Sungguh mencengangkan hasil perolehan suara pilpres 8 Juli 2009 lalu. Tidak disangka-sangka perolehan suara pasangan calon presiden (capres) SBY-Boediono sanggup meninggalkan jauh perolehan suara sementara rival politiknya Mega-Prabowo, dan pasangan capres JK-WIN. Kemenangan SBY-Boediono tidak hanya berlaku di Sumatera Barat. Namun, sampai kebeberapa wilayah di Indonesia.
Pasangan JK-WIN sebelumnya diprediksi akan menyaingi perolehan suara SBY-Boediono jauh dari yang diharapkan. Malah untuk pilpres 2009 ini perolehan suara JK-WIN dengan kendaraan mesin politik dan tim koalisinya anjlok total. Ironis sekali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan perolehan hasil suara menurut persi Quick Count pilpres 2009 Lembaga Survei Indonesia (LSI 1) --terakhir dipostingkan sejak Jumat (10/7/09) pukul 11:27:45, menyatakan perolehan suara pasangan capres Mega-Prabowo 26,56%, pasangan capres SBY-Boediono 60,85%, dan pasangan capres JK-WIN 12,59%.
Lembaga Lingkaran Survei Indonesia LSI (2) menyebutkan pasangan capres Mega-Prabowo 27,36%, pasangan capres SBY-Boediono 60,15%, dan pasangan capres JK-WIN 12,49%. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menyebutkan pasangan capres Mega-Prabowo 27,40%, pasangan capres SBY-Boediono 60,28%, dan pasangan capres JK-WIN 12,32%.
Begitu juga untuk Lembaga Puskaptis menyatakan suara pasangan capres Mega Prabowo 28,16%, pasangan capres SBY-Boediono 57,95%, dan pasangan capres JK-WIN 13,89%. Lembaga CIRUS menyebutkan suara pasangan capres Mega-Prabowo 27,49%, pasangan capres SBY-Boediono 60,20%, dan pasangan capres JK-WIN 12,31%. Terakhir Lembaga Riset Informasi (LRI) suara pasangan capres Mega-Prabowo 27,02%, pasangan capres SBY-Boediono 61,11%, dan pasangan capres JK-WIN 11,87%.
Pemilu 8 Juli 2009 kali ini betul-betul dahsyat jika dibandingkan pemilu yang ada sepanjang sejarah perjalanan sebuah bangsa. Pelaksanaan pemilu terlaksana secara demokratis. Ungkapan "Suara rakyat suara Tuhan" benar nyata dan terjadi. Saat ini rakyat yang menentukan siapa pemimpin layak dan siapa pemimpin tidak patut dipilih. Masih ingat bagaimana perjalanan pemilu Legislatif 2009 sebelum pemilu Pilpres 2009 ini.
Dengan adanya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan uji materi UU No 10 Tahun 2008 tentang penetapan anggota legislatif Pemilu 2009 dengan suara terbanyak memberikan angin segar bagi demokrasi di Indonesia. Artinya, ada kesempatan dan peluang kepada semua caleg untuk berkompetisi menjadi wakil rakyat. Terpilih atau tidaknya caleg tergantung usaha sang caleg untuk mempopulerkan diri dan meraih simpati masyarakat.
Inilah wajah demokrasi Indonesia sesungguhnya pada tahun 2009 ini. Rakyat
mendapatkan wakil atau pemimpinnya berdasarkan pilihan mereka. Artinya, rakyat memilih pemimpin tidak beli kucing dalam karung. Berbeda sekali dibandingkan dengan Pemilu 2004 lalu.
Kebebasan berdemokrasi benar-benar dirasakan bagi rakyat maupun para calon sekarang. Bahkan, jelang pilpres "Black Campaign" menjadi isu menarik antar kandidat capres. Begitu juga isu debat capres untuk ditonton masyarakat.
Perang opini atau isu jelang pilpres dominan dilakukan pasangan masing-masing
capres. Bahkan, paling sering perang statement adalah SBY-JK. Menurut salah seorang pengamat JK dianggap mempunyai statement negatif selama proses kampanye pemilu presiden. Isu jilbab, BLT, Pengeluaran dana lebih banyak untungkan konglomerat dan pejabat, tidak pro rakyat, neolib, dan sebagainya dimainkan.
Bahkan, pendapat tentang saling serang capres dan cawapres berdampak pada kehilangan suara konstituen setianya juga menaikkan jumlah golput. Tampaknya, tidak benar. Ternyata suara golput ditakutkan hilang menurut pengamat selama ini malah lari kepada pasangan SBY-Boediono.
Sekali lagi "Voc Pupoli Voc Dei" pada pilpres 2009 ini benar-benar nyata. Sebagian masyarakat memprediksi JK-WIN akan mengungguli pasangan lain seperti SBY-Boediono dan Mega-Prabowo bertolak belakang dari diharapkan. Bahkan, prediksi tim sukses JK-WIN rang sumando Sumatera Barat (Sumbar) mentargetkan kemenangan di seluruh kabupaten/kota dan target suara di atas 50 persen suara masyarakat Sumbar akan diberikan kepada pasangan JK-Wiranto. Ternyata sirna.
Kata kuncinya dalam pemilihan presiden kemarin ini adalah rakyat telah dewasa. Rakyat tidak bisa lagi disamakan dengan pemilu masa Orde Baru (Orba) yang penuh dengan paksaan, retorika, dan seremonial. Kepercayaan dan amanah diberikan kepada SBY.
Untuk pilpres 8 Juli 2009 telah selesai dilaksanakan. Hampir seluruh lembaga quick count menyatakan kemenangan SBY dengan satu putaran. Meskipun keputusan suara resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum siap. Namun, secara
pasti hasil akhir penghitungan manual nanti tidak jauh dari prediksi perhitungan cepat ditayangkan media elektronik.
Incumbent dipastikan menang dalam pemilu ini. Namun, pemenang sejati dari pemilu kali ini adalah rakyat. Rakyat begitu dewasa dalam berdemokrasi termasuk dalam menerima hasil keputusan suara sementara pilpres. Hingga saat ini seminggu usai helat akbar pesta demokrasi lima tahunan ini tidak ada masyarakat yang komplain atau memberikan reaksi negatif terhadap hasil suara di seluruh wilayah Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke.
Pelaksanaan pilpres 2009 ini berjalan aman dan kondusif. Tidak sama seperti pemilu Iran 2009 lalu berjalan tidak lancar dan tidak kondusif. Pemilu dimenangi Presiden Mahmoud Ahmadinejad mutlak dengan 63% suara. Sementara Mousavi hanya mendapat 33% suara.
Hal inilah yang memicu protes besar-besaran dari penduduk Iran. Terutama yang berada di Ibu Kota Teheran. Kerusuhan besar terjadi dan korban-korban berjatuhan. Kerusuhan disinyalir adanya campur tangan pihak asing terhadap masalah internal Negara Iran.Β
Kalaulah hasil keputusan suara pilpres sudah disahkan oleh KPU secara resmi dan pemenangnya adalah pasangan SBY-Boediono, artinya, rakyat betul-betul memberikan amanah dan tanggung jawab besar kepada SBY-Boediono. Harapan rakyat hanya satu jika SBY menang yakni segala janji-janji yang disampaikannya dalam orasinya pada kampanye akbar di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan Jakarta jelang pemilu dapat direalisasikan.
Ada sebanyak 15 janji yang perlu diingat SBY-Boediono dalam pemerintahan periode 2009-2014 nanti. Ke-15 janji tersebut:
Pertama, melakukan pertumbuhan ekonomi minimal 7 persen sehingga kesejahteraan rakyat meningkat.
Kedua, kemiskinan yang diharapkan turun hingga 10 persen, terutama meningkatkan pembangunan pertanian, perdesaan dan program pro rakyat.
Ketiga, pengangguran turun hingga 6 persen dengan cara meningkatkan peluang lapangan pekerjaan dan peningkatan penyaluran modal usaha rakyat (KUR).
Keempat, peningkatan pendidikan, yakni infrastruktur dan kesejahteraan guru, persamaan perlakuan sekolah negeri-swasta-agama dan melanjutkan sekolah gratis bagi tidak mampu.
Kelima, masalah kesehatan akan terus melakukan pemberantasan penyakit menular dan melanjutkan pengobatan gratis bagi tidak mampu.
Keenam, akan meningkatkan swasembada pangan, yakni swasembada beras dipertahankan dan akan dilanjutkan swasembada daging sapi dan kedelai.
Ketujuh, penambahan energi daya listrik secara nasional dan BBM.
Kedelapan, pemerataan pembangunan infrastruktur.
Kesembilan, peningkatan pembangunan rumah rakyat.
Kesepuluh, pemeliharaan lingkungan terus ditingkatkan seperti dengan reboisasi lahan.
Kesebelas, meningkatkan kemampuan pertahanan dan keamanan, serta modernisasi alustsista TNI/ Polri.
Keduabelas, reformasi birokrasi, pemberantasan korupsi terus ditingkatkan.
Ketigabelas, otonomi daerah dan pemerataan daerah ditingkatkan. Keempatbelas, demokrasi dan penghormatan terhadap HAM makin ditingkatkan.
Terakhir kelimabelas, meningkatkan peran Indonesia makin ditingkatkan di dunia internasional.
Muslim SHI
muslimfriendly@yahoo.com
081396160814
Penulis adalah Mahasiswa Program S2 di Malaysia.
(msh/msh)











































