Pertama, adalah mulai diakomodasinya kepemimpinan politik perempuan pada beberapa negara demokrasi. Contohnya seperti di Jerman dengan terpilihnya Kanselir Angela Merkel dari Partai CDU (Christian Democratic Union).
Kedua, mulai berkembangnya homogenitas kepemimpinan dan kekuatan politik global akibat dari pengaruh inter-dependensi dalam globalisasi. Implikasinya, saat ini hampir tidak mungkin keputusan-keputusan ekonomi-politik genting sebuah negara diputuskan hanya oleh negara tersebut saja. Akan sangat dipastikan saling melibatkan semua pihak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilema besar yang harus dihadapi sosok presiden ke depan adalah bagaimana menyikapi Globalisasi. Banyak orang mengidentikkan Globalisasi dengan Pasar Bebas. Pandangan ini adalah pandangan benar walaupun 'agak' kurang komprehensif.
Bagi merespon keadaan politik global yang kian homogen tersebut maka terdapat minimal lima kriteria yang harus dimiliki sosok Presiden ideal.
Pertama, memiliki integritas moral yang kuat. Ini klise dan datanya sangat kualitatif. Akan tetapi sebenarnya apa yang dikatakan sebagai track record atau dalam Bahasa Indonesia kita kenal sebagai rekam jejak relevan juga untuk digunakan sebagai tolak ukur. Oleh sebab itu sebenarnya kita harus mengapresiasi gerakan-gerakan penegakan moral yang tumbuh di masyarakat.
Kedua, semakin rumitnya persoalan politik global diharuskan sosok Presiden di era global harus memiliki kemampuan teknis kepemimpinan politik yang baik. Visi kepemimpinan politik yang kuat pada diri seorang Presiden adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan. Terutama sekali bagi kepempimpinan politik di negara-negara berkembang.
Visi kepemimpinan politik itulah yang kelak menjadi salah satu aset penting bagi membangkitkan semangat untuk bertranformasi menjadi negara maju. Sosok seperti Mahmoud Ahmadinejad Iran, Mahmohan Singh's-India, dan Tayib Erdogan Turki adalah pemimpin politik negara berkembang yang mampu menyejajarkan diri dengan pemimpin politik negara-negara maju.
Mahmoud Ahmadinejad Iran, Mahmohan Singh's India, dan Tayib Erdogan Turki berhasil membawa prinsip kebangsaan mereka dalam ranah politik global. Sehingga, negara-negara tersebut mampu menjadi pemain kunci dalam percaturan politik global hari ini.
Ketiga, bagian lain yang juga menurut hemat saya penting adalah sosok presiden mesti memiliki basis politik dan ekonomi yang mapan. Didukung di parlemen secara mapan dan mempunyai kemampuan finansial di atas rata-rata bagi mendukung kemapanan di Parlemen.
Keempat, memiliki kemampuan memecahkan masalah dengan cepat dan tepat. Kemampuan ini juga sangat diperlukan oleh seorang presiden. Terutama dalam masa-masa yang genting dan memerlukan keputusan yang cepat dan tepat.
Kelima, mempunyai kemampuan tinggi dalam berdiplomasi dan negosiasi. Masih belum hilang dari ingatan kita. Manakala seorang Tayib Erdogan Perdana Menteri Turki melakukan high diplomacy saat pertemuan ekonomi dunia di Davos meninggalkan ruang diskusi sesaat menyuarakan hasrat Rakyat Turki yang tidak suka dengan tindakan sewenang-wenang Israel terhadap Palestina. Sehingga, tidak heran sesaat Erdogan mendarat di Turki, Rakyat Turki menyambutnya bagaikan seorang Pahlawan yang memenangkan perang.
Erdogan telah berani dan lantang menyatakan keinginan rakyatnya. Sebagai pemimpin Erdodan telah melakukan tindakan yang benar dengan menyambungkan aspirasi rakyat Turki pada dunia. Hal ini secara tidak langsung telah meninggikan harkat dan martabat Turki sebagai sebuah bangsa.
Arizka Warganegara MA
FISIP Universitas Lampung
Jl Ki Maja No 9 Way Halim Bandar Lampung
arizka@unila.ac.id
081279290888
Penulis adalah Dosen FISIP Universitas Lampung.
(msh/msh)











































