Namun, dengan khasanah kebudayaan yang begitu luas Bangsa Indonesia ditantang. Pada era globalisasi kini nilai-nilai serta budaya dari luar dapat dengan mudah merasuk ke ranah kehidupan berbangsa Indonesia. Dengan semakin bebasnya kebudayaan asing masuk kekhawatiran akan tergerusnya kebudayaan orisinal Indonesia menjadi hal yang tak terelakkan.
Berbagai kajian ilmiah telah membuktikan bahwasanya benar dari waktu ke waktu otentitas dan orisinalitas kebudayaan Indonesia kian meluntur. Dhanny S Sutopo (2003), misalnya, dalam tesisnya yang mengkaji perkembangan kebudayaan Bali mendapatkan hasil ternyata ada beberapa gerakan dalam tari Bali yang diubah dari gerakan aslinya. Perubahan ini, menurut hasil penelitian Dhanny, diakibatkan karena gerakan asli tarian tersebut menjemukan dan kurang komersil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tarian disesuaikan dengan kebutuhan turis. Diutak-atik dengan prinsip 'kamu senang, saya beruang'. Sampai titik ini dapat kita lihat betapa kebudayaan kini telah menjelma menjadi sebuah komoditas yang bisa 'dijual'.
Parahnya pemuda yang ada di sana juga tidak mau tahu. Mereka hanya menerima apa yang ada secara taken for granted. Tidak ada usaha menggali kembali tarian orisinal yang diajarkan dari generasi ke generasi. Jika hal ini dibiarkan warisan asli nenek moyang mereka akan sirna seiring merebaknya bisnis budaya semacam ini.
Di samping itu di keseharian juga kerap menemui masyarakat yang enggan mengenakan baju daerah. Semisal mengenakan batik ke kampus. Alasannya pun tidak masuk akal. Takut dicemooh atau merasa gerah telah menjadi justifikasi umum untuk meng-excuse diri mereka. Padahal, di luar itu, ketika negara tetangga mengklaim batik sebagai kepunyaannya mereka tampak bersungut-sungut. Berlomba mengutuki negara tetangga dengan kata-kata yang kurang pantas. Ironis memang. Tapi, itulah kenyataannya.
Menyadari hal tersebut kini kita harus bangkit mencegah 'mimpi buruk' itu terjadi. Preservasi kebudayaan bisa dimulai dari hal yang paling kecil. Bersuka hati mengenakan pakaian daerah, mau mempelajari lagu maupun tari-tarian daerah, atau pun berbahasa daerah di keseharian beriringan dengan Bahasa Indonesia, ialah beberapa contohnya. Intinya, what we need is action! Bukan hanya berkoar-koar saja.
Upaya preventifikasi budaya yang lebih besar membutuhkan sinergi dan komitmen yang kuat dari para generasi penerus bangsa dengan pemerintah. Para duta wisata, yang juga tergolong muda, perlu mengerahkan segenap tenaga agar eksistensi kebudayaan Indonesia bisa menggaung di kancah internasional. Berbagai program penggiat pariwisata dan budaya Indonesia yang didesain oleh pemerintah hendaknya dapat mereka salurkan dengan baik.
Tidak sepatutnya, kita, sebagai pemuda Indonesia, hanya berpangku tangan menjadi penonton babak demi babak tergilasnya kebudayaan Indonesia dari waktu ke waktu. Lagi-lagi, yang kita perlukan adalah tindakan riil, bukan hanya kutukan yang ujung-ujungnya menjadi uap. Karena, kalau bukan kita, siapa lagi yang mau menjaga dan melestarikan kebudayaan Indonesia.
Gilang Reffi Hernanda
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia dan Anggota English Debating Society (EDS) UI.
(msh/msh)











































