Spirit Idul Adha dan Solusi Persoalan Bangsa

Spirit Idul Adha dan Solusi Persoalan Bangsa

- detikNews
Jumat, 27 Nov 2009 18:47 WIB
Spirit Idul Adha dan Solusi Persoalan Bangsa
Jakarta - Secara tekstual Idul Adha berarti kembali kepada hari pengorbanan atau penyembelihan. Namun, secara kontekstual Hari Raya Idhul Adha mengajarkan kita untuk mengenang kembali spirit peristiwa heroik pengorbanan dalam sejarah peradaban umat manusia.Β 

Suatu peristiwa terabadikan dalam Kitab suci Al Quran. Manifestasi kisah ketulusan cinta dan pengabdian pada kebenaran. Nabi Ibrahim diuji oleh Allah untuk menyembelih anaknya yang bernama Ismail. Secara manusiawi Ibrahim sangat berat untuk menyembelih anaknya sendiri. Iblis pun ikut sibuk berdiplomasi meruntuhkan nyali Ibrahim dan keluarganya.

Sekilas kisah ini dapat dilihat dalam Al Quran surat Ash Shaaffaat: Ayat 99-108. "Dan Ibrahim berkata: "sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh." Maka Kami beri Ibrahim khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maka tatkala anak itu sampai pada umurnya, Ibrahim berkata: "hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: "hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan, Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian (QS 37:99-108).

Kisah kepahlawanan Nabi Ibrahim terabadikan dalam Ibadah haji. Merupakan puncak rasa syukur pada Allah. Wujud dari perjuangan dan deklarasi perseturuan abadi terhadap kejahatan setan. Menjelma dalam salah satu kewajiban ibadah haji yaituΒ  jumrah aqabah.

Ibadah haji dan qurban bukan hanya rutinitas tahunan. Namun, pada hakekatnya merupakan refleksi dari pembaharuan niat dan tekad dalam diri manusia untuk selalu berjuang dengan kesabaran dalam menghadapi realita kehidupan.

Mengajarkan manusia untuk tegar dalam menghadapi tantangan dan cobaan. Seperti batu karang yang menghujang tinggi di angkasa. Selalu tegap menghadapi ombak dan terpaan badai yang menguncang.

Hari Raya Idul Adha diikuti oleh tiga hari haram untuk berpuasa merupakan refleksi kemenangan atas nama kebenaran, mengharamkan manusia untuk terjerumus dalam kemungkaran dan kejahatan. Secara makro hari raya kurban memberikan ajaran dan tuntunan pada manusia untuk selalu berjuangan menghadapi kebatilan dengan kerelaan dan keikhlasan. Secara mikro memberikan pelajaran bagi individu untuk selalu mencintai zat maha abadi dan selalu bersabar dengan ujian yang diberikan oleh Tuhan.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bangsa Indonesia, akibat kurangnya rasa cinta dan ketulusan kasih sayang pada pencipta Alam, hilangnya komitmen manusia terhadap kebenaran dan keadilan, kasus Bank Century, perseturuan KPK dan polisi, serta korupsi. Akibat ketamakan, kerakusan dan kelengahan manusia dalam menghadapi bujuk rayu setan. Yang telah menjelma dalam tindakan manusia.

Hanya dengan semangat ruh Idu Adha persoalan bangsa akan terselesaikan. Karena komitmen dan ketulusan tanpa pamrih untuk selalu mengabdi pada Kebenaran merupakan kunci utama dalam menyelesaikan semua peristiwa yang membuat carut marut bangsa ini. Semangat cinta yang diajarkan Ibrahim pada umat manusia merupakan ruh kehidupan guna mencapai kebahagiaan.

Peristiwa-peristiwa yang menimpa bangsa Indonesia, baik dari bencana alam sampai skandal Bank Century merupakan teguran Tuhan atas kelalaian semua elemen bangsa akan semangat Idul Adha. Namun, hal ini seyogyanya mendorong seluruh elemen masyarakat untuk introspeksi diri dan melakukan perbaikan guna perubahan bangsa ini.

Pemerintah pun hendaknya bekerja sama dengan masyarakat, tidak arogan, dan memandang sebelah mata. Selalu meneladani kisah Ibrahim dan Ismail sebelum memutuskan suatu perkara. Karena, peremehan pemerintah terhadap masyarakat hanya akan menghancurkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kesatuan tekad antara Ibrahim dan Ismail dalam mewujudkan pengabdian dan pengorbanan diri pada Tuhan. Melahirkan kebahagian dan tinta emas dalam sejarah kehidupan umat manusia.

Demikian pula dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat ini. Akan menjadi episode sejarah bagi generasi nanti. Bila penanganan kasus-kasus yang ada hanya berdasarkan nafsu, meninggalkan spirit Idhul Adha, niscaya generasi nanti akan mencatat dengan noda hitam. Memberikan cibiran dan makian akan tingkah laku pejabat dan masyarakat hari ini.

Namun, sebaliknya bila semua elemen mengamalkan semangat Idhul Adha maka persoalan bangsa ini akan cepat teratasi. Spirit Idul Adha mengajarkan kita untuk selalu cinta dan komitmen terhadap kebenaran. Senantiasa bersatu dalam menghadapi tantangan dan cobaan. Optimis dalam meraih kebahagiaan sejati.

Muhammad Abdul Ghani
Mahasiswa Master Ekonomi IIUM
Deputy Director of ISEFID ( Islamic Economic Forum For Indonesia Development)
Asistan Peneliti, Fakultas Ekonomi Intenational Islamic University Malaysia (IIUM)
Ghani_muh@yahoo.com




(msh/msh)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads