Selain itu pemanasan global sebagai akibat penggunaan energi yang berasal dari energi fosil semakin meningkat. Iklim dunia yang semakin tidak menentu, naiknya permukaan laut yang menjadikan pulau-pulau menghilang, suhu dunia yang semakin meningkat, dan dampak pemanasan global lainnya telah membuka mata kita semua tentang pentingnya pengalihan sumber energi kita terhadap energi fosil.
Isu ini pula yang sedang hangat dibicarakan para pemimpin dunia di Kopenhagen Denmark. Para pemimpin negara-negara di dunia ini berusaha mencari kesepatan untuk menurunkan emisi karbon yang dihasilkan di negara masing-masing. Kita semua berharap di akhir konferensi nanti akan dihasilkan suatu komitmen bersama untuk menurunkan emisi karbon ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia harus sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan kepada energi fosil ke energi alternatif yang ramah lingkungan. Indonesia memiliki sumber energi alternatif yang sangat melimpah yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Kebijakan energi pemerintah selama ini belum berpihak kepada pengembangan energi alternatif. Selama ini pemerintah masih mensubsidi harga listrik. Kebijakan subsidi inilah yang kontraproduktif. Maksud hati pemerintah ingin meringankan beban masyarakat tetapi hal ini tidak mendidik dan hanya akan menyelamatkan rakyat dalam waktu yang singkat.
Sumber listrik Indonesia yang dominan saat ini berasal dari energi fosil, minyak, gas, dan batu bara. Selain sumber energi fosil ini mengemisikan gas buang yang mencemari lingkungan juga cadangannya semakin lama semakin menipis. Harga energi fosil ini juga semakin lama semakin meningkat dan akhinya subsidi yang diberikan oleh pemerintah juga akan semakin meningkat.
Seperti yang dikatakan Dirut PT PLN Fahmi Mochtar di Jakarta pada Jumat, 12 Desember 2009, "PLN Mengalami defisit gas hingga 2013". Dengan kondisi ini maka pembangkit listrik milik PLN belum akan beroperasi optimal sehingga pasokan listrik pun masih akan kurang.
Selain itu defisit gas ini memaksa PLN untuk menjalankan pembangkit berbahan bakar solar yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan gas. Hal ini menyebabkan beban subsidi listrik masih akan tinggi.
Harga listrik subsidi yang rendah ini akan menghambat pengembangan energi alternatif yang jumlahnya sangat melimpah di negeri ini. Kita ambil contoh energi panas bumi Indonesia. Indonesia memiliki potensi panas bumi yang terbesar di dunia. Dengan potensi sebesar 27.510 MWe maka kebutuhan listrik Jawa Bali akan terpenuhi. Akhirnya krisis energi akan bisa diatasi.
Belum lagi sumber energi Indonesia yang lain. Sehingga, dengan penggunaan energi alternatif yang tersedia melimpah di negeri ini Indonesia akan menjadi negara yang mandiri dalam energi. Tetapi, kenyataannya sekitar 1000 MWe energi panas bumi yang baru dikembangkan.
Semua kembali kepada pemerintah. Apakah pemerintah akan berani mengambil kebijakan yang berpihak kepada pengembangan energi alternatif yang akan menjadikan Indonesia mandiri energi atau tetap dengan kebijakan yang sekarang dengan mensubsidi listrik yang akan menjadikan kita selalu bergantung kepada sumber energi fosil.
Hidayatus Syufyan
Jl Tubagus Ismail VIII No 62 A Bandung
hidayatus_syufyan@yahoo.com
085648593442
Penulis adalah Mahasiswa Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung.
(msh/msh)











































