Namun, baru-baru ini ada satu kasus baru menyeruak tentang ribut-ribut Luna Maya, yang justeru menarik hati untuk turut berbicara. Tulisan ini bukan bermaksud membela Luna. Hanya berusaha memahami mengapa Beliau berperilaku atau menulis demikian di Twitter tanggal 16 Desember 2009 lalu.
Saya adalah nobody, bukan siapa-siapa, bukan selebritis. Apalagi keluarga Luna. Saya juga bukan insan pers. Saya hanya berusaha memahami dan belajar dari kejadian ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebetulan kami banyak berinteraksi dengan orang asing (terutama masyarakat kulit putih) terutama selama tinggal di luar negeri beberapa tahun yang lalu. Mereka memang sangat menjunjung etika privasi.
Sekadar bertemu, apalagi sampai berbincang atau wawancara pun, mesti membuat janji atau appoinment terlebih dulu. Jadi tidak sembarang asal colek atau tegur terus minta wawancara. Itu culture yang lumrah di kalangan masyarakat barat. Cikal bakal keluarga Luna dibesarkan.
Tak heran Beliau meradang ketika etika ini dilanggar. Di sini kita perlu memahaminya.
Sekadar menilik pengalaman sebelumnya di negara Inggris tahun 1998 ketika itu Lady Diana Spencer (mantan isteri Pangeran Charles) bermaksud melarikan diri dari kejaran wartawan yang terus memburunya. Hingga akhirnya mobil sang puteri kecelakaan dan merenggut nyawanya. Sejak itu Parlemen Inggris memberlakukan Undang-Undang Anti Paparrazi, yang mengatur atau menertibkan dengan tegas etika wartawan dalam mengejar berita tanpa menyinggung hak privasi (siapa pun) pihak yang diwawancarai atau diambil fotonya.
Jadi ini juga merupakan pelajaran bagi negara dan masyarakat kita. Bila Luna akan dijerat pasal 27 Undang-Undang IT No 11/2008 tentang pencemaran nama baik insan pers (infotainment, red.), apakah sebelumnya sistem hukum negara kita sudah memback up hak pribadi Luna yang saat itu berkeberatan atau tidak siap diwawancarai wartawan, namun didesak terus sampai kepala calon anak tirinya terbentur kamera wartawan?
Kita sebagai masyarakat Indonesia yang (katanya) sangat santun dan memegang etika ketimuran, apakah juga sudah berusaha menenggang situasi ketika sang selebriti merasa belum siap diwawancarai di tengah malam, setelah lelah menghadiri gala premiere film calon suaminya, sambil menggendong calon anak tirinya yang secara fisik sudah besar sehingga berat, sementara tidak ada seorang pun yang bermaksud menolongnya, yang ada justeru mencecarnya dengan pertanyaan yang membuat kepala sang Luna makin pusing.
Bila kita berada pada situasi seperti itu, saya cukup yakin, kita juga sama pusingnya, dan kemungkinan juga sama emosionalnya seperti Luna. Kebetulan sang selebriti hidup seorang diri di Jakarta (ibu dan kakaknya tinggal di Denpasar) sehingga satu-satunya teman curhatnya hanya Twitter tersebut. Alhasil tumpahan kekesalannya tersiar ke seluruh Indonesia, dan karena Beliau adalah somebody, maka opininya langsung bak gayung bersambut.
Sebetulnya reaksi Luna dapat dipahami. Kecemasan Luna karena insiden kecelakaan calon anak tirinya dapat berisiko Beliau akan dimarahi ayah gadis kecil itu atau keluarganya. Dan, terdorong rasa tanggung jawabnya yang besar kepada anak ini, wajar bila Luna berang malam itu.Β
Pelajaran lain bagi wartawan. Bila kita tidak ingin mendapat reaksi pedas dari seseorang kita juga perlu menjaga etika kita saat memohon berita dari seseorang. Agar jangan sampai orang mengumpat sembarangan kepada kita.
Ada pepatah, apa yang kita peroleh sebetulnya adalah apa yang kita berikan kepada orang lain. Bila urusan dikejar deadline atau tekanan dari atasan saya menilai semua pekerja (tidak hanya wartawan) juga dikejar tuntutan pekerjaan. Jadi, sebetulnya ini tidak lantas menjustifikasi atau jadi alasan kita terlalu menekan sang artis untuk diwawancarai.
Mungkin kami ingin menitipkan dua butir pesan buat Saudari Luna Maya. Pertama, mohon anda berhati-hati dan waspadalah. Ini bukan kali pertama anda terseret kasus seperti ini. Sedikit saja ucapan atau sikap Anda yang salah langsung di-blow up habis-habisan bak bola panas yang dapat menghempaskan karir anda. Cobalah anda mengintrospeksi adakah pihak-pihak yang sengaja menginginkan hal ini terjadi agar karir Anda jatuh? Mengingat posisi anda sebagai selebriti Indonesia papan teratas dengan honor yang disebut-sebut tertinggi di negeri ini. Sudah pasti banyak pihak iri hati.
Saya tentu 'tidak' akan menggeneralisir atau menuduh seluruh insan infotainment Indonesia secara sistematis memusuhi anda. Juga kami 'tidak' berprasangka adanya oknum pers yang mungkin dimanfaatkan pihak tertentu yang iri hati dan melalui media pers mencoba menjatuhkan karir seorang Luna Maya dengan memancing agar anda bereaksi atau bertutur kata buruk. Namun, ada baiknya Anda mempelajari adakah kemungkinan ini? Hanya anda yang dapat menyimpulkannya sendiri.
Pesan yang kedua, untuk lebih amannya, mungkin untuk lain waktu, penampilan seorang selebritis sekaliber anda, perlu di-back up oleh sekelompok profesional di bidangnya. Misalnya: seorang penata atau pakar kepribadian untuk membantu anda menyampaikan respon secara simpatik. Terutama pada saat anda merasa tidak siap.
Kemudian mungkin perlu satu grup pengacara handal. Fungsinya untuk membela anda terutama pada saat chaos seperti ini. Terakhir mungkin sekelompok petugas pengaman (bodyguard) sewaan. Terutama saat anda harus tampil live di muka publik atau di tengah kerumunan. Agar
orang-orang juga berpikir dua kali sebelum memburu anda dan mencecar anda dengan pertanyaan-pertanyaan yang memusingkan kepala.
Terutama saat anda harus membopong seorang anak di tengah malam. Tanpa seorang pun berkeinginan membantu kerepotan Anda tapi hanya peduli untuk mengejar tayangan berita semata. Tampaknya Anda tidak dapat dibiarkan lepas sendiri di kerumunan tanpa mendapat kawalan?
Salam untuk Saudari Luna Maya. Anda pasti tidak mengenal saya. Tapi, saya selalu berdoa untuk kemajuan karirmu.
Biarlah semua pihak menyalahkanmu. Tapi, saya rasanya bisa memahami mengapa andaΒ demikian marah malam itu. Selanjutnya, semua terserah anda saja. Mungkin berinisiatif meminta maaf kepada pihak infotainment. Agar masalah ini tidak makin kacau dan terseret ke ranah hukum? Tidak selamanya meminta maaf itu pertanda kita berbuat salah. Ingatlah pepatah: mengalah untuk menang. Sukses selalu ya.Β Β
Hary Lazuardi
harzuardi@mailcity.com
(msh/msh)











































