Indonesia di Tengah G-20

Indonesia di Tengah G-20

- detikNews
Jumat, 23 Okt 2009 18:02 WIB
Indonesia di Tengah G-20
Jakarta - Kejutan dari Konferensi Tingkat Tinggi Kelompok 20 (G-20) di Pittsburgh, Amerika Serikat (24/9/2009), secara resmi diumumkan telah terjadi pergantian fungsi dari Kelompok 8 (G-8) menjadi G-20 sebagai forum resmi kerja sama ekonomi global. G-20 adalah organisasi informal dan tidak mengikat tetapi pengaruhnya cukup besar untuk mendorong keluarnya sebuah kebijakan multilateral.

Latar belakang pembentukan G-20 berawal dari krisis keuangan tahun 1998 yang berkepanjangan. Bahkan, terus berlangsung sampai sekarang dan Amerika Serikat salah negara yang kena dampaknya sampai saat ini.Β 

Sebagai forum ekonomi, G-20 akan menjadi ajang konsultasi dan kerja sama hal-hal yang berkaitan dengan sistem moneter internasional. Dalam hal itu akan dilakukan pertemuan yang mengkaji perkembangan industri di negara maju dan berkembang serta membuat kebijakan-kebijakan finansial yang mengarah pada stabilitas keuangan internasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu keberadaan G-20 juga akan mengubah kelompok elit dunia di mana yang sebelumnya didominasi oleh negara-negara maju sekarang mulai dibagi ke kelompok elit negara-negara berkembang. Seiring dengan hal tersebut --Indonesia sebagai negara bekembang secara resmi masuk ke dalam kelompok elit ekonomi dunia tersebut.

Dalam kasusnya ini banyak timbul berbagai pandangan. Ada yang senang ada namun juga ada yang tidak senang. Bagi yang senang menilai masuknya Indonesia sebagai anggota G-20 merupakan kemajuan Indonesia dalam percaturan perekonomian dunia. Indonesia mempunyai peranan dalam menentukan pergerakan perekonomian internasional.

Senada dengan pandangan tersebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam jumpa pers yang berlangsung di Pittsburgh, menjelaskan, Indonesia berada posisi strategis dalam menentukan arah dan kebijakan perekonomian global (27/9/2009). Dari jumpa pers tersebut bisa dinilai bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sangat optimis bahwa Indonesia bisa berperan dalam G-20.

Belajar pada kejadian yang telah ada --rasanya rasa optimis tersebut perlu dibahas kembali, dan bertanya pada pemerintah. Apakah Indonesia benar-benar mampu memanfaatkan keputusan tersebut dengan maksimalkan posisi tawarnya menjadi lebih kuat dalam percaturan ekonomi dunia?

Pasalnya, keberadaan Kapitalis negara maju (Kapitalis pusat) di negara berkembang
selalu berada di atas dan tidak mau rugi. Bahkan, cenderung merugikan negara-negara berkembang. Yang lebih menyedihkan mereka bisa mengintervensi pemerintah sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan yang berpihak pada dirinya.

Kehadiran kapitalis pusat di negara berkembang hanya untuk mencari untung semata. Mereka jarang memikirkan perkembangan dan kemajuan negara yang tumpangi. Bahkan, mereka tidak peduli dengan perkembangan masyarakat setempat yaitu warga yang hidup dekat kawasan industrinya.Β 

Dengan keberadaan G-20 mungkinkah semua itu tidak terulang kembali dan terjadi keseimbang ekonomi antar negara berkembang dengan negara maju. Serta terjadi pemerataan pembangunan ekonomi global. Mudah-mudahan itu bukan hanya sekedar retorika negara maju dalam menangani krisis keuangan global dan mempertahankan industri-industrinya.

Belajar pada kasus yang telah ada rasanya agak sulit mewujudkan harapan tersebut. Sama-sama sudah kita ketahui --sejarah perkembangan Kapitalis pusat atau Kapitalis negara maju tidak seindah yang dibayangkan. Kahadirannya banyak memakan korban. Bahkan, untuk kemajuan industri kadang-kadang mereka tidak memperdulikan nilai-nilai kemanusian. Mereka cenderung mengekplotasi kaum buruh dan merusak lingkungan.

Hal seperti itu tidak saja terjadi pada buruh dan alam. Tapi, juga terjadi di antara
sesama mereka. Dalam bersaingan perdagangan mereka kurang mengindahkan etika. Dengan perinsip "siapa yang kuat dan bermodal besar maka merekalah yang akan menguasai pasar dan barang. Yang lemah akan tergulung dan statusnya akan berubah menjadi buruh atau proletar."

Dan terbukti akhirnya perekonomian dunia hanya dikuasi oleh Kapitalis pusat. Setelah sukses mengusai pasar dan megembangkan industrialisasi di negaranya sendiri para Kapitalis pusat mulai mencari pasar di luar negaranya di antaranya negara berkembang. Termasuk Indonesia.

Dalam melakukan ekspansi --para Kapitalis pusat mencari negara-negara yang masih terbelakang secara teknologi dan ilmu pengetahuan. Di tempat tersebut mereka akan tumbuh subur karena masyarakat dan pemerintah setempat sangat membutuhkan kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi baru. Semenjak itu mulailah mereka mendirikan industri-industri baru dengan bahan mentah berasal dari sumber alam negara tersebut termasuk tenaga kerjanya.

Datangnya Kapitalis pusat tidak saja mengeruk sumber daya alam tapi juga mematikan perekonomian setempat. Namun, proses pembunuhan atau penguasaan ekonomi berjalan pelan namun pasti. Proses penguasaan perekonomiaan baru disadari oleh masyarakat berkembang setelah tingkat ilmu pengetahuan dan kesadarannya tinggi. Dan peranan Kapitalis lokal atau Kapitalis pinggiran mulai berkurang dalam pasar lokal atau domestik.

Perlu di sadari --sebelum Kapitalis pusat datang, pasar domestik dikuasai oleh Kapitalis pinggiran. Semenjak Kapitalis pusat datang perlahan-lahan keberadaan Kapitalis pinggiran perlahan-lahan tersingkir. Kehebatan teknologi, manajemen, sumber daya manusia, dan modal yang besar menjungkirbalikan Kapitalis pinggiran.
Hal seperti itu tidak saja terjadi di negara berkembang tapi juga terjadi di negara maju --Kapitalis-kapitalis kecil yang tidak bisa menyaingi Kapitalis besar dan tersingkir.

Kembali ke Kapitalis pusat --dengan sarana dan prasarana yang serba lengkap kaum Kapitalis pusat mampu memproduksi barang berkualitas tinggi dengan harga murah. Secara hukum pasar konsumen akan membeli produk-produk tersebut. Tidak hanya itu untuk menimbulkan daya tarik para Kapitalis pusat membuat inovasi-inovasi baru yang belum pernah dilakukan oleh Kapitalis pinggiran. Kapitalis pusat juga menciptakan produk-produk baru yang belum pernah dibuat kapitalis lokal dan akhirnya mereka menguasai pasar lokal.

Selain menguasai pasar lokal para Kapitalis pusat juga mengeksploitasi sumber daya
alam. Rakyat membeli produk yang berasal dari sumber alamnya sendiri. Pada tahap selanjutnya sumber daya alam dikuasai oleh Kapitalis pusat. Selain menyingkirkan Kapitalis pinggiran dan menguasai sumber daya alam Kapitalis pusat juga menekan
buruh. Upah buruh dikasih tidak berdasarkan keuntungan yang didapati tapi berdasarkan pendapatan rakyat setempat. Lambatnya peningkatapan pendapatan ekonomi masyarakat membuat mereka sulit berkembang.

Harus sadari berdirinya industri-industri secara otomatis akan membuka lowongan pekerjaan. Namun, lowongan pekerjaan tersebut tidak terlampau meningkatkan kesejahteraan buruh. Itu bisa dilihat dari kehidupan para buruh. Kehidupan mereka tetap susah. Gaji yang mereka perolah hanya cukup untuk mempertahankan kehidupan.

Berkaca pada negara maju --dalam mengamankan produksi dalam negerinya para Kapitalis pusat tidak menginginkan ada Kapitalis luar menguasai pasarnya. Contoh Jepang. Ketika Jepang menguasai pasar otomotif Amerika Serikat, Amerika Serikat langsung melakukan gerakan-gerakan yang menghambat perkembangan otomotif Jepang di Amerika Serikat.

Itulah gambaran keberadaan kapitalis pusat di negara berkembang. Termasuk di Indonesia. Kita berharap, masuknya Indonesia ke G-20Β  bukan hanya sebagai penonton. Sebab, selama ini Indonesia hanya menjadi penonton dan menjadi pasar potensial. Selain itu, momen ini bukan sarana untuk meminjam uang pada IMF dan Bank Dunia, karena bagi anggota G 20 mendapatkan kemudahan dalam meminjam uang untuk pembangunan ekonomi.

Seiring dengan harapan tersebut Indonesia harus mampu membangun tanpa harus tergantung pada utang. Untuk menunjukkan eksistensi diri pemerintah dan Kapitalis pinggiran juga harus kuat dengan cara membangun industri-industri yang dikuasai sendiri. Termasuk sumber daya alam. Indonesia harus menjadi tuan di negaranya sendiri. Bukan menjadi penonton seperti sekarang.

Mulai dari sekarang pemerintah harus melindungi kelangsungan industri dalam negeri serta mendukung kemajuan kaum Kapitalis pinggiran dengan membuat kebijakan-kebajakan khusus. Meskipun nanti mendapat kritikan dari Kapitalis pusat atau Kapitalis negara lain. Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono harus berani mengambil kangkah tersebut. Karena langkah tersebut untuk melindungi dan memajukan industri dalam negari. ***

Faisal Chaniago
Jalan Siak VIII No 17 Depok
faisal_chaniago@yahoo.com
081514266137

Penulis adalah Sarjana Ilmu Politik IISIP Jakarta, Pendiri Sufi (Study Filsafat) dan mantan anggota Pusat Jaringan Aksi dan Reformasi (Pijar), Penulis buku "Antasari, KPK dan Belitan Cinta Segita" dan sekarang senang menulis buku tentang "Antara Penguasa, Pengusaha, dan Rakyat".



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads