pernah muncul. Sayangnya, sampai hari ini, pemimpin yang adil masih sebatas mimpi dan bahkan kata keadilan telah dimanipulasi sedemikian rupa.

Atas nama keadilan tidak sedikit pemimpin yang menipu berjuta-juta rakyat. Bukankah jeritan ketidakadilan sudah lama muncul dari hati nurani rakyat kecil, lalu mereka hanya bisa berucap dengan putus asa, "Biar Tuhan yang mengadili ... ?" Sampai kapan mereka menjadi konsumen kebohongan dari kekuasaan yang bersifat manipulatif?

Syarat ketiga untuk membangun stabilitas menurut Rosul adalah kedermawanan orang kaya. Orang-orang kaya yang dermawan, orang-orang kaya yang mau berbagi secara tulus tanpa pamrih, tanpa motif politik sangat membahagiakan orang-orang miskin. Meski realitas materi menunjukkan kesenjangan. Namun, kedermawanan yang tulus menyebabkan orang kaya dan miskin mampu bergandeng tangan untuk saling menjaga dan melindungi.

Yang miskin tidak dengki dengan yang kaya dan karenanya tidak berusaha mencelakakan yang kaya. Sebaliknya, yang kaya tidak angkuh, sombong, dan menindas yang miskin. Situasi ini sangat kondusif untuk membangun stabilitas. Sebaliknya, orang-orang kaya yang angkuh, kikir, dan menindas adalah sumber dari instabilitas sebuah masyarakat.Β 

Keempat, stabilitas juga bisa dibangun dengan doanya orang-orang miskin. Rosulullah mengatakan bahwa doa orang miskin dan orang-orang yang teraniaya sangat mudah dikabulkan Allah swt. Saat ini kita menyaksikan orang-orang miskin dan teraniaya yang semakin banyak di negeri ini, dan banyak di antara mereka yang tidak mau mendoakan kebaikan.

Dengarkan obrolan di warung kopi, di pinggir-pinggir jalan, di kereta-kereta. Saksikan respon mereka saat membuka lembaran koran, dengarkan komentar mereka saat mendengar berita di radio, dan lihat ekspresi mereka saat menonton berita di televisi. Berjuta orang miskin di negeri ini lebih banyak memaki dan melaknat dalam kesunyian akibat ketertindasan.

Berjuta-juta orang miskin di negeri ini sudah enggan mendoakan orang-orang kaya dan penguasanya. Karena, mereka terlempar dari kepedulian sistem dan manusia-manusia yang sombong oleh kepemilikan dan kedudukannya.

Keberpihakan yang terlalu tinggi pada pasar dan investor yang notabene adalah pemilik modal dan orang kaya seperti yang selama ini dipertontonkan pemerintahan SBY akan menjadi bumerang ketika berjuta rakyat miskin masih menjadi kelompok yang terlupakan.

Terlebih lagi perilaku pemerintah yang mempertontonkan kemewahan secara demonstratif semakin melahirkan kebencian dan sumpah serapah di kalangan masyarakat. Ketidakadilan yang dipertontonkan aparat hukum dalam berbagai perkara juga bisa menjadi bahan bakar dari instabilitas negeri ini.

Tahun 2010 akan menjadi tahun stabilitas bagi negeri ini bila keempat komponen, yakni ulama yang berdaya, pemimpin yang adil, orang kaya yang dermawan, dan doa-doa orang miskin bisa diproduksi bersama. Semoga kita bisa berkontribusi untuk menciptakan stabilitas di negeri ini. Agar ketentraman tercipta, pembangunan terselenggara, dan kita benar-benar bisa menjadi bangsa yang berjaya kelak.

Mukhamad Najib
The University of Tokyo
mnajib23@yahoo.com
+81-90-982-10-982



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads