Untuk mendeskripsikan situasi korupsi di bangsa ini tidak ada salahnya kita menengok perkataan Bung Hatta yang dimuat dalam Indonesian Observer, Juli 1970. Beliau mengungkapkan bahwa praktek korupsi sudah menjadi seni dan merupakan bagian dari budaya. Ungkapan Bung Hatta tentunya berdasarkan penelitian dan analisa yang mendalam pada perjalanan sejarah bangsa ini.
Sebenarnya praktek korupsi adalah salah satu warisan penjajahan Belanda. peninggalan ini masih diperagakan oleh penganut-penganutnya. Catatan sejarah telah memaparkan bahwa praktek korupsi dimulai pada pertengahan abad 18 ketika itu Asosiasi Dagang Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) runtuh akibat praktek korupsi yang merajalela. Sehingga, pada tahun 1799 asosiasi dagang VOC diplesekkan menjadi Verhaan Onder Corruptie akibat korupsi yang terjadi di tubuh VOC.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengusaha-pengusaha yang mendapatkan izin hanyalah kelompok tertentu. Orang-orang yang dekat dengan pemerintah dan mempunyai kekuatan-kekuatan politik yang dominan.
Setelah Orde Lama tenggelam muncullah Orde Baru yang bertujuan merenew sistem yang dianggap gagal pada pemerintahan Orde Lama sekaligus mem-follow up program-program yang dianggap berhasil sebelumnya. Realitanya sistem yang diusung Soeharto justru sebaliknya. Praktek korupsi tetap dianut oleh pemerintahan Orde Baru. Bahkan, semakin parah dari Orde lama.
Power politik Sueharto dapat menyihir masyarakat menjadi buta. Mereka malah memuji dan menjadikannya sebagai idola. Masyarakat jelata disilaukan dengan pembangunan Orde Baru yang senantiasa digalakkan dengan supply dana pinjaman. Para pakar politik hanya membatu. Mereka hanya diam membisu. Akibatnya praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) bukan hanya terjadi di kalangan pejabat militer dan aparat birokrasi Orde Baru akan tetapi juga telah mengalir dikalangan keluarga Cendana.
Pada tahun 1998 kekuasaan Sueharto lenser dari tahtanya berkat jeritan suara dan gerakan mahasiswa yang menyuarakan reformasi. Tiba-tiba muncul BJ Habibie sebagai jargon pembaharu, sang reformis.
Dalam kurun waktu yang sangat singkat Habibie berhasil memperbaiki roda pemerintahan di beberapa sektor. Termasuk nilai tukar rupiah yang semakin menguat. Akan tetapi, pergulatan politik yang sangat sengit. BJ Habibie digulingkan oleh golongan tertentu. Aliran politik yang menginginkan kebodohan di masyarakat supaya mereka dapat menyiapkan 'harta karun' untuk anak cucu tujuh turunan. Inilah nasib Bangsa ini yang belum bisa menemukan solusi terbaik.
Kepemimpinan Gus Dur dan era Megawati Soekarno Putri tidak memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Bangsa. Malahan aset negara diperdagangkan. Uang rakyat dihamburkan untuk travelling tanpa tujuan yang jelas. Praktek korupsi belum bisa ditemukan solusinya. Dari mana memulai untuk mencegahnya.
Β
Dari sekilas perjalanan sejarah bangsa ini dapat dikatakan bahwa untuk mengubah sebuah budaya yang telah diwarisi turun-temurun bermula dari penjajahan Belanda, Orde Baru, Orde Lama tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perubahan memang memerlukan jenjang waktu dan usaha yang memadai untuk meluruskannya.
Menurut analisa penulis 'budaya korupsi' bukanlah tabiat orang Indonesia. Suku apa pun yang bermukim di dataran bangsa ini tidak memiliki budaya korupsi, maling, pencuri, atau pun perampok. Ini hanya warisan dari penjajah Belanda. Warisan yang singgah di tubuh para pemegan kekuasaan setengah abad yang lalu. Dengan kemauan yang tinggi, keinginan yang mendalam untuk memajukan negara ini, niscaya praktek korupsi bisa dikikis sedikit demi sedikit hingga pada akhirnya Bangsa bita akan mencapai kejayaan.
Sejenak kita menoleh perjuangan Sang Reformis sejarah manusia. Dia hidup lingkungan Jahiliyah. Era yang penuh kegelapan dan kedzaliman. Akan tetapi, dengan perjuangan melawan kejahiliyahn, meluruskan kekufuran, dan berdialog dengan penganut agama lain menghasilkan buah kejayaan yang terpencar di hamparan padang pasir hingga menjadi suatu risalah Rahmatan lil alamin. Kesejukan pencerahan Beliau sampai di dataran Nusantara ini. Beliau adalah Rasul terakhir. Sang pembawa risalah untuk semua manusia hingga akhir zaman. Beliau adalah Rasulullah Muhammad SAW.
Kiranya tetesan keringat teman-teman seperjuanganku pada tanggal 9 Desember lalu mendapatkan sebuah hasil. Sekali pun hanya secuil. Mereka adalah para mahasiswa yang menginginkan keadilan dan kemajuan di bangsa ini. Mereka tidak peduli dengan cegaan aparat. Sengit panas matahari. Mereka dengan lantang berteriak menyuarakan inspirasi rakyat, "Hentikan Korupsi Sekarang Juga".
Muammar Baba
International Islamic University Malaysia (IIUM) jalan Gobak
kuala Lumpur
remcak@yahoo.com
+201030507
Penulis adalah pemerhati Bangsa, sendang menyelesaikan pasca sarjana (S2) di International Islamic University Malaysia (IIUM), Jurusan Islamic Revealed Knowledge and Heritage Studies (IRKHS).
(msh/msh)











































