Sedangkan suara mayoritas tidak selalu mengekspresikan kebenaran. Karena, suara mayoritas dapat muncul dengan pemberian stimulus lahiriah seperti janji atau harapan kedudukan atau materi. Suara rakyat bersifat lebih mapan dan permanen sedangkan suara mayoritas sifatnya jangka pendek cenderung instant.
Dalam tataran praksis berbagai kemungkinan bisa terjadi untuk memperoleh suara mayoritas. Misalnya mulai dari pemilihan Kepala Desa, Pemilihan Bupati/ Walikota, Gubernur, pejabat negara, hingga Pemilihan Presiden. Dapat terjadi pola yang menstimulus terjadi suara mayoritas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setiap orang yang menerima pemberian hadiah-hadiah tersebut secara jangka pendek akan membentuk suara mayoritas walau bisa terjadi mereka tidak mempedulikan suara hatinya. Dari paparan ini sudah semakin dapat menjelaskan bahwa suara mayoritas bukan berarti suara rakyat.
Kemudian dari beberapa bukti menunjukkan bahwa keberhasilan suatu bangsa tidak selalu ditentukan oleh sebuah ideologi. Bahkan, juga bukan oleh sebuah agama. Demokrasi sebagai suatu ideologi bisa mendorong kemajuan suatu bangsa seperti Amerika dan Eropa.
Namun, menunjukkan pula Singupura, Malaysia, dan China tidak menerapkan sepenuhnya demokrasi. Negaar-negara ini cenderung represif namun dapat berhasil maju.
Awal kemajuan negara Korea Selatan justru ketika pemerintahan pada waktu itu menggunakan pola represif. Malaysia, mayoritas penduduknya beragama Islam dan cenderung represif, sekarang berkembang menjadi negara yang maju mandiri.
Jepang, mayoritas penduduk beragama Shinto, menjadi negara sejahtera. Korea Selatan, mayoritas penduduknya beragama Budha dan sedang mengarah pada era demokratis, saat ini sudah menjadi negara industri. India sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan demokratis saat ini sudah memiliki kemampuan berbagai industrial,
Singapura sebagai negara kecil represif dengan berbagai agama, menjadi negara yang tangguh secara ekonomi. China sebagai negara atheis represif saat ini menjadi negara super power dengan kemampuan berbagai aspek industrial.
Oleh karena itu ideologi suatu negara maju tidak selalu cocok diterapkan pada negara tertentu. Karena, setiap bangsa memiliki perbedaan dan keunikan kultur masing-masing.
Hal yang terpenting adalah komitmen para pemimpinnya. Mahathir Muhammad dianggap sebagai pemimpin Malaysia yang berhasil walau ia memerintah dengan kecenderungan represif karena ia dapat membuktikan Malaysia semakin maju dan sejahtera di bawah kepemimpinannya.
Lee Kuan Yew, juga memerintah dengan pola represif. Namun, rakyat Singapura menerimanya, karena ia dapat membuktikan walau Singapura sebagai negara kota yang kecil, namun aset dan kekayaannya menyebar di belahan dunia.
Pemimpin dengan dorongan suara rakyat akan lebih menjamin mampu membangun suatu bangsa dan negara akan lebih baik karena mereka akan memimpin dengan suara hati dan keteladanan sebagai pemimpin yang memiliki integritas kokoh yang dapat memimpin semata-mata demi kepentingan bangsa dan negara. Bukan sekedar kepentingan kelompok dan kroninya maupun apalagi kepentingan pribadi dan keluarganya.
Sedangkan suara mayoritas kadang bisa bias karena bersifat jangka pendek dan cenderung lebih berorientasi pada kekuasaan semata. Sehingga, orientasi kepentingan bangsa dan negara kadang bercampur dengan orientasi kepentingan kekuasaan.
Eka Ambara HP
Jl Layur V/2 Minomartani
Yogyakarta 55581
Tlp 0274-7470894
eambara@yahoo.com
(msh/msh)











































