Tsunami Jakarta dan Pentingnya Mengingat Bencana

Tsunami Jakarta dan Pentingnya Mengingat Bencana

- detikNews
Rabu, 11 Nov 2009 18:16 WIB
Tsunami Jakarta dan Pentingnya Mengingat Bencana
Jakarta - Mungkin kita tidak akan pernah tahu bahwa Kota Jakarta pernah luluh lantak akibat gempa bumi jika Willard A Hanna tidak mengungkapnya dalam buku karyanya yang berjudul "Hikayat Jakarta". Dalam buku ini ia bercerita bahwa citra Jakarta yang dijuluki Ratu Timur menjadi pudar setelah mengalami gempa bumi yang bukan main dahsyatnya.

Gempa bumi yang disertai dengan letusan-letusan gunung api dan hujan abu yang tebal itu terjadi pada malam hari tanggal 4 dan 5 November 1699. Dampak gempa bumi telah menimbulkan kerusakan parah di seluruh penjuru kota dan menyebabkan kerusakan besar pada gedung-gedung.

Gempa bumi ini juga menyebabkan kacaunya persediaan air akibat porak porandanya sistem pengaliran air di seluruh daerah. Terusan-terusan sungai yang penuh lumpur abu gunung api. Aliran sungai Ciliwung bahkan berubah dan membawa sekian banyak endapan ke tempat di mana sungai itu mengalir ke laut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Atau, mungkin kita juga tidak akan pernah tahu bahwa pantai Jakarta pernah dilanda tsunami jika tidak ada saksi bisu berupa sisa-sisa benteng tentara VOC di Kepulauan Seribu (Pulau Onrust) yang hancur karena dilanda tsunami tahun 1883. Tsunami yang dicetuskan oleh letusan Krakatau itu menewaskan begitu banyak orang di Pantai Jawa dan Sumatera, dan bergerak ke seluruh dunia. Gelombangnya yang sangat besar hingga menewaskan lebih dari 3.000 orang kala itu.

Kita rupanya telah menjadi generasi yang mudah melupakan sejarah bencana alam mengerikan yang terjadi di negeri ini karena kejadiannya sudah berlangsung pada masa lalu. Padahal mengingati sejarah bencana alam masa lalu merupakan modal utama dalam mengenali potensi bahaya yang mengancam diri dan generasi kita.

Kita patut bangga memiliki saudara-saudara di Pulau Simeulue yang menjadikan kisah bencana berabad-abad lalu menjadi cerita rakyat yang turun temurun. Hingga kisah itu pun terbukti efektif dalam menyelamatkan satu generasi di pulau tersebut dari serangan gelombang tsunami pada 26 Desember 2004.

Ada juga pelajaran yang patut kita teladani dari saudara-saudara kita di Jepang. Mereka terbiasa membangun monumen peringatan dan penghormatan pada setiap kejadian bancana alam yang memakan banyak korban jiwa. Mereka juga terbiasa mengkompilasi sejarah bencana alam sebagai bagian dari pembelajaran masyarakat agar selalu waspada dan selalu siap dalam meghadapi bencana alam (gempa bumi dan tsunami).

Tapi, tampaknya kita belum begitu tertarik untuk membangun tugu-tugu peringatan bencana alam pada setiap kejadian tragis bencana alam yang merenggut ratusan bahkan ribuan nyawa saudara-saudara kita. Kita belum paham bahwa dengan mengingati mereka, membaca kisah bencana alam, menuturkan ke anak-anak dan cucu-cucu kita tentang sejarah bencana masa lalu akan mencetak manusia-manusia yang swasadar bencana alam.

Semua ini demi untuk menyelamatkan generasi mendatang. Anak cucu kita sendiri. Tampaknya kita lebih condong kepada pemikiran melupakan karena kita telah terbiasa dengan ungkapan: yang lalu biarlah berlalu. Seolah nyawa manusia dihargai begitu murah sehingga layak dilupakan.

Msyarakat kita memilih suka heboh jika ada isu akan terjadi gempa bumi besar akan melanda. Mereka terkadang lebih percaya kepada "peramal-peramal gempa bumi" yang seolah mereka sudah menamatkan berbagai modul kursus tingkat lanjut tentang ilmu gempa bumi (seismologi). Hingga mereka berhasil membuat panik masyarakat yang sering "kagetan" ini.

Tidak bosan-bosannya mereka bertanya apa benar akan terjadi gempa bumi besar. Hingga kita seolah kehabisan tenaga untuk menjelaskannya saking banyaknya pertanyaan dilontarkan.

Rasanya sudah sejak dahulu, instansi berwenang, media cetak dan elektronik, sudah
menggemborkan bahwa gempa bumi hingga kini belum bisa diprediksi. Namun, kenyataannya masyarakat kita juga tak mau tahu. Terus saja mereka "enjoy" dengan panik dan heboh jika ada isu akan terjadi gempa bumi.

Itulah potret masyarakat kita. Mereka enggan belajar. Atau itu merupakan indikator bahwa kita telah gagal dalam sosialisasi gempa bumi dan tsunami. Saya yakin jika mindset masyarakat kita berubah, mau belajar, mau mendengar, mau memahami kejadian bencana alam masa lalu, mengikuti perkembangan yang terjadi, maka akan terhindar dari rasa "kagetan" jika ada isu akan terjadi gempa bumi.

Daryono

Penulis adalah Mahasiswa Tugas Belajar BMKG di Fakultas Geografi Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta.




(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads