Sistem drainase yang tiba-tiba muncul saat pembongkaran trotoar pemisah antara jalur cepat dan jalur lambat pada masa waktu yang lalu. Terjadi penghilangan pembatas trotoar tersebut dikarenakan adanya jalur busway yang menuntut pelebaran jalur tersebut.
Pada awalnya sistem drainase tidak begitu menggangu. Namun, dikarenakan pengaspalan jalan MH Thamrin mengakibatkan sistem drainase tersebut mengendap menyisalah jarak antara aspal dan besi penyangga sekitar 10 cm.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mungkin bisa saja mengaspal dan menyesuaikan sistem drainase adalah proyek yang berbeda. Menjadikan adanya "proyek sana sini" dengan budget dan waktu yang berbeda. Ditambah tender yang berbeda pula.
Atau subyektivitas yang lain adalah kendala teknis "nggak bisa ini nggak bisa itu" sebagai kambing hitam. Bukannya pentingnya "rekayasa" dalam bidang teknik adalah menyesuaikan cost dan tujuan. Atau faktor lainnya. Faktor politis kadang juga terseret dalam proyek-proyek seperti ini.
Di satu sisi, kerugian yang dialami adalah "waktu". Jikalau saja proyek tersebut dilakukan bersamaan bisa selesai dalam kurun waktu yang sama. Selain itu anggaran. Betapa merugikannya jalanan yang sudah diaspal terpaksa dibongkar walaupun sedikit karena harus terjadi penyesuaian tinggi antara besi drainase dan aspal.
Tetapi, alangkah tidak bijaknya kalau kita selalu menyalahkan pemerintah. Di sisi lain mungkin faktor "Lapangan Kerja" turut andil berperan dalam hal ini.
Dengan adanya proyek perbaikan sana sini tidak dapat dipungkiri memerlukan sumber daya manusia sebagai penggerak proyek tersebut. Oleh karena itu, segi positif yang dapat diambil adalah faktor pengangguran mungkin dapat dikurangi dengan "cara" seperti ini "bongkar pasang".
Ridho Bustami
Jalan Biak Blok B No 7 Jakarta
ridho.bustami@gmail.com
0817846887
(msh/msh)











































