Masalah utamanya benarkah kita sudah semakin merdeka dalam realitas kehidupan yang sesungguhnya. Ataukah kemerdekaan yang kita miliki itu cuma hidup dalam perasaan dan perayaan saja. Jika ini yang terjadi inilah yang seharusnya menjadi renungan penting bagi para pemimpin bangsa ini.
Katakanlah di bidang politik. Dalam pesta demokrasi akbar yang baru saja berlalu kita masih mendengar kegaduhan dan hiruk-pikuk soal sumbangan asing dalam dana kampanye capres cawapres. Komisi Pemilihan Umum (KPU) pun dituding telah diintervensi asing meski sudah dibantah keras. Belum lagi sepanjang kampanye lalu. Masalah Neolib menjadi isu politik yang tidak gampang dilupakan publik begitu saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di bidang sosial tentu bisa kita saksikan sendiri. Betapa kemerdekaan menjadi barang yang mahal yang tidak bisa dikonsumsi oleh siapa saja. Di setiap perempatan jalan kita bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri sejumlah anak kecil sampai dengan nenek-nenek menjadi pengemis. Mereka adalah kaum yang terjajah oleh kemiskinan dan kesulitan hidup. Mereka terjajah entah oleh siapa. Apakah oleh asing, oleh bangsanya sendiri, atau oleh dirinya sendiri.
Pertanyaannya apakah kita semakin merdeka atau justru semakin terjajah. Terus terang saya tidak berani menjawabnya secara jujur. Dirgahayu Republik Indonesiaku. Semoga rakyat dan bangsa segera merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Amien.
Budi Purnomo
Pesanggrahan Jakarta 12320
Email: epistoholik@yahoo..co.id
(msh/msh)











































