Saatnya Perempuan Menulis

Saatnya Perempuan Menulis

- detikNews
Selasa, 22 Des 2009 18:16 WIB
Saatnya Perempuan Menulis
Jakarta - Sekitar tiga puluh orang peserta mengikuti Bedah Film Memoirs of a Geisha bersama Women Studies Center (WSC) di Aula Student Center UIN SGD Bandung Rabu (18/11/2009). Tak hanya kaum Hawa yang menonton film itu. Kaum Adam pun diperbolehkan. "Ini tidak dikhususkan untuk perempuan. Laki-laki juga boleh karena WSC bukan milik perempuan. Bahkan, ada anggota dan pengurus dari laki-laki ungkap Pedi.

Acara yang menghadirkan nara sumber Neng Hannah, Dosen Fakultas Ushuluddin ini, menurut Reni Sendiawati Ketua Pengarah WSC menuturkan, "kegiatan ini merupakan acara diskusi rutin yang dilakukan oleh WSC dalam bentuk Bedah Film".

"Film ini mengisahkan perjuangan seorang perempuan melawan ketidakadilan gender. Masa seorang perempuan hanya dididik untuk menjadi wanita penghibur semata," tegasnya. Tak hanya itu, "perempuan hanya dijadikan alat untuk menggairahkan nafsu lelaki hidung belang saja. Kenapa harus wanita?"

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi ini akan memperburuk perempuan dan susah membangkitkan semangat kaum perempuan untuk melawan subordinasi. "Memang Gheisa dalam kehidupan masyarakat Jepang merupakan strata sosial tersendiri yang sangat unik. Karena berbede dengan profesi penghibur di kebanyakan budaya lain", ungkap Neng Hannah. "Seorang Gheisa akan menjadi primadona bukan karena sekedar menjual tubuhnya, tetapi dituntut menjadi seorang seniman dan intelektual," ujarnya.

Tentu cerita perempuan yang dianggap penghibur tidak hanya terjadi di Jepang. "Seperti di Korea dalam sejarah kekaisaran. Ada seorang kaisar berhak memiliki seribu selir dengan tugas khusus. Ya, seperti Gheisa yang sejak kecil dipersiapkan untuk menjadi penghibur kaisar. Mereka disekolahkan, belajar nari, seni, bahkan berbagai macam ilmu pengetahuan agar Sang Kaisar merasa nyaman dengan para selir," tambahnya.

Dalam Islam pun ada kisah yang sama seperti Gheisa. "Ini bermula dari perbudakan dan dilegalkan dalam sejarah Islam. Ini terekam dalam Surat Al Muminuun yang menjelaskan ciri-ciri yang beriman adalah mereka yang menjaga kemaluanya kecuali untuk istri dan budak-budak perempuan mereka," jelasnya.

Budaya yang mirip Gheisa dalm Islam disebut dengan Jawari atau Jaryah tunggalnya yang berarti budak perempuan. Demikian diungkapkan Tabari, ahli sejarah pertama dalam Islam yang mengungkapkan Khalifah Yazid II (Dinasti Umayyah 101 H/720 M) memiliki beribu jaryah dan sangat jatuh cinta kepada Hababa.

"Kepergian Hababa menyisakan luka yang mendalam bagi Yazid, sehingga seminggu setelah kematianya Hababa tidak dikuburkan karena tak mampu berpisah dengannya. Ia melupakan shalat, negara, mesjid, sembahyang Jumat," tegasnya.

Budaya Gheisa, selir, Jaryah merupakan bukti penguasaan budaya laki-laki atas tubuh dan diri perempuan. "Supaya perempuan tidak dianggap pelengkap dan terekam dalam sejarah, maka hendaklah mengabadikan dirinya dalam bentuk tulisan. Karena menulis adalah menghamili diri dan melahirkan. Kini saatnya perempuan menulis."

Satu bentuk dari membiasakan diri menulis adalah dengan membuat bulletin. Semoga.

Ibn Ghifarie
Jl AH Nasution No 105 Bandung
ibn_ghifarie@yahoo.com
081809409807



(msh/msh)


Berita Terkait