Ketika Gempa Mengguncang Sumbawa

Ketika Gempa Mengguncang Sumbawa

- detikNews
Rabu, 11 Nov 2009 08:42 WIB
Ketika Gempa Mengguncang Sumbawa
Jakarta - Suatu gempa kuat mengguncang ketenangan Pulau Sumbawa Propinsi Nusa Tenggara Barat pada Senin pagi buta 9 November 2009 pukul 03:42 WITA. USGS National Earthquake Information Center menyebutkan gempa ini memiliki magnitude 6,7 skala magnitudo dengan kedalaman sumber (hiposentrum) hanya 18 km dengan episentrum di pesisir pantai yang hanya berjarak 15 km dari kota Bima.

Gempa ini bersumberkan dari pematahan segmen batuan secara naik miring (dengan sudut dip 32 derajat) seluas 30 x 15 km persegi di patahan naik Flores yang mengarah ke timur (azimuth 83) dan menyebabkan pergeseran total sejauh 100 cm (rata-rata). Proses pematahan ini melepaskan energi sebesar 169 kiloton TNT atau 8,5 kali lipat lebih besar ketimbang energi bom Hiroshima dan getarannya merambat hingga radius 516 km dari episentrum.

Namun, getaran yang cukup terasakan manusia (dengan intensitas guncangan minimal pada skala 3 MMI) menjalar hingga sejauh 261 km, berdasarkan model peluruhan (atenuasi) guncangan dengan koefisien empirik 0,00432 +/- 0,00148. Guncangan tanah yang dihasilkan gempa ini nampaknya meluruh cukup cepat secara eksponensial seiring pertambahan jarak dari episentrum. Sehingga, kota Mataram (Ibu Kota Propinsi Nusa Tenggara Barat) yang berjarak 286 km dari episentrum hanya mengalami guncangan 3 - 4 MMI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kota Bima menjadi pusat pemukiman terdekat terhadap episentrum gempa dan menderita guncangan tanah cukup kuat. Hingga intensitas 7 - 8 MMI yang membuat ratusan rumah roboh di segenap penjuru kota.

Secara kualitatif guncangan berintensitas 8 MMI memang sudah mampu menyebabkan kerusakan bangunan bermutu baik, merobohkan bangunan bermutu jelek, dan menghasilkan 'pelelehan' (likuifaksi) tanah akibat akselerasi tanah yang sanggup mencapai 30% percepatan gravitasi Bumi. Secara kuantitatif guncangan yang diderita kota Bima setingkat lebih besar ketimbang kota Padang (pada gempa 30 September 2009).

Namun, dengan populasi lebih rendah --berdasar USGS Landscan 2005 kota ini hanya dihuni 67.000 jiwa, maka estimasi risiko yang diderita kota ini lebih kecil ketimbang Padang. Ini ditunjukkan oleh laporan sementara korban gempa. Jumlah korban tewas 1 orang dan ratusan luka-luka.

Mengapa gempa mengguncang Pulau Sumbawa. Kita harus melihatnya sebagai bagian dari keunikan Sumbawa dan untaian gugusan Kepulauan Sunda Kecil (Bali dan Nusatenggara) pada umumnya --yang merupakan kekhasan tanah Nusantara dibandingkan lokasi lain mana pun di Bumi ini.

Berbeda dengan Pulau Jawa, Sunda Kecil dijepit oleh dua jalur sumber gempa yang paralel di sebelah utara dan selatan kepulauan ini. Jalur gempa di sisi selatan adalah zona subduksi lempeng Australia dengan Eurasia, yang pada 1977 silam pernah memproduksi gempa besar (8,0 skala magnitudo) hingga menerbitkan tsunami dengan ketinggian maksimum 15 meter yang merenggut nyawa 360 orang.

Sementara di sisi utara membentang patahan besar Sula yang secara geologis merupakan patahan naik busur belakang (back arc thrust) sebagai manifestasi interaksi antar lempeng nan rumit di pulau Sulawesi. Patahan besar ini, yang terbagi menjadi patahan naik Flores dan Wetar, lebih aktif ketimbang zona subduksi dan dalam histori seismiknya telah menggenerasikan sejumlah gempa kuat/besar. Ditambah dengan kontur dasar Laut Flores yang cenderung curam dengan kemiringan lereng 27 - 40% dan hanya berjarak 5 km dari patahan sumber gempa, maka gempa-gempa di sepanjang patahan besar ini berpotensi lebih besar untuk diikuti longsoran yang bisa menerbitkan tsunami merusak yang di luar dugaan (Kris Budiono, 2009).

Gempa 12 Desember 1992 misalnya. Dengan magnitude 7,8 skala magnitudo dan sumbernya sejauh 345 km di sebelah timur gempa Bima kali ini ternyata diikuti longsoran besar yang menerbitkan tsunami setinggi maksimum 26,5 meter. Rekor tsunami tertinggi di abad ke-20.

Tsunami ini merontokkan sebagian pesisir utara Flores, melenyapkan Tanjung Watupayung dari peta bumi, dan merenggut korban jiwa 1.750 orang di kota Maumere dan sekitarnya. Jauh hari sebelumnya gempa pada tahun 1820 dengan sumber 30 km di sebelah utara gempa Bima kali ini menerbitkan tsunami setinggi 24 meter dan merenggut nyawa 400 orang.

Dengan karakter geologis sedemikian sudah seharusnya kehidupan manusia di untaian Kepulauan Sunda Kecil menyesuaikan diri dengan jalur-jalur sumber gempa potensial yang mengapitnya. Pemukiman dan pusat aktivitas sebaiknya disesuaikan dengan potensi jurus (azimuth) sumber-sumber gempa potensial, yang relatif mengarah ke barat - timur. Bangunan juga sebaiknya diperkuat, dengan menggunakan elemen-elemen lokal, sehingga bisa menahan guncangan tanah sampai 8 MMI.

Jauh lebih penting dari aspek fisik tersebut adalah bagaimana mendidik dan menyiapkan manusia Kepulauan Sunda Kecil khususnya Pulau Sumbawa. Bahwa mereka hidup di zona rawan gempa. Sedangkan kapan dan di mana gempa berikutnya akan meletup masih menjadi misteri yang tak bisa diramalkan para ilmuwan yang menggeluti Bumi.

Apa yang diprediksi dalam situs NextEarthquake misalnya. Sebenarnya tidak bisa diterapkan di Indonesia mengingat resolusi spasial prediksi itu cukup besar (yakni radius 500 km). Padahal untuk konteks Indonesia pada umumnya dan Kepulauan Sunda Kecil pada khususnya dalam radius tersebut telah berhimpitan puluhan atau ratusan sumber-sumber gempa.

Dan, dengan kondisi perairan yang lebih rawan menghasilkan tsunami dan terjangannya ke daratan berlangsung dalam tempo singkat (5 - 15 menit) maka hanya pengetahuanlah yang bisa berperan sebagai early warning systems terbaik. Bukan menara peringatan dini tsunami. Bukan pula ramalan gempa.

Inilah tantangan besar yang musti diatasi pemerintah dengan memasukkan pengetahuan bencana gempa dan tsunami ke dalam muatan lokal kurikulum pendidikan setempat. Tantangan cukup besar di sini mengingat, ironisnya, wilayah ini dikenal sebagai wilayah yang dibelit kemiskinan dan pendidikan yang rendah. Berkebalikan dengan kekayaan mineral bahan tambang dan kesuburan tanah yang dihasilkan dari proses geologis setempat.

Namun, upaya tersebut harus dilakukan sebagai bagian manusia Indonesia memahami bumi dan lingkungannya untuk menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih bersahabat dengan gempa. Jika tidak demikian maka kita hanya akan sekedar menjadi tukang menjalani kisah sedih.

Ma'rufin Sudibyo
Jl Nanas C-4 Jadimulya Cirebon
marufins@yahoo.com
0817727823


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads