Menteri Semua Benar-benar Pembantu

Menteri Semua Benar-benar Pembantu

- detikNews
Selasa, 03 Nov 2009 08:54 WIB
Menteri Semua Benar-benar Pembantu
Jakarta - Saya menduga menjadi Presiden Indonesia ini memang harus pintar. Bahkan, tidak cuma tergolong pintar tetapi harus pintar sekali. Sebaliknya yang menjadi menterinya sepertinya tidak harus pintar. Minimal "nampak pintar" saja sudah cukup.

Bagaimana tidak pintar Presiden Indonesia. Bayangkan saja. Baru sehari pengumuman susunan kabinet baru di televisi di Maluku sudah terjadi demonstrasi "kecil" menolak Kabiniet Indonesia Bersati (KIB) II dengan alasan tidak ada keterwakilan dari Maluku.

Di hari yang sama berbagai komentar miring menuding presiden mengesampingkan profesionalisme. Sebagian langsung meramal tidak cukup satu tahun kabinet ini akan tertatih-tatih dan harus reshuffle kembali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa hari sebelumnya tidak cukup pemain politik "kecil" bahkan elit politik besar dan tidak terbatas di rombongan koalisi gerbong pertama saja yang belakangan "nebeng" juga ikut memberi tekanan pada Presiden dalam pembentukan kabinet. Tekanan itu juga tersirat dalam pidato pembuka Presiden sebelum mengumumkannya susunan kabinet. Banyak orang pengin "sowan" ingin memberi "masukan".

Mengharapkan kabinet adalah orang-orang yang pintar di dalamnya? Terlampau berlebihan. Walaupun dalam pidato pelantikan SBY menjanjikan credible dan accountable serta menyebut "anda semua putera terbaik bangsa".

Karena seorang presiden RI harus punya intuisi dan perhitungan tepat untuk meletakkan orang-orang di dalamnya yang harus seimbang Jawa-non Jawa, Barat-Timur, Islam non-Islam, Profesionalisme-Politisi, belum lagi harus tepat membagi kue di antara parpol-parpol koalisi yang semua begitu dahaga akan jabatan publik dan kekuasaan. Bagaimana tidak dahaga? Kontrak pilitik mereka selalu diikuti dengan berapa jatah menteri yang didapat.

Sangat sulit mendapatkan The Dream Team yang profesional di bidangnya masing-masing. Dari idealisme masing-masing menteri bisa saling berlawanan.

Pada zaman Pak Harto saja, yang nota bene sangat berkuasa, Pak Harto memerlukan sumbang sih pemikiran di luar kabinet yang dibentuknya. Konon, para ahli ekonomi dan militer yang bukan anggota kabinet atau yang sudah mantan, bisa memberikan masukan penting pada Pak Harto.

Namun, Pak Harto memang sangat pintar, sehingga ketika ada seorang politikus Golkar menyebut dan bermimpi "Golkar akan hebat dan mandiri seperti dulu" dalam Munasnya yang dilaksanakan beberapa waktu lalu, Muhammad Sobary mencibirnya di sebuah harian terbesar di Indonesia yang terbit esok hari dengan menyebut "Golkar memangnya pernah mandiri? Golkar itu dulu karena Pak Harto. Kalau tidak ada Pak harto, Golkar is nothing!"

Sekuel Kabinet Pembangunan yang disusun Pak Harto, tetap saja yang hebat Pak Harto. Tidak ada menteri hebat. Menteri semua benar-benar pembantu. Soal bagaimana jalannya pemerintahan tinggal menunggu "petunjuk Bapak Presiden".

Mungkin itu yang meresahkan Sang Presiden sehingga di masa pemerintahan yang lalu sempat ada ide membentuk "Kabinet Bayangan" hingga ditentang betul oleh JK yang kemudian mengajak-ajak Ketua NU dan Muhammadiyah untuk ikut menentangnya. Mungkin juga karena itu reshuffle berkali-kali dilakukan.

Pada masa pemerintahan sekarang, lagi-lagi SBY perlu menelorkan wacana "Wakil Menteri". Jangan-jangan Wakil Menteri adalah "menteri sesungguhnya". Presiden Indonesia itu tidak dilahirkan untuk menjadi pembentuk kabinet yang hebat. Tetapi, harus seorang pemimpin yang mampu cepat belajar dan bisa dalam segala hal.

Mengharapkan menteri profesional? Jangan dulu. Mengharapkan mereka menjadi negarawan yang bijak guna mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan saja sangatlah sulit dan merepotkan.

Sebagian mereka sadar betul menjadi menteri itu karena partai dan bisa jadi "suruhan partai". Kalau ada ide menjadi menteri berarti meninggalkan partai dan kepentingannya itu namanya "Jauh Panggang dari Api".

Saptadi Nurfarid
Villa Mutiara Gading C9/04 Bekasi
saptadi@yahoo.com
08551000727


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads