Saya mengikuti dengan cermat suka duka --kisah sedih-sukses gembira-derita para TKI di belah Selatan Negeri Tirai Bambu itu dari waktu ke waktu. Menurut saya sangat laik dilayarlebarkan atau dilayarkacakan.
Nasib saudara --TKI kita di Hong Kong memang unik dan selalu memiliki dua sisi ibarat dua sisi mata uang yang sama. Ada yang bernasib mujur (dapat majikan yang baik, sukses dan penuh perhatian, bahkan diajak jalan-jalan ke manca negara. Ada pula yang kurang mujur, majikan galak, pelit, pemarah, dan lain-lain dan ringan tangan, dan lain-lain yang meronai kehidupan mereka). Bahkan suka main pecat seenaknya tanpa pesangon sebelum kontrak habis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, satu hal dari sisi positif yang kiranya perlu dititipkan di dalam pesan film tentang TKI di Hong Kong yang akan dibuat adalah bahwa kehadiran TKI di Hong Kong membuat produktivitas majikan berlipat ganda. TKI menjaga-mengurus anak-anak, rumah tangga, dan orang tua jompo, serta kebutuhan lainnya sesuai isi kontrak, maka suami istri keluarga Hong Kong dapat leluasa bekerja bersama-sama sehingga produktivitas β income keluarga naik 100%.
Dengan dalih ini semestinya tidak ada alasan bagi Pemerintah Hong Kong untuk menerapkan lagi underpaid, penerapan pajak/Levi, dan lain-lain bagi TKI di Hong Kong. Bagi Pemerintah RI, selain ada sisi positif yang seharusnya dapat dimanfaatkan bersama-sama dengan lembaga-lembaga terkait dengan urusan TKI.
TKI kita adalah agent of change (dapat mempromosikan citar, seni, budaya dan adat istiadat Indonesia, mengajari Bahasa Indonesia pada anak-anak dan keluarga di setiap keluarga majikan yang jutaan jumlahnya di manca negara. Tidak hanya di Hong Kong saja. Juga di negara-negara lain.
Mereka juga adalah agent of tourism. Maka dari itu Departemen Budaya dan Pariwisata *(Depbudpar) RI perlu memanfaatkan kehadiran mereka di tengah keluarga-keluarga asing di manca negara --tidak hanya di Hong Kong namun juga Timur Tengah, Malaysia, dan lain-lain sebagai promotor pariwisata. Mereka perlu dibekali dengan bahan-bahan promosi (brosur, buku, VCD-DVD) budaya pariwisata, dan lain-lain.
Dengan demikian Indonesia akan tetap dikenal dan dikenang sebagai negara dan bangsaΒ yang ramah, bersabahat, dengan budaya yang elok dan indah dan perlu untuk dikunjungi. Hal ini pernah saya utarakan kepada mantan Menbudpar RI Bapak I GedeΒ Ardika pada tahun 2000. Agar kiranya kita dapat memanfaatkan para TKI di seluruh dunia sebagai agent of change and agent of tourism. Namun, saya tidak mengetahui apakah usul tersebut ditanggapi oleh beliau dan jajarannya.
Namun, tentu perhatian kita dan kehadiran kita di gugus depan sebagai pelindung hak-hak dan keselamatan TKI harus tetap menjadi perioritas utama. Semoga kiranya menjadi perhatian para pemimpin kita yang utamanya yang terkait langsung dengan urusan TKI dan industri Pariwisata. Horas.
Sahat Sitorus
Brasil
sahatsitorus@yahoo.com
(msh/msh)











































