We are Living Under the Same Moon

We are Living Under the Same Moon

- detikNews
Sabtu, 19 Sep 2009 13:01 WIB
We are Living Under the Same Moon
Jakarta - Seharusnya tidak terjadi lagi perbedaan penanggalan hanya karena ego kelompok atau organisasi dalam memakai metode penentuan (Hisyab) 1 syawal maupun bulan-bulan lainnya. Bukankah kita hidup di bawah bulan yang sama. Apakah Bulan orang Arab, jamaah NU, jamaah Muhammadiyah berbeda dengan bulan kita?

Tentu saja bulannya sama saja. Tapi, kenapa terjadi perdebatan atau perbedaan di setiap tahun. Kenapa hanya terjadi pada saat penentuan 1 Ramadhan dan 1 syawal saja. Kenapa untuk penentuan 9 Zulhijjah atau wuquf di padang Arafah semua kompak pada hari dan tanggal yang sama.

Pertanyaan di atas perlu kita jawab dan tuntaskan segera. Terus terang, sebagai pribadi saya sedih dengan perbedaan yang bikin orang di luar kita agak sedikit cemooh "untuk menentukan hari Raya saja kalian tidak bisa kompak apalagi untuk bersatu dalam visi dan misi". Begitu kira-kira cemoeh atau cibiran yang saya kerap dengar dari teman-teman yang memang pesimistis terhadap persatuan ummat Islam di seluruh dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kita jangan berkelit dan berdalih lagi dengan semboyan bahwa "perbedaan itu adalah rahmat". Mari kita lihat hadis-hadis berikut:

Hadis riwayat Ibnu Umar ra: Dari Nabi SAW bahwa beliau menyebut-nyebut tentang bulan Ramadhan sambil mengangkat kedua tangannya dan bersabda: Janganlah engkau memulai puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Ramadhan dan janganlah berhenti puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Syawal. Apabila tertutup awan, maka hitunglah (30 hari) (Shahih Bukhari No 923 dan Muslim No 1795).

Hadis riwayat Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Ramadhan), maka hendaklah engkau memulai puasa. Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Syawal), maka hendaklah engkau berhenti puasa. Dan apabila tertutup awan, maka hendaklah engkau berpuasa selama 30 hari (Shahih Bukhari No 924 dan Muslim No 1808).

Jika di zaman nabi komunikasi di antara orang yang berjauhan tidak bisa online maka pada waktu itu wajar saja ada yang berbeda penentuan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Karena, mungkin di suatu tempat tertutup awan sementara di tempat yang lain terlihat jelas. Sekarang sudah ada komunikasi on line. Kenapa tidak kita manfaatkan.

Alternatif pertama yang bisa kita lakukan adalah jika seorang ahli Hisyab di mana pun dia berada (saya yakin di setiap negara dan jamaah tertentu mereka punya ahli hisyab yang dipercaya) telah melihat bulan sabit awal (hilal) maka dia wajib untuk meberitakan ke seluruh dunia sehingga penanggalan bisa serentak apapun metode yang dipakai. Dan, pasti tidak akan membingungkan ummat dan tidak ada keraguan lagi untuk masih puasa atau berbuka pada hari penentuan tersebut.

Sekedar mengingatkan lagi kenapa penentuan 1 Zulhijjah kita semua "manut". Sama penentuan di Arab atau tidak pernah terjadi perbedaan. Bukankah jika sebagian puasa 30 hari dan sebagian lagi puasa 29 hari maka akan berdampak pada penentuan tanggal 1 Zulhijjah mereka.

Tapi, sampai hari ini yang saya tahu belum pernah ada perbedaan dalam pelaksanaan haji dan penentuan wuquf di Padang Aafah (9 Zulhijjah). Apanya yang salah. Jawaban saya yang salah adalah ego (nafsu) masing-masing kelompok untuk tetap dianggap eksis dan berpengaruh. Bahkan, ada yang mengklaim paling benar sendiri.

Alternatif kedua, bisa saja kita percayakan pada ahli hisyab yang berada di Makkah untuk melihat bulan, dan semua ummat menunggu pengumuman dari Makkah untuk penentuan tanggal tersebut.

Selayaknya tidak terjadi lagi perdebatan dan perbedaan tentang hal ini. Apakah Bulan bangsa Arab, kaum Syiah, Kaum Sunni, Suku Kurdi, jamaah NU, jamaah Muhammadiyah, dan lain sebagainya adalah berbeda. Bukankah kita hidup di bawah bulan yang sama.

Alternatif ketiga, karena Al uran adalah untuk orang yang berfikir maka selayaknyalah dibikin kesepakatan bahwa perhitungan peredaran bulan itu sudah bisa diperhitungkan dengan teknologi yang ada sekarang sehingga penentuan 1 Syawal sudah bisa ditentukan satu bulan sebelumnya. Atau tidak lagi menunggu detik-detik terakhir untuk mengumumkannya dengan kata lain ummat sudah punya kepastian alias tidak bingung lagi.

Alternatif ketiga ini memang agak sulit untuk dicapai mengingat "ego" masing-masing kelompok yang masih belum mencair sampai sekarang ini. Mungkin dengan alasan Kiblat atau Kakbah itu berada di Makkah maka agak mudah untuk menerapkan alternatif kedua. Namun, apa pun alternatif yang mau diterapkan yang penting ummat tidak bingung lagi dan kita bisa dengan kepala 'tegak' menghadapi cemooh atau cibiran orang-orang yang pesimis terhadap persatuan ummat Islam.

Kita serahkan dan imbau para "Ulama dan Umara" untuk bisa duduk bersama memutuskan perkara yang muncul setiap tahun ini. Sekedar memodifikasi lagu scorpion "Because We are Living Under the Same Moon". Mengapa harus berbeda? Ummat Islam bersatulah.

Desrizal Misbah


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads