Mungkin anak saya yang kedua (Nasywa) terlalu atraktif kalau sedang tersenyum. Orang-orang Jepang yang melihat kami jadi ikut tersenyum. Senyum membawa senyum. Begitulah kira-kira kondisinya. Kami tersenyum. Orang-orang Jepang, entah dengan alasan apa, mereka juga ikut tersenyum. Jadilah kami saling senyum.
Senyum memang the best make up. Secantik atau setampan apapun seseorang, se fashionable apa pun mereka, menjadi tak sempurna kecantikan atau ketampanannya tanpa senyum di bibirnya. Tapi, orang yang biasa saja, dengan senyum yang ikhlas, bukan hanya menyenangkan, tapi juga menentramkan orang yang melihatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentu alasannya bermacam-macam. Ada yang jaga imej. Ada yang memang angkuh. Ada yang sedang dirundung masalah. Dan, lain-lain. Namun, yang menyedihkan adalah bagi sebagian anak bangsa senyum masih menjadi barang mewah yang tidak mudah untuk dimiliki karena beratnya beban hidup sehari-hari.
Kita memasuki Idul Fitri. Hari yang penuh senyum gembira dan bahagia. Kegembiraan dan kebahagiaan ini haruslah menjadi milik seluruh anak bangsa. Tak terkecuali mereka-mereka yang bergulat dengan derita sepangjang masa.
Idul Fitri harus menjadi hari jeda dari sebuah derita bagi semua. Pada hari Idul Fitri semua orang berhak untuk tersenyum gembira dan bahagia. Oleh karenanya marilah kita tersenyum dan berusaha membuat orang lain tersenyum. Salah satunya dengan berbagi kepada mereka yang selalu berteman derita.
Menarik untuk disimak bagaimana Rasulullah berbagi senyum bahagia di hari raya. Suatu pagi di hari Idul Fitri Rasulullah seperti biasanya mengunjungi rumah demi rumah untuk mendoakan para Muslimin dan Muslimah, Mukminin dan Mukminah agar merasa bahagia di hari raya.
Semua terlihat gembira dan bahagia. Terutama anak-anak. Mereka bermain sambil berlari-lari ke sana ke mari dengan mengenakan pakaian hari rayanya. Namun, tiba-tiba Rasulullah melihat di sebuah sudut ada seorang gadis kecil sedang duduk bersedih. Ia memakai pakaian tambal-tambal dan sepatu yang telah usang.
Rasulullah SAW lalu bergegas menghampirinya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis tersedu-sedu. Rasulullah kemudian meletakkan tangannya dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis kecil tersebut dan bertanya dengan suaranya yang lembut, "anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?"
Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang menyapanya. Matanya masih menerawang tak menentu. Seperti mencari sesosok yang amat ia rindui kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata ia menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk merayakan hari kemenangan. "Ayahku mati syahid dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah," jawab gadis kecil itu.
Seketika Rasul mendekap gadis kecil itu dan berkata, "maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad ayahmu, Fatimah menjadi kakakmu?" Kemudian Rasulullah mengajaknya ke rumah dan menggembirakan hatinya dengan pakaian yang indah. Gadis kecil itu pun sekarang seperti anak-anak lainnya yang bisa tersenyum bahagia di hari raya.
Kisah di atas hanyalah contoh kecil bagaimana Rasulullah selalu berusaha berbagi senyum. Berbagi gembira dan bahagia dengan semua orang. Terlebih lagi anak-anak di hari raya. Rasulullah bahkan bersabda:
"Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan mendandaninya pada hari raya, maka Allah SWT akan mendandani atau menghiasinya pada hari kiamat. Allah SWT mencintai terutama setiap rumah, yang di dalamnya memelihara anak yatim dan banyak membagi-bagikan hadiah. Barangsiapa yang memelihara anak yatim dan melindunginya, maka ia akan bersamaku di surga."
Idul Fitri kali ini masih kita rayakan di tengah jutaan rakyat yang hidup bersama kemiskinan. Kita menyaksikan ribuan antrian penerima zakat yang berdesakan. Anak-anak yang tak mendapatkan hak-hak kegembiraannya. Para pengungsi yang belum tahu sampai kapan akan dapat kembali. Para TKI yang masih saja disakiti.
Kita akan segera merayakan hari raya bersama mereka yang masih bergulat menaklukan derita. Marilah kita membantu mereka. Marilah kita menggembirakan mereka. Agar senyum juga menjadi milik mereka. Selamat merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1430 H.
Mukhamad Najib
4-6-41 Shirokanedai, Minato-Ku Tokyo
mnajib23@yahoo.com
+81-90-982-10-982
(msh/msh)











































