Menteri Terpilih

Menteri Terpilih

- detikNews
Jumat, 06 Nov 2009 18:25 WIB
Menteri Terpilih
Jakarta - Sebelumnya kepada seluruh menteri terpilih penulis ucapkan "Selamat Bekerja". Amanah dan kepercayaan presiden sekaligus rakyat yang dibebankan di pundaknya. Semoga dapat memberikan karya terbaik.
 
Kabinet Indonesia Bersatu Jilid (KIB) II telah resmi dibentuk dan kini sedang menyusun program kerja unggulan dalam menyahuti tantangan pembangunan ke depan melalui Nasional Summit (rembuk nasional) yang digagas oleh presiden terpilih Soesilo Bambang Yudhoyono.
 
Massa 100 hari kerja sebagai ukuran keberhasilan yang diberikan kepada masing-masing menteri oleh SBY saat fit and proper test yang dilakukan beberapa hari sebelumnya seharusnya menjadi cambuk keseriusan mereka dalam bekerja. Karena, bila tidak maka risiko reshuffle akan menjadi takdir selanjutnya. Mereka harus sukses menjalankan tugas mulia ini.
 
Anda-anda para mentri adalah orang-orang terpilih yang dipercaya presiden untuk membantu menjalankan amanah seluruh rakyat membawa bangsa ini ke arah kemajuan, kemandirian, dan kemakmuran. Mengingat tugas dan beban berat yang dibebankan kepada para menteri ini maka selayaknyalah mereka sadar bahwa mereka bukan sedang mendapat 'durian runtuh'. Tapi, sedang mendapatkan ujian berat melayani rakyat. Anda adalah pelayan rakyat yang sesungguhnya. Dan bukan malah sebaliknya.
 
Atas segala amanah yang dibebankan ke pundak mereka seharusnya mereka tidak mengucap 'syukur alhamdulillah' (bagi Muslim) tetapi mengucap 'innalillahi wa inna ilaihi rajiun' atas musibah amanah yang begitu besar yang harus ditanggungnya. Harus diingat bahwa kegagalan bangsa ini memperbaiki kesejahteraan rakyatnya dan menaikkan martabat negeri tidak lepas pula dari kegagalan anda sebagai seorang menteri.
 
Secara khusus penulis berpesan kepada para mentri terpilih: pertama, jadilah pemimpin yang baik yang menjadikan kekuasaan sebagai amanah. Kekuasaan sebagai 'beban' bukan kehormatan. Menjalankan kekuasaan sebagai peluang untuk berbakti bukan 'kesempatan' untuk menumpuk kekayaan sebagaimana dipesankan Khalifah Umar ibn Khattab kepada Utsman ibn Affan.
 
Kedua, jadilah menteri yang tidak merasa puas dengan melakukan sesuatu yang baik. Sehingga, mereka berhenti berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Karena inilah penyakit terberat bagi seorang pemimpin. Mereka hanya puas dengan suatu keberhasilan tanpa mengejar keberhasilan-keberhasilan lainnya (Jim Collins dalam bukunya Good to Great).
 
Ketiga, jadilah menteri yang bersifat rendah hati dengan sedikit bicara dan banyak bekerja. Sederhana dengan tidak meminta diperlakukan secara istimewa. Berkeyakinan kuat untuk meraih keberhasilan. Berambisi melakukan yang terbaik dan tegas dalam bertindak demi kepentingan rakyatnya. Serta, berorientasi ke depan untuk menciptakan keberhasilan yang bekesinambungan.
 
Keempat, Jadilah menteri yang keras hati dan berani. Tetapi, tetap lembut dan penuh cinta kasih akan menghantarkan bangsa ini menuju perubahan yang besar seperti ungkapan besar Mao Ze Dong yaitu the great leap forward (loncatan besar ke depan).
 
Untuk mewujudkan seluruh harapan di atas maka selayaknya para menteri ini memiliki kekerasan hati dalam bekerja yang terangkum dalam tiga dimensi yaitu mental, emosional, dan manajerial. 
 
Mentally tough berarti tahan banting atas segala tantangan dan senantiasa bergairah dalam berprestasi. Sedangkan emotionally tough berarti bertindak mantap, bermental baja, berketetapan hati, tegas tanpa kehilangan rasa kemanusiaan. Dan, managerially tough berarti menaruh perhatian pada semua aspek, berpikir dan bertindak ekonomis dan profesional, menjaga prestasi sesuai dengan visi dan misi yang dimilikinya.
 
Penulis yakin bila keseluruhan menteri ini sadar akan tugas dan tanggung jawabnya dalam melayani rakyat serta berusaha memiliki mentalitas tangguh dalam bekerja. Maka kesuksesan dan keberhasilan akan menjadi jawabannya.
 
Sekali lagi selamat kepada seluruh menteri terpilih. Selamat bekerja, dan semoga sukses demi kemajuan Indonesia tercinta.

Sholehudin A Aziz
Jl al-Ikhlas 6 B2A 10 BSI 2 Pengasinan Depok
bkumbara@yahoo.com
081310758534

Penulis adalah peneliti CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 
 



(msh/msh)


Berita Terkait