Quo Vadis Kekayaan Laut

Quo Vadis Kekayaan Laut

- detikNews
Senin, 03 Agu 2009 09:52 WIB
Quo Vadis Kekayaan Laut
Jakarta - Sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam (natural resources endowment) di sektor kelautan dan perikanan melimpah kesejahteraan bangsa di negara kita tidak seharusnya berjalan di tempat. Atau tidak secepat dengan negara tetangga seperti yang terjadi dan dialami sekarang ini.Β 

Laut yang memiliki potensi dan kekayaan luar biasa seperti sumber daya ikan, bahan tambang, jasa lingkungan, wisata bahari yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Namun, belum mampu memerdekakan masyarakat pesisir dari keterpurukan, ketergantungan, dan kemiskinan.

Perjalanan panjang seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia dan kesadaran akan pentingnya kualitas gizi pangan telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia telah memanfaatkan potensi kelautan-perikanan. Permintaan produk kelautan-perikanan diperkirakan akan semakin tinggi. Perdagangan internasional untuk komuditas perikanan dan kelautan berkontribusi basar bagi pertumbuhan ekonomi negara

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indonesia termasuk negara di kawasan Asia Pasifik dengan tingkat konsumsi produk perikanan yang tinggi. Sekitar 87 persen pelaku kegiatan perikanan berada di Asia, yakni sekitar 41,4 juta orang.Β Β 

Sekitar 90 persen hasil perikanan budi daya dunia juga berasal dari kawasan Asia dan Pasifik, termasuk di dalamnya Indonesia, yakni sekitar 46,3 juta ton. Ada pun hasil tangkapan di laut sekitar 52 persen dari produksi penangkapan ikan dunia, atau 47,6 juta ton.

Kawasan ini juga dikenal sebagai produsen ikan terbesar di dunia dengan produksi sekitar 87,1 juta ton (FAO, 2006). Potensi lestari perikanan nasional mencapai 6,26 juta ton per tahun.Dari jumlah itu, 4,4 juta ton di antaranya berada di wilayah tangkap perairan Indonesia dan 1,8 juta ton lainnya berada di perairan ZEE.

Negara-negara Asia, termasuk Indonesia adalah Negara maritime yang memiliki peranan dan andil penting dalam perekonomian dunia. Pada tahun 2006 perdagangan dunia yang dilakukan melalui laut lebih dari 80 persen dengan nilai lebih dari 500 miliar dolar AS. Nilai tersebut diperkirakan akan meningkat mencapai 670 miliar dollar AS pada tahun 2011. Pertumbuhan perdagangan melalui laut tersebut akan meningkat dari 3,1 persen per tahun saat ini menjadi 44 persen pada tahun 2020 (Fauzi, 2009).

Pemanfaatan secara bijaksana dan bertanggung jawab sebagaimana tertuang dalam Code of Conduct for responsible Fishing (CCRF). Berbagai jenis sumber daya daya laut dan berbagai potensi dalam segala dimensi termasuk sebagai sumber devisa negara akan banyak mendatangkan keuntungan bagi masyarakat kita yang dapat dijadikan sebagai mainstream dan sebagai penggerak utama (prime mover) ekonomi nasional jika dikelola secara optimal.

Oleh karena itu sangat tepat revitalisasi sektor perikanan yang telah dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden HM Jusuf Kalla sejak Juni 2005 dengan target peningkatan produksi perikanan sebagai salah satu strategi pemerintah dalam upaya meningkatkan daya saing produk perikanan menuju pembangunan perikanan secara optimal dan berkelanjutan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan.

CTI (Coral Triangle Initiative)

Secara substansi Konferensi Kelautan Dunia (WOC) di Manado yang berlangsung 15 Mei 2009 lalu Indonesia menambah bobot poin dan posisi tawar dalam pergaulan dunia setelah berhasil dalam prakarsa Segi Tiga Terumbu Karang (CTI).Β  Coral Triangle (CT) atau segitiga terumbu karang dunia yang dipetakan mencakup Negara Indonesia,

Malaysia, Philpina, Papua New Gunea, Kepulauan Salomon, dan Timor Leste, dengan luas terumbu karang 75 ribu kilometer persegi. Indonesia sendiri memiliki luas terumbu karang sekitar 51 ribu kilometer persegi yang menyumbang lebih dari 21% luas terumbu karang dunia yang tentunya menyimpan potensi laut terbesar di dunia. Kawasan Coral Triangle juga dikenal sebagai "Amazone of the Sea". Atau biasa dipadankan dengan hutan tropis Amazone untuk lautan dan merupakan pusat keanekaraman dan kelimpahan kehidupan laut di planet bumi.

Pada kawasan ini ditemukan lebih enam ratus jenis karang (lebih dari 75% jenis karang yang dikenal). Lebih dari sekadar karang. Di kawasan segi tiga ini terdapat kurang lebih 3 ribu jenis ikan. Kawasan ini juga menjadi bentangan hutan mangrove terluas di dunia.

Segi tiga terumbu karang dunia yang sebagian besar ada di wilayah Indonesia tersebut menjadi pusat perkembangbiakan dan pertumbuhan ikan tuna, paus, kerang-kerangan, rumput laut, dan organisme laut lainnya yang memberi manfaat bagi hampir seluruh negara di dunia. Setidaknya, lebih dari 120 juta penduduk tinggal di pesisir pantai hidup dari sumber daya alam kawasan segi tiga terumbu karang. Nilai ekonomi yang bisa diraih per tahunnya mencapai 2,3 miliar dolar AS atau 21 triliun lebih.

Di tengah eforia sukses dalam pelaksanaan WOC yang baru-baru ini berlangsung dihadiri oleh Kepala Pemerintahan yang memiliki wilayah laut dan pantai, ilmuwan, LSM, wartawan, pihak swasta, dan para pemangku kepentingan (stake holders) yang mejadi bagian dari komunitas kelautan dunia dan para ahli lingkungan peran strategis dan prospek yang cerah dari ekosistem terumbu karang menyimpan berbagai kekhawatiran dan kendala serta ancaman terhadap kapasitas keberlangsungan (sustainable capacity) ekosistem ini dalam menunjang kesinambungan pembangunan. Oleh karena itu Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia harus mengambil peran penting dan melanjutkan kepeloporan dalam hal pengelolaan sumber daya alam laut.

Keterpurukan dan penurunan hasil produksi perikanan tangkap yang dialami Indonesia yakni penangkapan yang berlebihan (overfishing) dan pencurian ikan yang merugikan ditaksir mencapai Rp 30 triliun per tahun terus marak dan telah menurunkan kapasitas produksi tangkap secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini.Β 

Sebagai negara bahari dengan kekayaan sumber daya yang melimpah ekspor hasil kelautan dan perikanan Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara di Asia. Ketertinggalan Indonesia sungguh ironis. Vietnam adalah negara yang sekarang ini menguasai pasar perikanan di Uni Eropa yang dikenal memiliki persyaratan mutu yang sangat ketat dan borometer pasar dunia dengan tingkat pertumbuhan industri perikanan rata-rata 19,4 persen dalam 10 tahun terakhir ini.

Rumput Laut

Budi daya rumput laut yang menurut sejarahnya diteliti sejak abad ke 18 pada Ekspedisi Sibolga oleh pemerintah Hindia Belanda (1890-1900) berhasil mengidentifikasi kurang lebih 550 jenis rumput laut di perairan laut Indonesia. Rumput laut merupakan aset ekonomi negara yang dapat dimanfaatkan menjadi sumber pangan dan sumber energi yang dapat diandalkan untuk menghasilkan devisa negara. Selain menggunakan teknologi budi daya yang mudah dan sederhana masa tanam yang pendek (hanya 45 hari) atau quick yield. Biaya per unit produksi sangat murah, dan permintaan pasar yang tinggi.

Menurut catatan Pusat Data Statistik dan Informasi (2008), selain sebagai sumber pangan, berdasarkan hasil penelitian rumput laut juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi, yaitu sebagai bahan untuk biofuel yang harus didukung dan dikembangkan. Mikro alga sebagai biodisel dinilai lebih kompetitif dibandingkan komoditas lainnya. Satu ha lahan mikro alga dapat menghasilkan 58.700 liter (30 persen minyak) per tahunnya atau jauh lebih besar dibandingkan jagung (172 liter/ tahun) dan kelapa sawit (5.900 liter/ tahun).

Ketika pemerintah khususnya Departemen Kelautan dan Perikanan mencanangkan revitalisasi perikanan dan kelautan dengan memacu produksi beberapa komoditas unggulan nasional yang salah satu di antaranya adalah rumput laut ini menjadikan harapan baru bagi masyarakat pesisir Indonesia. Selain mengandalkan hasil perikanan tuna yang sekarang ini mencapai volume ekspor nasional sebanyak 88.791 ton dalam bentuk olahan dan ikan segar ke Uni Eropa salah satu peluang pengembangan perikanan yang dapat dijadikan benchmark bagi revitalisasi perikanan nasional adalah pengembangan budi daya rumput laut.

Rumput laut juga merupakan komoditas yang cocok untuk dikembangkan di Indonesia yang memiliki luas area 1,1 juta hektar untuk kegiatan budi daya rumput laut. Tetapi, saat ini lahan yang dimanfaatkan baru mencapai 222 ribu hektar.

Beberapa keunggulan rumput laut seperti peluang ekspor yang cukup besar, harga yang relatif stabil, belum adanya quota perdagangan bagi rumput laut, teknologi pembudidayaannya sederhana sehingga mudah dikuasai. Menurut menteri kelautan dan perikanan dalam pembukaan 1st Seaweed International Business Forum and Exhibition di Makassar pada Oktober 2008 lalu yang dihadiri oleh perwakilan dari beberapa negara, dalam program revitalisasi perikanan budidaya, sasaran produksi rumput laut pada 2009 adalah 1,90 juta ton. Strategi pencapaiannya melalui pola pengembangan kawasan dengan komoditas Euchema sp. dan Gracilaria sp.

Luas lahan pengembangan yang diperlukan sampai 2009 sekitar 25.000 ha, 10.000 ha di antaranya untuk Gracilaria sp dan 15.000 ha untuk Euchema sp. Sulawesi Selatan khususnya ternyata menyimpan potensi besar dalam hal budi daya rumput laut, Pada tiga tahun terakhir 2005-2008 produksi rumput laut menunjukkan tren peningkatan.

Sulawesi Selatan mengklaim tahun lalu telah menjadi produsen rumput laut terbesar di Indonesia dengan volume 640.296 ton dan telah tercatat sebagai penghasil rumput laut terbesar kedua di dunia dengan potensi lahan 250 ribu hektar di pinggir laut dan 98 ribu hektar areal budiya. Dari areal itu Sulawesi Selatan menghasilkan sekitar 25 ribu ton per tahun. Penghasil rumput laut terbesar dunia adalah Chile dengan produksi sekitar 50 ribu ton per tahun.

Selama ini hasil produksi rumput laut Indonesia sebagian besar masih diperdagangkan sebagai bahan baku. Untuk itu perlu upaya untuk mengolah menjadi bahan lain yang bernilai lebih tinggi agar nilai tambah yang dimiliki rumput laut dapat dimanfaatkan
di dalam negeri.

Andi Iqbal Burhanuddin
Ketua Jurusan Ilmu Kelautan FIKP-Unhas


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads