Bank Century dan Cara Pandang Sarjana Ekonomi

Bank Century dan Cara Pandang Sarjana Ekonomi

- detikNews
Selasa, 01 Des 2009 18:13 WIB
Bank Century dan Cara Pandang Sarjana Ekonomi
Jakarta - Sebuah karya menarik dari Daniel B Klein, "What Do Economists Contribute?" (2001), seolah-olah mempertanyakan kembali sumbangsih sarjana ekonomi terhadap kehidupan masyarakat. Suatu pertanyaan mendasar namun layak dipertanyakan dan kaji ulang kembali kepada sarjana ekonomi.

Apalagi di tengah semaraknya kasus Bank Century, skandal yang melibatkan para ekonom, di mana merupakan sebagian kecil dari dosa-dosa sarjana ekonomi. Merupakan refleksi kegagalan sistem pendidikan ekonomi. Kegagalan dari suatu cara pandang (world-view). Hal ini disetujui oleh George J Stigler. Begitu juga Israel M Kirzner.

Cara pandang (world view) tidak hanya apa yang ada di dalam kepala. Namun, refleksi dari spirit dan keyakinan dalam diri manusia. Hal itu berasal dari ilmu (knowledge) yang dipelajari sehingga membentuk sistem tatanan worldview. Bila ilmu itu salah maka perbuatannya akan salah.Β 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kasus Bank Century kita bisa melihat cara pandang kaum ekonom dalam menangani kasus itu. Penanganan secara pragmatis dan terkesan manipulatif. Tanpa memikirkan efek jangka panjang dari episode sebuah kebijakan. Melupakan prinsip kemaslahatan dan intregalisasi kebijakan dari sebuah sistem kehidupan. Landasan kebijakan yang bersifat instan dan berdasarkan pada potret angka kondisi makro. Sebenarnya, amat disayangkan.Β 

Karena dalam konteks kebijakan ekonomi tidak terlepas dari banyak variables. Hal ini secara tidak langsung diakui oleh friedrich A Hayek (on being an economist: 1991).

Dalam konteks kebijakan bailout Bank Century kita dapat melihat bagaimana suatu sistem cara pandang (world view) sarjana ekonomi itu berjalan. Akan lain cerita bila keputusan yang diambil berdasarkan pada cara pandang yang mengedepankan pada kemasalahatan rakyat. Berani berjuang dan berkorban untuk mewujudkan keadilan.

Kasus Bank Century seharusnya menjadi bagian pelajaran bagi para sarjana ekonomi. Tidak hanya mengandalkan pada teks book namun harus berfikir inter-Alia, komprehensif dalam mengambil suatu keputusan. Tidak hanya berdasarkan pada bukti empiris semata, namun hendaknya mempertimbangkan akibat yang ditimbulkan secara luas.

Mungkin terlihat sepele. Namun, cara pandang (world view) merupakan landasan utama dalam pengambilan keputusan. Membentuk sarjana ekonomi, apakah menjadi sarjana ekonomi yang pragmatis, lebih memilih keputusan yang menguntungkan golongan. Melupakan tujuan ekonomi untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan.

World-view dapat menjadikan seorang sarjana ekonomi yang berani berkorban untuk kepentingan bersama. Alangkah bijaksananya kalau kita mau meneladani dan melihat cara pandang (world view) Muhammad Hatta dalam menyelesaikan kasus-kasus ekonomi yang terjadi dalam masa lalu. Di mana prinsip dan spirit tetap berlaku dalam kondisi saat ini.

Kesalahan cara pandang itulah yang melahirkan kebijakan bailout Bank Century sehingga menguapkan uang rakyat sebesar 6,72 triliun. Angka yang cukup fantastis dan tragis. Akan lebih bermanfaat bila angka tersebut untuk diberikan kepada UMK. Karena ternyata pertumbuhan makro tidak secara signifikan mengurangi kemiskinan dalam realitas kehidupan masyarakat Indonesia.

Kriminalitas akan turun bila kesejahteraan dan keadilan terpenuhi. Pencuri atas nama sesuap nasi, dan kemiskinan akah hilang dengan sendiri.

Memang, skandal Bank Century merupakan bencana bagi seluruh rakyat Indonesia karena mengulang kembali episode BLBI. Namun, merupakan suatu pelajaran berharga bagi para sarjana, yang berada dalam pusat kekuasaan, untuk berkaca dalam memutuskan suatu kebijakan. Agar selalu mengedepankan kemaslahatan bersama. Tanpa melupakan cara-pandang yang bijaksana.

Memang ada benarnya pendapat Naquib al-Attas, bahwa cara pandang yang menentukan peradaban dan warna kehidupan.Β Β Β Β Β Β Β Β Β 

Muhammad Abdul Ghani
Mahasiswa Master Ekonomi IIUM
Deputy Director of ISEFID ( Islamic Economic Forum For Indonesia Development)
Asistan Peneliti, Fakultas Ekonomi Intenational Islamic University Malaysia (IIUM)
Ghani_muh@yahoo.com




(msh/msh)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads