Sejauh ini sudah diidentifikasi lima dari sembilan jenazah korban bom di kedua hotel tersebut. Sementara sebanyak 53 orang mengalami luka. 16 di antaranya warga negara asing. Termasuk Australia, Amerika Serikat (AS), dan Selandia Baru.
Dugaan kuat tampaknya mulai diarahkan pada pelaku yang disinyalir berafiliasi pada Jemaah Islamiyah yang digerakkan oleh Noordin M Top. Opini singkat ini hanya bertujuan urun rembug pemikiran mengenai terorisme agama. Tepatnya terorisme yang mengatasnamakan Islam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mungkinkah kita menyepakati suatu definisi operasional tentang terorisme? Walter Lacquer (2002) dalam bukunya The Age of Terrorism, menyatakan 'No definition of terrorism can possibly cover all the varieties of terrorism that have appeared through history'. Meskipun demikian terdapat ciri umum terorisme moderen (Juergensmeyer, Lacquer dan Hoffman) yaitu kekerasan, bermotif agama, dan juga bertendensi menggunakan senjata pemusnah massal.
Karenanya, satu unsur utama defenisi teror adalah kekerasan yang berakibat penyebarluasan rasa ketakutan dalam masyarakat. Kadangkala ketakutan ini segera berpadu dengan amarah jiwa ketika kita menemukan aksi teror tersebut dijustifikasi oleh agama.
Kebanyakan orang akan merenung bukankah agama seharusnya menyediakan atmosfir kesejukan dan perdamaian. Bukan teror. Lantas, kenapa orang yang beragama melakukan kekerasan dengan justifikasi agama?
Aksi-aksi terorisme agama mulai membetot perhatian dunia di pungkasan abad kedua puluh. Pada tahun 1998, Madelaine Albright, mantan Sekretaris Negara AS, merilis daftar 30 kelompok teroris, yang separuhnya bermotif agama, yaitu Yahudi, Islam, dan Budha.
Menurut RAND-St Andrew Chronology of International Terorism, angka kelompok terorisme agama meningkat dari 16 kelompok menjadi 26 kelompok pada tahun 1994. Dari 49 kelompok menjadi 56 kelompok di tahun berikutnya. Selanjutnya, Warren Christhoper, mantan Sekretaris Negara AS, menegaskan berbagai teror agama dan etnik adalah ancaman utama keamanan dunia.
Identifikasi Islam dengan Terorisme
Islam adalah agama yang paling disalahpahami Barat. Aneka cemoohan, seperti Islam kejam, iblis, dan tidak beradab, sering dilontarkan Barat. Menurut Reuven Firestone (1999), sejak Islam berhasil dengan gemilang menaklukkan Andalusia (sekarang Spanyol) di awal abad ke delapan, dan juga Turki Utsmani yang sukses menyerang kota Wina tahun 1683, Islam dihakimi mengancam eksistensi kerajaan Kristen.
Selain itu, menurut Bruce B Lawrence (1998), "Pandangan negatif mengenai Islam, oleh karena dominannya pemikiran pandangan kedua mengenai Islam. Dalam pandangan tersebut, Islam didefenisikan berasal dari satu "Arab" Timur Tengah yang penuh permusuhan. Bahkan, Max Weber, proponen akademisi studi sosiologi, menyatakan Islam adalah suatu agama perang (warrior religion).Β Β Β Β Β Β Β Β
Dalam dunia realitas terdapat berbagai upaya sistematis mengidentikkan terorisme dan Islam. Mustafa Al Sayyid mensinyalir daftar teroris yang dirilis oleh Pemerintah Amerika Serikat hanya menampilkan organisasi teroris di Negara Muslim, dan saat yang sama mengabaikan organisasi serupa di Negara non-Muslim (misalnya Spanyol, Irlandia Utara dan Amerika latin). Selain itu, terdapat kecenderungan melabeli tindakan teror perorangan sebagai "teroris Muslim".
Suatu hambatan utama ketika menganalisa nexus antara terorisme dan Islam adalah kebanyakan pelaku teror di belahan dunia Barat sering mengklaim motif agama sebagai basis aksi kebiadaban --paling tidak mengidentifikasi diri sebagai Muslim. Sementara sebagian besar Muslim percaya AS memberlakukan standar ganda dalam menyoroti pelaku teror Muslim. Selain itu, keyakinan Barat akan adanya koneksi fundamentalis Muslim dengan terorisme, atau tuduhan tanpa bukti selalu menuai resistensi yang berwujud aksi teror atas nama Tuhan.
Islam Bukan Agama Teror
Seperti dijelaskan di atas ada kecenderungan untuk menggeneralisasi Islam sebagai agama teroris berdasar pada aksi teror individu. Padahal menggambarkan Islam sebagai sesuatu yang seragam dan tunggal adalah suatu pandangan yang keliru.
Menurut Bruce B Lawrence, Islam adalah banyak hal, dan tidak ada Islam yang monolitik. Bahkan, Islam, menurut Hodgson, memiliki watak kosmopolitanisme yang menjanjikan responsi yang sangat kuat terhadap tantangan modernitas. Islam, dalam kandungan ajarannya yang murni, tidak pernah menganjurkan teror. Jika dalam dunia realitas, sering terjadi aksi-aksi teror atas nama Islam, maka harus dipahami pelaku aksi tersebut mendistorsi atau mereduksi moralitas Islam yang cinta damai.
Dinyatakan secara berbeda, Islam, sebagai rahmatan lil 'alamin, telah dibajak
untuk kepentingan nista pelaku teror. Dus, Islam diadopsi lebih sebagai ideologi politik yang mendorong konflik. Bukan sebagai etik perdamaian.
Sebagai kesimpulan, Islam tidak menganjurkan pemapanan suatu surga komunal, yaitu membangun kerajaan Tuhan di bumi (the Kingdom of God on the earth). Karenanya, mari membangun etik dan moralitas sejati agama: perdamaian semesta.
Ridwan al-Makassary
Jl Tanjung Lengkong RT 009/07
Bidara Cina Jakarta Timur
almakassary@yahoo.com
0817853612
Penulis adalah Koordinator Program Islam dan Human Rights di Center for Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
(msh/msh)











































