Tahun Baru Gaya Hidup Baru

Tahun Baru Gaya Hidup Baru

- detikNews
Senin, 04 Jan 2010 18:19 WIB
Tahun Baru Gaya Hidup Baru
Jakarta - Tahun baru adalah momentum spesial dalam siklus kehidupan tahunan. Wajar jika kita membedakannya dengan hari-hari lain. Sama artinya ketika kita menyambut pagi. Pagi juga momen spesial dalam siklus harian. Beda ceritanya ketika melihat fakta empiris umumnya. 
 
Perayaan tahun baru masih lekat dengan kesan hura-hura. Kembang api, terompet, konvoi, pesta, dan lain-lain menjadi simbolnya. Semua sadar tidak ada yang salah dengan menyambut hadirnya tahun baru. Namun, ada yang kurang tepat jika melihat bagaimana sambutan itu umumnya diapresiasikan.
 
Pergantian siklus adalah momentum transisi dari masa lalu ke masa mendatang. Masa mendatang masih tergantung pada bagaimana masa lalu. Bukan kemudian bermakna bebasnya masa lalu dan memulai masa mendatang dengan semua yang serba baru. Maka, apa artinya jika kita lakukan dengan hura-hura. 
 
Hura-hura tak akan menghilangkan memori masa lalu begitu saja. Kalaupun ya itu akan sementara. Dan, esok akan kembali menjumpai. 
 
Sebelum berpikir bagaimana kita menyambutnya perlu direnungkan apa yang harus dilakukan terhadapnya. Jika sepakat tahun baru sebagai momentum pergantian siklus tahunan maka apa lagi yang bisa kita lakukan kecuali dengan refleksi, evaluasi, dan memperbaharui rencana.  
 
Refleksi sejauh apa dan sejauh mana kita telah berbuat. Evaluasi apa saja yang sudah kita lakukan dan bagaimana keberhasilannya. Refleksi dan evaluasi itu adalah dasar untuk memperbaharui rencana menyongsong kesuksesan tahun depan. 
 
Dewasa ini dunia tak terkecuali Indonesia menghadapi dua masalah pokok yang semakin pelik. Keadilan sosial dan kelestarian lingkungan. Sebelum menuntut dan mempertanyakan tanggung jawab negara terhadap keduanya ada baiknya setiap kita bercermin dahulu. "Jangan kau tanyakan apa yang diberikan negara kepadamu tapi bertanyalah apa yang sudah kau berikan untuk negaramu", demikian John F Kennedy pernah berujar. 
 
Negara adalah kumpulan individu. Maka, perwujudan individulah pilar paling asasi yang akan mewarnai perjalanan kenegaraan. Berbicara tentang sikap personal masing-masing individu ada satu aspek yang mempengaruhinya. Dan, bahkan bisa saling mempengaruhi antar mereka. Aspek itu adalah gaya hidup (lifestyle). Gaya hidup seseorang akan terwujud dalam laku keseharian. 
 
Sejauh mana kontribusi yang bisa dipersembahkan setiap individu untuk mengatasi masalah sosial dan lingkunan tergantung pada bagaimana gaya hidup mereka terhadap keduanya. Karenanya, terwujudnya keadilan sosial dan kelestarian lingkungan dipengaruhi gaya hidup manusia yang ramah terhadapnya.
 
Ramah Sosial

Kemiskinan masih membelit hampir semua negara berkembang. Termasuk Indonesia. Korupsi masih menjangkiti hampir setiap sendi negeri. Kriminalitas pun jauh dari tuntas terberantas. Di tengah kabar gembira dialokasikannya anggaran 20% untuk pendidikan tak sedikit anak bangsa yang masih sulit menjangkaunya. Seabreg masalah sosial itu terus kita jumpai sehari-hari. 
 
Selaku individu apa yang bisa kita lakukan? Banyak hal bisa dilakukan untuk menunjukkan kepedulian. Kewajiban kita bukan menuntaskannya tapi mengusahakan berkontribusi. Buka seberapa besar tapi sejauh apa. 
 
Dalam hal ini yang paling mendasar adalah membangun sikap dan gaya yang penuh keramahan sosial. Tidak bermewahan. Suka berderma. Saling menasihati pada sesama. Membantu akses warga ke pemerintah. Dan, masih banyak bentuk gaya hidup ramah sosial yang bisa dilakukan. Sederhana kelihatannya. Tapi, dari itu semua solusi bermula.
 
Ramah Lingkungan

Beberapa waktu lalu dunia gempar menyikapi film controversial '2012'. Berangkat dari prediksi suku bangsa Maya 2012 diramalkan merupakan masa akhir dunia. Sebuah prediksi ahli iklim NASA menyebutkan bahwa pada tahun 2012 seluruh es di Antartika akan mencair karena kenaikan suhu rata-rata di muka bumi. 
 
Jal ini berarti akan terjadinya bencana kepunahan masal (Zwally dalam Tan, 2008). Lepas dari pro kontra ada celah hikmah yang bisa ditangkap. Peringatan akan kerusakan. 
 
Isu lingkungan paling mengkhawatirkan akhir-akhir ini adalah pemanasan global. Karenanya laju pencairan es di kutub semakin cepat dan daratan pun terancam tenggelam. Dalam skala lokal banjir menjadi pemandangan keseharian tatkala musim hujan hadir. Sebaliknya, kekeringan melanda ketika musim kemarau tiba. 
 
Polusi kota juga semakin tak terkendali. Dijamin tidak akan selesai jika solusi semuanya dibebankan negara. Simak buktinya. KTT Perubahan Iklim belum lama ini di Kopenhagen Denmark tak membuahkan hasil apa-apa. Mau tidak mau meski kecil harus dimulai dari tingkat individu. 
 
Ramah lingkungan bukan berarti anti fasilitas dan gaya modern. Tapi, mengorientasikan tindakan dan penggunaan fasilitas pada aspek konservasi lingkungan. "Bumi bukanlah warisan nenek moyang tetapi titipan anak cucu". Demikian sebuah falsafah mengingatkan. 
 
Banyak hal bisa diupayakan. Misalnya mengelola sampah, hemat energi, hemat air, mengupayakan penghijauan, membuat resapan air hujan, dan lainnya. Semua bisa dilakukan sendiri tanpa susah-susah menunggu perhatian pemerintah. 
 
Ketika ramah lingkungan sudah menjadi gaya hidup masyarakat luas maka menjadi lebih mudah pemerintah mengimplementasikan kebijakan pengelolaan lingkungan. Bahkan, kalau pun tak ada upaya pemerintah maka keramahan lingkungan tadi cukup berarti untuk kelestarian ekologi.
 
Tahun 2009 telah menjadi kenangan dan tahun 2010 sudah mulai kita tempuh. Waktu tidak bisa diputar kembali. Penyesalan pun sudah tidak berarti. Tapi, masa lalu adalah guru untuk menapaki tahun baru. Banyak hal yang mungkin tertuntut dari diri masing-masing untuk diperbaharui. Di antara sekian banyak itu yang bisa dilakukan dan prioritatif adalah memperbaharui gaya hidup. 
 
Sebagai bagian dari makhluk sosial dua sikap penting segera diwujudkan. Sebagaimana uraian di depan kedua hal itu adalah gaya hidup ramah sosial dan ramah lingkungan. Keduanya bermula dari tingkat personal. Tapi, harapannya bisa dilanjutkan dengan gerakan masif ke level kemasyarakatan hingga kenegaraan. 
 
Kesadaran warga dan kebijakan pengelolaan merupakan dua pilar utama kunci kesuksesan pembangunan. Dengan gaya hidup baru semoga 2010 akan jauh lebih baik bagi kita, bangsa Indonesia, dan dunia.
 
RIBUT LUPIYANTO
Peneliti dan Ketua Divisi Riset
Pusat Studi Lingkungan 
Universitas Islam Indonesia
Yogyakarta
www.lupy-indonesia.blogspot.com
 


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads