Β
Alhasil pemadaman listrik di beberapa daerah di Indonesia dalam jangka waktu tertentu pun tidak dapat terhindarkan lagi untuk menambal kekurangan energi listrik di daerah Indonesia lainnya. Mungkin cara seperti ini dapat kita sebut dengan "Tambal Sulam Energi Listrik".Β
Β
Belum lagi permasalahan cash flow perseroan yang buruk menambah babak belurnya perusahaan ini. Tampaknya kutukan rapor merah PT PLN belum bisa dilepaskan hingga saat ini.
Β
Dari beberapa tahun silam telah ada aroma segar dari pihak pemerintah bahwa akan dicanangkannya pembangunan pembangkit listrik 10 ribu megawatt sebagai solusi untuk menambah pasokan energi listrik ini. Sayangnya rencana ini masih belum bisa terealisasikan karena kantong uang PT PLN semakin jebol akibat ketidakseimbangan harga penyediaan energi yang ditentukan mekanisme pasar dan harga energi listrik yang ditentukan pemerintah.Β
Β
Akibat hal ini Wakil Direktur Utama PT PLN Rudiantara mengatakan bahwa PLN harus mencari pinjaman dana baik dari perbankan nasional maupun perbankan asing untuk merealisasikan proyek pembangunan itu. Jika hal itu dirasa masih kurang PLN harus melakukan simulasi tarif baru hingga 30 persen alias yang tak lain akan menjadi cikal bakal naiknya tarif harga listrik Indonesia.Β Β
Β
Di samping rencana pembangunan itu ada lagi beberapa regulasi energi listrik pemerintah yang kini dirasa pihak legislatif harus dikaji ulang. Anggota Komisi Pertambangan dan Energi Tjatur Sapto Edi mengatakan harus dilakukannya subsidi silang dengan menaikan tarif listrik konsumen kelas atas dan tidak menaikkan tarif listrik konsumen kelas rumah tangga. Selain itu Tjatur juga mengusulkan bahwa perlunya pelepasan harga konsumen komersial untuk kelompok pelanggan kelas perusahaan dan industri karena dirasa sangat tidak adil.
Β
Rasanya tak akan cukup berbicara solusi penyelamatan PLN dari sisi pemerintah saja. Sekarang mari kita bertanya. Apakah segala daya upaya pemerintah itu cukup untuk menyelamatkan perusahaan ini? Apakah budaya konsumtif energi listrik dari sebagian besar masyarakat Indonesia itu berpengaruh dan perlu dipertanyakan?Β
Β
Mari kita lihat pemandangan kesehariaan di lingkungan sekitar kita. Masih banyak kita temukan pemakaian listrik yang berlebihan dan tidak sesuai waktunya. Lampu yang masih menyala di pagi hari. Televisi yang tetap menyala walau tidak ada seorang pun yang menonton. Kipas angin yang terus berputar setiap hari. Dan, hal-hal konsumtif lainnya yang seolah menjadi budaya yang sudah melekat untuk masyarakat kita.Β
Β
Dengan melihat realita masyarakat yang ada tak cukup tangan pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan ini. Walaupun pemerintah telah berusaha meningkatkan pasokan energi listrik dengan berbagai upaya namun jika budaya konsumtif dari masyarakat tidak dapat dikurangi maka upaya penyelamatan ini tidak akan pernah berhasil.Β
Β
Maka dari itu perlu adanya sinergisasi antara pemerintah dan juga masyarakat. Dua arah penyelamatan. Dari Up to Bottom (pemerintah ke masyarakat) dan Bottom to Up (masyarakat ke pemerintah).Β
Β
Dari Up to Bottom, pemerintah berupaya memutar otak untuk merealisasikan pembangunan pembangunan pembangkit listrik 10 ribu megawatt untuk menambah pasokan energi listrik Indonesia. Dari Bottom to Up masyarakat bahu membahu melakukan pencerdasan diri dan melakukan program penghematan listrik bersama yang difasilitasi pemerintah daerah setempat untuk menekan laju pertumbuhan pasokan energi listrik Indonesia. Kalau dua hal ini dapat berjalan dengan baik maka resolusi penyelamatan perusahaan ini akan sangat mungkin dapat dilakukan dalam waktu yang lebih cepat.
Β
Ryan Alfian Noor
Jl Tubagus Ismail VIII 62 AΒ
Bandung
rjan_alfian_noer@yahoo.co.id
0856520858060
Β
Penulis adalah Mahasiswa di Program Studi Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung .
(msh/msh)











































