Inilah sepenggal kisah seorang pejuang perempuan yang hidup ribuan tahun silam. Beliau tak lain adalah Siti Hajar. Ia harus rela berlari-lari antara Safa dan Marwah demi menemukan sumber kehidupan yakni mata air. Meski akhirnya Allah pun menjawab perjuangan Siti Hajar dengan ditemukannya sumur Zamzam.
Sebagai wujud penghargaan hingga kini momentum tersebut terus diamalkan dalam ritual ibadah haji jutaan manusia dengan melakukan sa'i. Air Zamzam pun tetap menjadi saksi bisu yang terus memancarkan air berlimpah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beragam hikmah dapat kita petik dari seri perjalanan hidup Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Ismail AS. Ada pesan pengorbanan, ada pesan sosial, ada pesan spiritual, dan sebagainya. Dan, di antara pesan-pesan itu salah satunya adalah pesan bahwa lingkungan sangat berarti bagi kelangsungan hidup manusia.
Ketika ditinggal Ibrahim AS, Siti Hajar sadar bahwa ia harus mencari sumber kehidupan sebelum kebutuhan yang lain. Sumber itu adalah mata air. Dalam perspektif teologis, kita punya keyakinan bahwa Allah SWT menciptakan bumi dalam keadaan yang seimbang dan berlimpah sumber daya. Bagaimana tidak. Di tengah gurun yang tandus ternyata banyak tersimpan oase-oase yang terpencar.
Idul Adha atau Idul Qurban tahun ini bertepatan dengan awal musim penghujan. Di beberapa tempat di Nusantara gema takbir diiringi rintikan air. Ada suasana suka cita ketika air hujan mulai mengguyur bumi. Suka karena pertanda air tak lagi sulit dicari. Tak sedikit pula yang was-was. Khawatir banjir akan segera hadir.
Yang suka dan yang was-was sebenarnya memiliki titik temu yakni bagaimana harapannya dapat terealisasi. Bagaimana agar air hujan dapat optimal menjawab kekeringan. Dan, bagaimana agar kekhawatiran banjir tidak menjadi kenyataan. Konsekuensi keduanya sama yaitu butuh upaya memperlakukan dan melestarikan air.
Ketika Idul Qurban kita dibelalakkan dengan perjuangan Siti Hajar untuk mendapatkan setetes air. Maka apakah layak sekarang ketika air berlimpah kita menggunakan semaunya? Tidak usah jauh-jauh pada saat yang sama masih banyak daerah yang kekurangan air dan harus membelinya dengan harga tidak murah.
Dari sudut pandang ekologi, sosial, maupun spiritual, budaya menghemat air mesti ditekankan. Tak cukup itu. Perlu upaya-upaya yang komprehensif dan sistematis agar lingkungan tetap lestari dan mampu mendukung kehidupan makhluk hidup.
Semua yang terjadi di muka bumi tak semuanya alami. Sejumlah permasalahan lingkungan justru kebanyakan disebabkan oleh tindakan manusia sendiri. Sebut misalnya banjir dan kekeringan.
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." Demikian, Allah SWT memperingatkan dalam Al-Quran Surat Ar Rum Ayat 41.
Bagi insan beriman kita diharuskan berpikir dan bertindak terhadap peringatan tekstual maupun kontekstual. Allah SWT mensyaratkan bahwa Ia tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan pada diri mereka sendiri. Konsekuensi logisnya, terhadap segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar, kita mesti bertanggung jawab.
Banyak hal konkrit bisa dilakukan untuk menindaklanjuti kebutuhan melestarikan lingkungan. Misalnya dengan menghijaukan daerah tangkapan air dan mata air, mengupayakan memanen air hujan, membangun fasilitas yang ramah lingkungan, dan sebagainya.
Idul Adha kiranya dapat menjadi momentum untuk merenung bagi semua pihak bahwa Islam sesungguhnya sangat arif dan memperhatikan lingkungan. Islam juga memiliki konsep dan strategi untuk melestarikannya. Semua ini memberikan catatan bahwa sebagai bagian ajaran keagamaan, melestarikan lingkungan hendaknya menjadi bagian tak terpisahkan dalam proses dakwah dan ibadah.
Bagi pemerhati lingkungan non muslim semoga akan menstimulasi untuk segera mengorek bagaimana agamanya masing-masing memberi solusi dalam permasalahan ini. Dalam konteks keduniawian optimalisasi ajaran masing-masing sangat berharga bagi keberlanjutan pembangunan.
Pendekatan teologis ini sangat strategis dan efektif mengingat agama menjadi urusan fundamental setiap penduduk. Dan, tentunya sentuhan refleksi teologis akan menjadi sarana ampuh menggugah kesadaran pemeluknya untuk semakin peduli pada lingkungan yang lestari.
Ribut Lupiyanto
Penulis adalah Peneliti dan Ketua Divisi Riset Pusat Studi Lingkungan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.
(msh/msh)











































