Menuju Kejayaan Bangsa Bahari

Menuju Kejayaan Bangsa Bahari

- detikNews
Selasa, 05 Jan 2010 18:11 WIB
Menuju Kejayaan Bangsa Bahari
Jakarta - "Laut Sebagai Ruang Hidup dan Ruang Juang Bangsa Indonesia Untuk Kejayaan Nusantara". Adalah tema peringatan Hari Nusantara yang akan dipusatkan di Makassar tahun 2009. Harapan dengan tema tersebut agar pendayagunakan dan pemanfaatan seluruh potensi kekayaan yang ada di laut dapat menjadi penopang pembangunan ekonomi nasional di masa depan.
Β 
Mengutip pernyataan Menteri Kelautan pada era Pemerintahan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahwa persoalan ekonomi krusial yang dihadapi bangsa kita di tengah kekayaan potensi sumber daya alam laut yang melimpah adalah kemiskinan dan pengangguran. Oleh karena itu revitalisasi berbagai kegiatan ekonomi secara simultan dan membangkitkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru harus segera dilakukan.
Β 
Namun, persoalan krusial tersebut belumlah beranjak dari negeri yang "ditakdirkan" sebagai negara maritim dengan notabene memiliki potensi kemaritiman terbesar dunia hingga hari ini. Idealnya Indonesia harus membuktikan bahwa ia merupakan negara terbaik dalam pengelolaan dan pemanfaatan potensi lautnya dan diyakini dapat menjadi keunggulan kompetitif. Sekaligus dapat memecahkan permasalahan dan keterpurukan bangsa ini dari kemiskinan.
Β 
Menjadi kenyataan pahit bahwa selama 32 tahun masa Orde Baru spirit menggaungkan potensi dan kekayaan laut Indonesia belum sepenuhnya menjadi perhatian para pengambil kebijakan. Dominasi cara pandang teresterial atau pendekatan berbasis darat menyebabkan laut dipandang sebagai pemisah antar pulau dan faktor pembatas pembangunan nasional.Β 
Β 
Pemanfaatan masih bersifat sektoral dan secara dominan dicirikan oleh kegiatan-kegiatan yang bersifat ekstraktif. Atau pengurasan dan pengerukan yang berakibat pada kerusakan lingkungan laut.

Padahal, sejarah menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara maritim dengan kekayaan sumber daya alam (natural resources endowment) di sektor kelautan melimpah. Dalam beberapa abad lamanya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan peradaban di wilayah Nusantara memiliki kekuatan ekonomi dan politik dengan berbasis pada sumber daya kelautan.
Β 
Potensi Ekonomi Kelautan

Sebagai negara bahari terbesar di dunia Indonesia memiliki potensi ekonomi pembangunan kelautan yang sangat besar dan beragam. Terdapat beberapa sektor ekonomi kelautan yang dapat dikembangkan guna memajukan dan memakmurkan bangsa Indonesia yaitu kekayaan sumber daya hayati yang dapat diperbaharui (hasil-hasil perikanan).
Β 
Kekayaan nonhayati berupa 60 cekungan potensi kandungan minyak dan gas bumi yang menurut data geologi diperkirakan dapat menghasilkan 84,48 miliar barel minyak. Namun, baru 9,8 miliar barel saja yang sudah diketahui dengan pasti. Sedangkan sisanya 74,68 miliar barel masih berupa kekayaan yang belum dimanfaatkan.Β 
Β 
Energi kelautan (energi pasang surut, gelombang, ocean thermal energy conversion) dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi krisis energi listrik. Transportasi laut, farmakologi, serta jasa-jasa kelautan lainya juga belum termanfaatkan secara optimal.
Β 
Pengembangan pariwisata bahari memiliki kelebihan diyakini dapat mempunyai efek berganda (mutiplier effect) yang dapat menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, mendatangkan devisa bagi negara, dan dapat mendorong konservasi lingkungan. Selain itu, bioteknologi kelautan dapat memberikan kontribusi ekonomi yang besar bagi penyediaan bahan baku industri farmasi dan kosmetik. Selain itu lebih dari 35.000 spesies biota laut memiliki potensi sebagai penghasil bahan obat-obatan tapi yang dimanfaatkan baru 5.000 spesies.
Β 
Sementara itu, sekitar 5 km dari garis pantai ke arah laut potensi lahan kegiatan budi daya laut diperkirakan sekitar 24,53 juta hektar yang terbentang dari ujung bagian barat Indonesia sampai ke ujung wilayah timur Indonesia. Dari sisi potensi lahan, budi daya di kawasan pesisir (budi daya udang/tambak) mencapai 913.000 hektar yang tersebar di 30 propinsi.

Namun demikian pemanfaatan lahan budi daya untuk tambak baru mencapai sekitar 40 persen. Produksi perikanan budi daya Indonesia masih jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan negara-negara produsen perikanan lainnya seperti China, India, Jepang, dan Filipina.
Β 
Permasalahan Pengelolaan

Harus disadari bahwa mengelola sumber daya kelautan memang tidak semudah membalik telapak tangan. Isu dan masalah yang harus dikelola pun sangat kompleks sehingga membutuhkan pengelolaan yang menyeluruh, cross sectoral, dan responsive terhadap dinamika yang ada.Β Β Β 
Β 
Masalah pulau-pulau terluar perbatasan, illegal fishing, kemiskinan, itu hanya contoh kecil yang sering mengemuka. Dukungan yang relatif lemah, perencanaan program dan budget yang kurang tepat terhadap sektor ini menyebabkan melemahnya berbagai aspek lain yang saling terkait dan menimbulkan begitu banyak masalah dalam pengelolaan kelautan dan perikanan. Di samping itu, permasalahan lainnya adalah terjadinya kerusakan lingkungan pada ekosistem pesisir dan laut berupa kerusakan fisik dan pencemaran di beberapa kawasan pesisir dan
laut.Β 
Β 
Terjadinya deforestrasi hutan mangrove, degradasi terumbu karang, dan padang lamun di kawasan pesisir mengakibatkan erosi pantai dan berkurangnya keanekaragaman hayati laut. Sementara itu, perencanaan tata ruang dan pengembangan wilayah pesisir dan laut juga nampak belum dikembangkan secara tepat.
Β 
Salah satu faktor penting dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya kelautan secara berkelanjutan adalah penguasaan sains dan teknologi serta penerapannya secara terpadu dalam pemanfaatan sumber daya kelautan. Hal lain yang tak bisa dilepaskan adalah menyangkut komitmen dan political will dari penentu kebijakan dan merupakan faktor penting dalam menjaga konsistensi arah pembangunan kelautan Indonesia. Upaya revitalisasi ekonomi kelautan perlu difokuskan pada pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge based economics), penganggaran, penanganan wilayah perairan, khususnya dalam pengelolaan potensi laut.
Β 
Apabila Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II ini, khususnya Departemen Kelautan dan Perikanan yang visinya "pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara lestari dan bertanggung jawab bagi kesatuan dan kesejahteraan anak bangsa", mampu mendayagunakan segenap potensi ekonomi kelautan dengan efektivitas program dan penganggaran (cost effectiveness), maka pembangunan Indonesia ke depan akan mampu mensejahterahkan bangsa dan dapat menghantarkan Indonesia menjadi bangsa yang maju, adil, makmur, dan bermartabat.
Β 
Akhirnya, penting kita renungkan sebuah Surah Faathir ayat 12 dalam Alquran yang berbunyiΒ  " ... Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur."
Β 
Andi Iqbal Burhanuddin
Ketua Jurusan Ilmu Kelautan FIKP Unhas

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads