Β
Banyak catatan positif yang diraih bangsa Indonesia sepanjang tahun ini kendati krisis keuangan global telah melanda di beberapa negara. Pertumbuhan ekonomi mengalami pertumbuhan positif tercepat ketiga di dunia setelah China dan India. Kenyataan tersebut patut kita hargai mengingat di kawasan regional yakni ASEAN hantaman krisis keuangan sangat terasa dialami oleh negara-negara tetangga. Memang hantaman krisis keuangan dunia tahun ini tidak sedahsyat krisis yang terjadi pada era 1997.
Β
Krisis juga tak banyak mampir di perusahaan-perusahaan Indonesia. Jumlah perusahaan yang kolaps tidak sebanyak pada krisis moneter tahun 1997. Pada umumnya perusahaan perusahaan yang hasil produksinya sangat bergantung kepada ekspor, seperti tekstil dan alas kaki adalah industri yang pasti sangat terpukul. Tidak hanya pada industri tersebut yang mengalami kemorosotan tetapi industri berbasis tersier seperti perusahaan otomotif dan perusahaan komoditas juga termasuk yang terimbas karena turunnya permintaan dunia.
Β
Kinerja pasar modal negara kita (Bursa Efek Indonesia) mencapai hasil yang baik. Di tahun 2009 ini Bursa Efek Indonesia mencatatkan diri sebagai pasar modal yang mengalami rebound setelah dua kali mengalami fase krisis keuangan. Hal ini berbeda dengan krisis keuangan tahun 1997. Pasar modal di negara-negara kawasan ASEAN mengalami hasil perdagangan tidak maksimal.
Β
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan masyarakat terutama di level menengah ke bawah sangat terpukul oleh krisis ini. Daya beli masyarakat menurun. Keadaan ini tercermin pada tingkat inflasi yang sangat rendah. Paket stimulus bagi pekerja yang bergaji rendah ternyata tidak banyak menolong. Baik perusahaan maupun pekerja.
Β
Belum pulihnya sektor industri manufaktur menyebabkan penurunan penyerapan tenaga kerja sehingga mengakibatkan pertumbuhan ekonomi juga rendah. Kondisi ini jelas merisaukan. Industri manufaktur adalah sektor penyerap tenaga kerja informal paling tinggi. Tapi, jika pertumbuhannya makin menurun seperti sekarang, sumbangannya pada perekonomian makin menurun seperti sekarang, sumbangannya pada perekonomian semakin rendah.
Β
Karena itulah, mau tidak mau pemerintah harus menggenjot pertumbuhan sektor manufaktur yang tidak cukup hanya dilakukan dengan cara biasa. Banyak pekerjaan rumah harus diselesaikan. Beberapa di antara bahkan sudah seperti panyakit menahun. Persoalan minimnya infrastruktur, dari jalan, pelabuhan sampai listrik. Bahkan belakangan ini persoalan listrik menjadi persoalan gawat. Pasokan yang rendah dan tingginya harga untuk sektor industri.Β
Β
Kendala lain yang nyaris tidak berubah adalah mengenai pembebasan lahan untuk pembebasan jalan tol. Realisasi yang minim atas pelaksanaan pembangunan jalan tol mengakibatkan terjadinya kemacetan di mana-mana.
Β
Kendala serius yang terjadi pada sektor industri tidak terlepas dari pengaruh faktor logistik. Tingginya biaya logistik menyebabkan keuntungan perusahaan berkurang dan bahkan akan menurunkan daya saing produk Indonesia.Β
Β
Birokrasi juga masih menjadi hambatan. Proses perizinan di Indonesia kini memang jauh lebih baik. Menurut studi International Finance Corporation proses perizinan di Indonesia jauh lebih baik. Ini bisa dilihat dari tingkat nol sampai dengan 60 hari dan jauh lebih baik dari sebelumnya yakni 170 hari.
Β
Sulitnya menarik investor asing atau pun domestik dengan keterbatasan prasarana, birokrasi yang tidak bersahabat dan biaya logistik yang mahal jelas mengakibatkan sulitnya kita bersaing dengan Malaysia dan Thailand.
Β
Sama halnya dunia perbankan. Perbankan pada tahun ini masih memiliki keinginan yang rendah untuk menyalurkan pinjaman. Tingginya suku bunga perbankan meskipun BI sudah menurunkan suku bunga acuan menjadi 6,5% persen belum menjadikan suatu sikap kekuatan positif bagi kalangan dunia perbankan untuk menurunkan tingkat suku bunga pinjaman.
Β
Pemerintah harus cekatan menyelesaikan masalah yang menahun tersebut. Dari awal penetapan program kerja Presiden SBY yang mematok pertumbuhan ekonomi tinggi harus diikuti dengan pembenahan sekaligus mereformasi elemen-elemen yang mengganggu jalannya pembangunan ekonomi. Dengan cara itulah maka industri akan berkembang lebih baik dan akhirnya akan membuka lapangan kerja jauh lebih banyak.
Β
Bagaimana pun tujuan akhir ekonomi adalah mensejahterakan rakyat dengan memberikan pekerjaan yang layak dan mengentaskan mereka dari kemiskinan. Indonesia harus mampu meraih pertumbuhan ekonomi di atas 7 persen agar tingkat pengangguran dan kemiskinan bisa diturunkan. Sedangkan apabila hanya dipatok sebesar 5,5%-6% pertumbuhan ekonomi artinya kita tidak akan bisa mengurangi pengangguran dan orang miskin.Β Β
Itulah kata kunci bagaimana pemerintah bersama-sama dengan parlemen mendorong lebih kuat agar tatanan-tatanan baru atau yang sudah berjalan dapat memberikan dorongan kuat sehingga pergerakan ekonomi Indonesia lebih terpacu kembali.
Β
Helmy Harahap
Perumahan Puri BetaΒ
Jl Hujan Mas No 12 Tangerang
helmy_harahap@yahoo.co.id
0816842044
Β
(msh/msh)











































