Saat asyiknya anak itu berlompatan, seorang ibu datang, dan dengan keras membentak anak itu. Bukan cuma itu, seperti belum puas dengan ekspresi kemarahannya yang memecahkan telinga, ibu itu menjewer, menarik, dan memukul kepala anak itu.
Saya hanya bisa mengelus dada menyaksikan si Nihonjin kecil dicaci maki dan dipukuli ibunya sendiri. Pemandangan seperti ini sebenarnya bukan hal luar biasa di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa tumbuh dan dibesarkan oleh orang tua yang tidak ringan tangan. Tidak mendidik dengan cara kekerasan sehingga nyaris saya tidak memiliki pengalaman buruk seperti yang dialami Nihonjin kecil ini atau seperti yang di alami oleh teman-teman masa kecil saya dulu.
Hari ini, saat negeri kita baru saja merayakan hari anak nasional, mungkin kondisinya masih belum terlalu jauh berbeda dari apa yang saya saksikan saat kecil dulu di Jakarta. Hanya pelakunya yang berganti.
Dahulu teraniaya kini giliran menganiaya. Perilaku kekerasan terhadap anak seperti sudah menjadi bakat turunan yang diwariskan oleh orang tua mereka. Bahkan, bukan hanya kekerasan fisik. Tapi, juga kekerasan mental dan intelektual.
Pada tahun 2007 saya bersama Balitbang Diknas melakukan penelitian mengenai pencapaian program wajib belajar sembilan tahun. Meski angka partisipasi kasar meningkat namun masih banyak orang tua yang memilih tidak menyekolahkan anaknya meski biaya sekolah telah digratiskan pemerintah.
Saat saya wawancara jawaban mereka sederhana. "Kalau anak saya pergi ke sekolah lalu siapa yang harus membantu saya ke sawah?" Jawaban yang sama juga dilontarkan orang tua yang bekerja sebagai nelayan dan pedagang.
Kelemahan orang tua anak menjadi korban. Begitulah kira-kira keadaannya. Tanpa sadar banyak orang tua telah melakukan kekerasan intelektual pada anaknya dengan tidak memberinya jalan keluar untuk menjadi manusia pembelajar.
Kekerasan fisik sudah cukup melukai perasaan dan hati anak-anak kita. Apa lagi jika diakumulasi dengan kekerasan mental dan intelektual. Tentu kita bisa membayangkan generasi pengganti seperti apa yang akan terjadi di negeri ini.
Mereka bukan hanya anak-anak yang lemah secara fisik. Melainkan juga mental dan intelektual. Padahal Allah SWT telah mengingatkan kepada kita "dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka ... " (QS 4:9).
Hari ini masih banyak anak-anak Indonesia yang mengalami kekerasan fisik, mental, dan intelektual. Kita dengan mudah menemukannya di pinggir-pinggir jalan, di perempatan lampu merah, di area parkir, di pinggir-pinggir rel kereta, di tempat-tempat pengumpulan sampah, maupun di pasar-pasar.
Pertumbuhannya dihambat oleh ketidakberdayaan ekonomi keluarga. Sementara pemerintah seakan tak berdaya melindungi mereka. Iklan gencar pendidikan yang bernilai triliunan tidak menyentuh. Apalagi mengubah pola fikir orang tua di desa-desa maupun di lapisan bawah di kota-kota. Mereka tetap tidak dapat terfikir bahwa pendidikan adalah instrumen penting untuk mengubah kehidupan.
Anak sesungguhnya bukan hanya amanah yang harus kita jaga. Melainkan juga karunia yang tak ternilai harganya. Coba perhatikan kalau kita bertemu dengan teman-teman lama kita. Apa yang mereka tanya pertama. Mereka tidak bertanya mobilnya, rumahnya, atau kekayaan materialnya. Tapi, yang pertama kali ditanya adalah anaknya sudah berapa.
Banyak orang yang berjuang keras memohon penuh harap agar dikaruniai anak. Namun, tidak sedikit yang belum beroleh karunia. Di sisi lain kita justru menyaksikan banyak orang tua yang dikarunia anak. Alih-alih memfasilitasi kebahagiaan mereka yang terjadi malah sebaliknya. Mereka menyia-nyiakannya, menganiayanya, mengeksploitasinya, bahkan membunuhnya.
Setelah 64 tahun merdeka sudah saatnya kita memberi ruang tumbuh yang memadai bagi anak-anak kita di Indonesia. Sudah saatnya kita memudahkan mereka menikmati sumber-sumber kebahagiaannya. Karena senyum mereka hari ini adalah tawa negeri esok hari.
Generasi kuat yang kita lahirkan dan kita bina hari ini akan menjadi penopang dari kokohnya negara dan bangsa kita esok hari. Semoga para pemimpin negeri juga menyadarinya. Mudah-mudahan.
Mukhamad Najib
The University of Tokyo, 4-6-41 Shirokanedai, Minato-Ku
mnajib23@yahoo.com
+81-90-982-10-982
(msh/msh)











































